Apakah Bayi Bisa Mengalami Alergi ASI? Ini Penjelasannya

Apakah Bayi Bisa Mengalami Alergi ASI? Ini Penjelasannya,- www.pengobatanalergi.com – ASI merupakan sumber makanan utama bagi bayi untuk mendukung tumbuh kembangnya. Namun, apakah ibu pernah mendapati si kecil rewel atau mengalami ruam di kulit setelah menyusu? Hal ini bisa saja menjadi pertanda bahwa bayi mengalami alergi ASI.

Alergi ASI

Apakah bayi bisa mengalami alergi ASI?

Memberikan ASI secara eksklusif selama 2 tahun pertama sering kali disarankan untuk membantu tumbuh kembang bayi. Namun, sayangnya ada berbagai halangan yang sering kali timbul pada masa menyusui, salah satunya yaitu bayi mengalami alergi ASI.

Namun, Anda tidak perlu khawatir, karena umumnya ASI tidak akan menyebabkan alergi pada bayi. Faktanya, hanya sedikit seklai bayi yang mengalami reaksi alergi ketika mengonsumsi ASI.

Sayangnya, banyak yang salah kaprah menganggap bahwa bintik merah yang timbul akibat bayi terpapar atau terkena ASI secara langsung. Padahal, yang terjadi adalah bayi sensitif terhadap asupan tertentu yang dikonsumsi si ibu dan sampai ke bayi melalui ASI.

Oleh karena itu, ibu harus mencari tahu makanan apa sebenarnya yang bisa menyebabkan alergi bagi si kecil. Jika penyebab alergi tersebut telah diketahui, maka sebaiknya hindari makanan tersebut atau minimal kurangi konsumsinya.

Meskipun reaksi setiap bayi terhadap makanan yang dikonsumsi ibu berbeda-beda, namun makanan dan minuman tertentu memang bisa memberikan rasa dan pengaruh berbeda pada ASI ibu.

Beberapa jenis makanan yang sebaiknya dicermati karena kemungkinan menjadi pemicu timbulnya reaksi alergi pada bayi, seperti diantaranya brokoli, coklat, bawang, cabai, dan produk olahan susu. Selain itu, bayi juga bisa mengalami alergi setelah minum ASI jika ibu mengonsumsi minuman yang mengandung kafein, susu sapo, dan minuman yang mengandung alkohol.

Gejala Alergi ASI Pada Bayi

Gejala ringan atau yang sering terjadi akibat alergi yaitu eksim (eksema) pada kulit yang terjadi pada daerah-daerah khas atau atopi, seperti di daerah pipi saja atau di daerah-daerah lipatan saja (seperti siku dan lutut) berupa bintik-bintik kecil dan bisa juga disertai dengan warna yang memerah.

Bayi yang mengalami alergi ASI juga bisa mengalami gumoh (seperti muntah) yang terjadi secara spontan. Namun, terdapat perbedaan antara gumoh dengan muntah, dimana gumoh biasanya hanya sedikit cairan yang dikeluarkan serta tidak disertai dengan kontraksi otot perut. Gumoh ini dikatakan normal jika frekuensi terjadinya sekitar 1-4 kali sehari.

Namun, jika bayi mengalami gumoh lebih dari frekuensi normal, maka ibu harus waspada dan periksakan si kecil ke dokter, karena bisa jadi bayi mengalami alergi susu. Tidak hanya itu, gumoh yang tidak ditangani dengan baik dikhawatirkan ada air susu yang masuk ke lambung saat gumoh. Di dalam lambung terdapat asam lambung, sehingga jika air susu tercampur dengan asam lambung dan masuk ke paru-paru akan menyumbat saluran napas. Terlebih lagi terjadi dalam frekuensi yang sering diatas 4 kali sehari.

Jika bayi diketahui mengalami alergi ASI, maka langkah yang seharusnya diambil bukanlah menghentikan pemberian ASI eksklusif, namun menghentikan makanna yang bisa menyebabkan terjadinya alergi tersebut.

Jika pemberian ASI ini dihentikan dan diganti dengan susu formula, justru akan semakin mengurangi nilai gizi yang diterima oleh bayi. Karena bagaimana pun nilai gizi yang terkandung didalam ASI tidak bisa digantikan oleh susu formula. Selain itu, penggunaan susu formula juga bisa menyebabkan bayi enggan untuk menyusu ASI kedepannya. Semoga bermanfaat.

Apakah Anak Kembar Identik Memiliki Alergi yang Sama?

Apakah Anak Kembar Identik Memiliki Alergi yang Sama?,- www.pengobatanalergi.com – Siapapun bisa mengalami alergi, termasuk anak-anak. Pada sebagian besar kasus, alergi merupakan kondisi gangguan kesehatan yang diturunkan dari orangtua ke anak. Data menunjukkan bahwa risiko alergi anak meningkat sekitar 2-4 kali lipat jika keluarganya memiliki riwayat alergi.

Risiko anak mengalami alergi akan semakin tinggi jika ibu atau kedua orangtuanya juga memiliki alergi. Penelitian menunjukkan bahwa anak dari orangtua yang alergi kacang berisiko 7 kali lipat memiliki alergi yang sama dibandingkan dengan anak yang orangtuanya tidak memiliki alergi kacang.

Jika faktor genetik atau keturunan menjadi salah satu pemicu alergli pada anak, apakah anak kembar identik akan memiliki alergi yang sama?

Alergi Pada Anak Kembar Identik

Meskipun kembar identik berasal dari satu zigot (hasil pembuahan satu sperma dan satu sel telur) yang sama dan akhirnya membelah dua, namun anak kembar identik tidak sepenuhnya sama persis dalam segala hal. Mereka tentu masih memiliki jenis kelamin sama, golongan darah yang sama, dan secara fisik pun terlihat hampir seperti hasil salinan.

Namun, rantaian genetik tidak sepenuhnya stabil. Mutasi genetik bisa terjadi setiap saat, bahkan di masa kehamilan, dan ini bisa dipengaruhi oleh banyak hal yang berbeda. Oleh karena itu, ketika zigot membelah, beberapa karakteristik anak kembar identik juga terkadang bisa berbeda.

Perubahan genetik ini pun berlanjut seiring mereka tumbuh besar karena faktor paparan lingkungan yang berbeda. Ini berarti sekalipun anak kembar lahir identik, secara genetik mereka bisa berbeda seiring dengan bertambahnya usia.

Jadi, apakah anak kembar identik memiliki alergi yang sama?

Anak kembar identik memang berbagi rangkaian DNA yang sama, sehingga mereka lebih cenderung berbagi jenis alergi yang sama dibandingkan dengan kembar fraternal. Namun, ini tidak ototmatis terjadi pada setiap kasus. Walaupun gen mereka identik, namun kecil kemungkinannya untuk setiap anak kembar identik memiliki jenis alergi yang sama persis.

Sebuah penelitian lain yang dilakukan Mt. Sinai School of Medicine, mengklaim bahwa faktor genetik menyumbang 81,6% pada risikoa lergi kacang tanah. Hal ini diperkuat oleh kelompok peneliti di Inggris yang menyebutkan bahwa alergi tersebut diwariskan sebanyak 82% sampai 87%. Para peneliti ini juga menyebutkan ketika faktor genetik diabaikan, maka persentasenya turun menjadi 18,99%.

Penelitian lain mengamati sebanyak 58 pasang anak kembar, yang terdiri dari 44 pasang kembar fraternal (dua sperma dan dua sel telur menghasilkan dua embrio berbeda) dan 14 pasang kembar identik. Di setiap kelompok anak kembar, setidaknya satu dari dua orang ini memiliki riwayat alerti kacang. Keseluruhan anak kembar ini diamati tanda-tanda reaksi alergi yang dialaminya, termasuk gatal-gatal, batuk, muntah dan diare dalam waktu 60 menit setelah makan kacang.

Hasilnya, pada anak dengan kembar fraternal, kemungkinannya untuk memiliki alergi yang sama hanya sebesar 7%. Sedangkan pada kembar identik kemungkinannya bisa mencapai 65%.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa anak kembar identik lebih mungkin sensitif terhadap alergen yang sama. Hanya saja, gejala yang timbul bisa menyeruak dengan cara berbeda. Misalnya, ketika satu anak mengalami ruam kulit saat alergi kacang yang dialaminya kambuh, kembarannya mengalami gangguan pernapasan (sesak napas atau batuk-batuk).

Perbedaan gejala ini pun dipengaruhi oleh banyak hal. Salah satunya yaitu cara kerja sistem imun tubuh dan sensitivitasnya terhadap paparan alergen (pemicu alergi). Sistem imun masing-masing anak kembar akan berkembang dan bereaksi dengan cara yang berbeda, khususnya pada tahun-tahun awal.

Hal yang penting diketahui, yaitu bahwa genetika dan lingkungan sama-sama berpotensi menjadi faktor utama dalam menyebabkan alergi. Walaupun begitu, ketika terjadi reaksi alergi yang tidak biasa atau mengkhawatirkan, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Waspada! Anak Alergi Berisiko Terkena Penyakit Jantung

Waspada! Anak Alergi Berisiko Terkena Penyakit Jantung,- www.pengobatanalergi.com – Alergi merupakan salah satu gangguan kesehatan yang cukup sering dialami oleh anak, baik itu alergi makanan, alergi susu, atau jenis alergi lainnya. Namun, Anda harus waspada, karena anak alergi berisiko terkena penyakit jantung. Benarkah demikian ?

Terdapat bukti terbaru yang menghubungkan antara asma, hay fever, dan eksim pada anak-anak dengan masalah jantung di usia dewasa.

Anak Alergi

Mengapa Anak Alergi Berisiko Terkena Penyakit Jantung?

Alergi merupakan penyakit ketiga paling umum dialami oleh anak-anak. Alergi memang bisa membuat anak merasa tidak nyaman. Bahkan, terkadang reaksi alergi yang timbul bisa membuat si kecil menderita.

Belum lama ini, para ilmuwan mengatakan bahwa alergi mungkin memiliki efek yang lebih besar untuk memengaruhi kesehatan anak-anak, bahkan orang dewasa sekaligus. Alergi kronis pada anak bisa menyebabkan penyakit jantung di masa depan.

Menurut Dr. Jonothan Silverberg dari Northwesten University, Multidisciplinary Eczema Center, menyebutkan jika anak-anak yang mengidap asma, eksem, dan hay fever memiliki kemungkinan untuk terserang obesitas. Lebih buruk lagi, anak-anak dengan alergi juga berisiko memiliki hipertensi dan kolesterol, dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki alergi. Hal-hal tersebut merupakan faktor yang bisa memicu timbulnya penyakit jantung.

Secara biologis, penyakit alergi mungkin melibatkan peradangan. Menurut Silverberg, peradangan juga terlibat dalam banyak faktor dari penyakit jantung.

Silverberg dan tim peneliti mengaku tidak berpikir bahwa hal-hal tersebut bisa mengandalikan penyakit jantung. Namun, mereka mulai melihat koneksi diantara penyakit-penyakit tersebut berpengaruh terhadap timbulnya masalah jantung.

Meskipun penelitian menemukan hubungan natara kondisi alergi dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, namun tidak disebutkan hubungan sebab-akibat antara keduanya. Masih belum jelas apakah mengobati alergi bisa menurunkan risiko anak untuk terserang penyakit jantung.

Bahkan, kesimpulan sementara tentang hubungan antara alergi dengan penyakit jantung pada anak masih dianggap kontroversial. Dunia medis masih memerlukan kesimpulan dari haril penelitian-penelitian dengan topik masalah yang sama.

Perlu diketahui, anak-anak dengan alergi cenderung lebih banyak berdiam diri dan kurang aktif secara fisik. Jika mereka banyak melakukan berbagai aktivitas, seperti keluar rumah atau melakukan olahaga, maka hal tersebut justru bisa memperburuk gejala alergi yang timbul.

Awas! Ternyata Alergi Makanan Bisa Picu Kecemasan Pada Anak

Awas! Ternyata Alergi Makanan Bisa Picu Kecemasan Pada Anak,- pengobatanalergi.com – Alergi makanan merupakan salah satu jensi alergi yang cukup sering dialami oleh anak. Terdapat beberapa jenis makanan yang bisa memicu timbulnya reaksi alergi pada anak, seperti diantaranya ikan, susu, telur, kacang-kacangan, dan lainnya. Tidak sedikit orang yang menganggap jika alergi merupakan penyakit yang ringan dan tidak berbahaya. Padahal, jika kondisi ini terus dibiarkan bisa menimbulkan dampak yang fatal.

Ruam, gatal, bengkakak, pusing, bahkan pingsang merupakan beberapa gejala alergi makanan yang biasa timbul. Alergi juga bisa menyebabkan bronchospasm, yaitu penyempitan pada saluran pernafasan. Jika tidak segera ditangani, maka kondisi ini akan berujung pada kematian.

Namun, selain itu, ternyata diketahui bahwa alergi makanan pada anak juga bisa menyebabkan kecemasan. Anak-anak dengan alergi makanan memiliki prevalensi kecemasan di masa kecil yang jauh lebih tinggi. Namun, alegi makanan tidak terbaik dengan gejala depresi di masa kecil.

Tim peneliti di Amerika Serikat mempelajari sekitar 80 pasien anak yang berusia 4 sampai 12 tahun, rata-rata sampel yang berusia 8 tahun dengan atau tanpa alergi makanan dan meneliti pengasuh mereka dari klinik rawat jalan pediatrik di Bronx, New York. Mereka mengendalikan diagnosis asma pada anak-anak karena kegelisahan dan gangguan mood lebih umum terjadi pada anak-anak minoritas sosio ekonomi rendah.

57% diantara anak-anak yang memiliki alergi makanan dilaporkan memiliki gejala kecemasan dibandingkan dengan 48% anak tanpa alergi makanan.

Penulit utama penelitian, Renee Goodwin PhD, di Departement of Epidemiologi di Mailman School of Public Health, menjelaskan jika pengelolaan alergi makanan bisa mahal, baik dari segi belanja makanan, persiapan makan, danbiaya injeksi intra auto epinefrin, yang kadaluwarsa setiap tahunnya.

Tuntutan ini tentu bisa menyebabkan tingkat kecemasan yang lebih tinggi bagi mereka yang memiliki sumber daya keuangan yang lebih sedikit dan meningkatkan kecemasan lebih lanjut. Gejala bisa timbul pada anak-anak dan pengasuh mereka.

Baca juga : Pengobatan Alergi Karena Makanan untuk Anak dan Dewasa

Para peneliti juga menemukan adanya hubungan antara alergi makanan dengan kecemasan yang dialami oleh anak dan menyebabkan ketakutan pada penolakan sosial.

Terdapat sejumlah penjelasan yang mungkin berhubungan antara diagnosis alergi makanan dan meningkatnya masalah kecemasan sosial pada sampel pasien anak-anak ini. Pengelolaan kondisi yang berpotensi mengancam jiwa mungkin akan menimbulkan kecemasan, dan beberapa anak mungkin mengalami kecemasan sosial yang meningkat tentang ‘berbeda’ dari anak-anak lain tergantung pada usia mereka dan bagaimana alergi makanan dikelola oleh orang dewasa dalam situasi tertentu.

Maka dari itu, bisa disimpulkan bahwa alergi makanan dengan gejala depresi di masa kecil atau dengan gejala kecemasan dan depresi diantara masa pengasuh mereka tidak berhubungan secara signifikan.

Diperlukan penelitian yanglebih lanjut agar hasilnya lebih optimal. Juga perlu dilakukan penelitian terhadap hubungan antara remaja usia lanjut dan dewasa muda yang memiliki alergi makanan dengan terjadinya depresi.

Benarkah Anak dengan Autisme Lebih Rentan Terkena Alergi?

Benarkah Anak dengan Autisme Lebih Rentan Terkena Alergi?,- pengobatanalergi.com – Autisme merupakan gangguan yang timbul pada perkembanan anak dibawah 3 tahun. Gangguan ini mengakibatkan anak tidak mampu membentuk hubungan sosial dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara normal.

Anak autis menjadi terisolasi dari kontak dengan orang lain dan tenggelam pada dunianya sendiri yang diekspresikan dalam minat dan perilaku yang berulang-ulang.

Baru-baru ini sebuah studi yang dimuat dalam Jurnal American Medical Association, Jama Network Open, menyebutkan bahwa anak-anak yang didiagnosis dengan autisme berisiko tinggi mengalami alergi.

Menurut para peneliti, anak-anak dengana utisme lebih rentan mengiap alergi makanan, gangguan pernapasan, dan alergi kulit seperti eksmin dan demam. Studi yang dipimpin oleh peneliti kesehatan masyarakat dari Universitas Iowa di AS ini menduga bahwa autisme dan alergi berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh anak.

Dr Wei Bao, asisten profesor epidemiologi, menyebutkan bahwa gangguan imunologi ini kemungkinan berkembang sejak awal kehidupan dan memengaruhi perkembangan otak dan fungsi sosial. Hal inilah yang kemudian menimbulkan gangguan spektrum autisme.

Para ahli percaya bahwa faktor genetik dan lingkungan berperan dalam mengembangkan kondisi autisme dan alergi. Untuk membuktikan hal tersebut, Bao dan timnya melihat hasil survei kesehatan nasional AS sejak 1997 sampai 2016 dengan subjek 200.000 anak.

Survei kesehatan nasional ini tidak melibatkan riwayat kesehatan yang diberikan dokter. Data ini didapatkan dari informasi yang diberikan orangtua setelah mengamati anak-anak mereka selama setahun.

Beberapa informasi yang orangtua berikan berhubungan dengan autisme dan alergi. Misalnya, apakah anak-anak memiliki diagnosis autisme atau kondisi perkembangan serupa dan apakah anak mengalami alergi makanan, kulit, atau pernapasan dalam 12 bulan terakhir.

Dari data tersebut, Bao dan tim menemukan anak-anak dengan autisme sangat mungkin mengalami alergi makanan, bahkan risikonya sampai 129%. Sedangkan alergi kulit dan pernapasan masing-masing 50% dan 28%.

Para ahli mengingatkan, hasil ini rentan terhadap bias karena hanya berdasarkan ingatan orangtua saja. Walaupun begitu, temuan ini menunjukkan jika orangtua dari anak-anak dengan autisme cenderung lebih memperhatikan dan melaporkan alergi anak-anak mereka, dibandingkan dengan orangtua yang anaknya tidak didiagnosis dengan autisme.

Dr James Cusack, direktur untuk badan aman Autistica kepada The Independent, menjelaskan, ada kemungkinan orangtua yang melaporkan satu kondisi lebih mungkin melaporkan hal yang lain. Efek semacan ini menjelaskan peningkatan laporan alergi dalam penelitian ini.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa autisme dihubungkan dengan kesehatan fsik yang buruk, termasuk asma. Jadi, temuan ini bisa dibilang cukup masuk akal. Sebagai catatan, temuan ini tidak menjelaskan hubungan sebab akibat. Maka dari itu, masih diperlukan penelitian lain yang lebih mendalam untuk membuktikannya.

Jangan Salah! Inilah Cara Mengenali Gejala Alergi pada Anak

Jangan Salah! Inilah Cara Mengenali Gejala Alergi pada Anak,- Alergi yang menyerang anak bisa terjadi kapanpun. Hal ini bisa membuat anak rewel, merasa tidak nyaman, sampai-sampai kehilangan nafsu makan karena lemas.

Bagi para orangtua baru, tentu keluhan pada anak tersebut seringkali menimbulkan tanda tanya besar. Apakah gangguan tersebut merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau mungkin karena serangan alergi.

Sebagian besar kasus alergi terjadi karena faktor genetik. Namun, ada pula yang disebabkan karena faktor luar, seperti makanan atau lingkungan. Beberapa makanan yang sering menyebabkan alergi diantaranya seperti kacang, susu, telur, kerang, dan ikan.

Sedangkan alergi yang disebabkan oleh lingkungan biasanya terjadi saat anak menginjak usia 18 bulan. Beberapa hal yang menjadi penyebabnya antara lain serbuk sari, debu, tungau, bubu binatang, atau jamur.

Untuk mengetahui apakah anak memiliki alergi atau tidak, memang perlu dilakukan pemeriksaan medis dan berkonsultasi dengan dokter. Namun selain itu, alangkah lebih baik jika sebagai orangtua, Anda juga perlu mengetahui beberapa gejala alergi.

Agar tidak salah, inilah cara mengenali gejala alergi pada anak yang perlu diketahui, yaitu :

Alergi makanan

Alergi dan toleransi makanan biasanya terjadi secara bergantian. Alergi merupakan reaksi dari sistem kekebalan tubuh terhadap zat yang masuk karena dianggap membahayakan.

Reaksi yang timbul diantaranya gatal, bibir bengkak, muntah, diare, dan bantuk mengi atau berbunyi. Ketika seorang bayi memiliki alergi terhadap makanan, maka ia akan kehilangan enzim yang diperlukan untuk memecah protein menjadi bagian mudah dicerna.

Akibatnya, adanya gas yang berlebihan atau kram pada perut yang membuatnya rewel. Gejala dari keduanya dapat terjadi ketika si kecil mulai kenyang, termasuk juga saat diberi susu formula atau menyusui. Jika curiga anak mengalami hal ini, maka segera konsultasikan kondisinya dengan dokter spesialis alergi.

Baca juga : Tisu Basah Ternyata Bisa Picu Alergi pada Anak

Ruam

Ruam merupakan tanda yang biasanya timbul pertama. Beberapa bayi yang baru lahir memiliki jerawat kecil di wajah. Namun, berbeda lagi dengan eksim, yang merupakan ruam wajah yang menyebar secara luas, berwarna merah, bersisik, dan gatal. Setelah timbul di wajah, akan timbul pada bagian lengan, kaki, lipatan lutut, bahkan pada siku.

Untuk mengatasinya, mandikan bayi dengan sabun hypoallergenic dan gunakan pelembab tanpa aroma. Jika tak kunjung mereda, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Nantinya dokter akan memberikan obat topikal dan antihistamin untuk menyembuhkan dan mengontrol gatal.

Batuk berkepanjangan

Asma merupakan salah satu bentuk alergi yang menyebabkan peradangan di saluran napas. Ditandai dengan timbulnya batuk mengi atau berbunyi dan sesak napas. Bayi yang memiliki alergi eksim dan makanan lebih mungkin terkena asma.

Biasanya gejalanya tidak disebabkan oleh pilek atau virus. Tetapi timbul batuk berbunyi terus menerus dan tak kunjung sembuh. Jangan tunda untuk memeriksakannya ke dokter.

Mengejutkan! Tisu Basah Ternyata Bisa Picu Alergi pada Anak

Mengejutkan! Tisu Basah Ternyata Bisa Picu Alergi pada Anak,- Tisu basah merupakan salah satu keperluan yang selalu tersedia dalam tas bayi, terutama saat melakukan perjalanan jauh. Saat si kecil buang air besar atau buang air kecil, orantua akan mengandalkan tisu basah untuk membersihkan area yang kotor tersebut.

Selain itu, jika tangan dan kaki anak kotor dan tidak ada air, maka tinggal di lap saja. Tisu basah memang memiliki peranan yang cukup besar di kehidupan sehari-hari. Namun, ternyata penggunaan tisu basah secara terus menerus memiliki dampak negatif.

Sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology mengungkapkan bahwa kebiasaan orangtua menggunakan tisu basah untuk membersihkan kulit anak dapat meningkatkan risiko alergi.

Hal ini disebabkan karena kandungan sabun pada tisu basah dapat menghilangkan lipid atau minyak alami yang berfungsi untuk melindungi kulit. Jika sisa sabun ini tidak segera dibilas, maka bayi akan menyerap lebih banyak zat kimia yang dapat memicu reaksi alergi.

Inilah mengapa, jumlah kasus alergi di Amerika Serikat meningkat sebanyak 20% selama 20 tahun terakhir. Para penelitin secara khusus memperinagtkan para orangtua yang anaknya secara genetis berpotensi memiliki alergi dengan kondisi dermatitis atopik.

Perlu diketahui, dermatitis atau eksim atopik adalah kondisi kronis yang menyebabkan gatal-gatal. Kondisi ini disebabkan oleh mutasi genetik yang mengganggu protein kulit yang berfungsi menciptakan perlindungan.

Penulit utama studi dan profesor alergi-imunologi di Northwestern University, Joan Cook-MIlls, mendapati bahwa dermatitis atopik tidak serta merta terjadi hanya karena paparan terhadap alergen, seperti kacang.

Ia mendapatkan ide mengenai pengaruh tisu basah setelah membaca beberapa studi yang menunjukkan bahwa obat-obatan untuk dermatitis atopik diberikan kepada kulit yang baru disabun untuk memecah perlindungannya.

Untuk membuktikan hipotesisnya, Mills bersama dengan koleganya kemudian melakukan pengujian terhadap bayi tikus yang memiliki mutasi dermatitis atopik.

Mereka mengaplikasikan natrium laurel sulfat, bahan sabun yang biasa ditemukan pada tisu basah, ke kulit tikus. Setelah itu, selama 2 minggu, bayi tikus diberi 3 sampai 4 kali paparan terhadap alergen dengan durasi 40 menit dan diberi makan kacang atau telur.

Meskipun seharunya tikus tidak menunjukkan reaksi gatal-gatal dan kulit kering sampai berusia beberapa bulan yang setara dengan usia manusia dewasa muda, bayi tikus dalam studi langsung mengalami iritasi pada usus dan area kulit yang terpapar. Bayi tikus juga menunjukkan anafilaksis atau reaksi alergi berat di seluruh tubuh.

Ia menyebutkan, bayi mungkin tidak memakan alergen ketika baru lahir, namun mereka mendapatkannya dari kontak kulit. Misalnya saat saudara dengan selai kacang diwajahnya mencium bayi, atau orangtua yang mempersiapkan makanan dengan kacang tiba-tiba menggendong bayi.

Dibandingkan dengan menggunakan tisu basah, Cook-Mills lebih menyarankan untuk mencuci tangan bayi karena efek sabun akan terbilas, Selain itu, jangan lupa untuk selalu mencuci tangan sebelum memegang bayi untuk mengurangi paparan terhadap alergen.

 

Artikel terkait :

Cara Menghindarkan Anak dari Alergi
Obat Alergi Anak 1 Tahun
Obat Alergi Anak Tradisional

Mengenal Penyebab dan Jenis Alergi yang Sering Dialami Bayi

Mengenal Penyebab dan Jenis Alergi yang Sering Dialami Bayi,- Alergi merupakan bentuk reaksi imun tubuh secara berlebihan pada benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Hampir setiap orang pasti pernah mengalami reaksi alergi, baik itu karena debu, makanan yang dikonsumsi, paparan zat kimia, atau yang lainnya. Kondisi alergi ternyata juga bisa dialami oleh bayi. Bahkan, bayi merupakan sumjek yang paling rentan mengalami alergi, mengingat sistem imunitas tubuhnya belum terbentuk dengan sempurna.

Meksipun alergi merupakan reaksi normal dari tubuh, namun alergi pada bayi tidak boleh disepelekan begitu saja. Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan bayi mengalami alergi. Namun, faktor genetiklah yang paling sering memainkan peran penting dalam terjadinya alergi pada bayi. Selain itu, faktor lain yang sering menjadi penyebab alergi pada bayi adalah makanan dan lingkungan.

Hampir sekitar 6 juta anak memiliki alergi terhadap makanan. Alergi ini juga biasanya lebih banyak dialami oleh anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan. Jenis makanan yang paling sering membuat anak mengalami alergi diantaranya adalah kacang, susu sapi, telur, sea food, kedelai, dan tepung terigu.

Sedangkan alergi yang disebabkan oleh faktor lingkungan biasanya terjadi karena paparan dari benda-benda yang ada di dalam ataupun di luar ruangan, seperti serbuk sari, debu tungau, bulu binatang, jamur, atau kecoak.

Selain 3 faktor tersebut, ada juga beberapa faktor lain yang bisa menyebabkan bayi mengalami alergi. Seperti gigitan serangga yang menyebabkan kulit bengkak, gatal, dan memerah. Atau efek obat-obatan dan bahan kimia tertentu, misalnya detergen yang bisa menyebabkan alergi pada kulit bayi.

Mengenal Jenis Alergi yang Sering Dialami Bayi

Ada 4 jenis alergi yang sering dialami bayi yang perlu diketahui dan diwaspadai, diantaranya adalah :

Dermatitis kontak

Dermatitis kontak adalah jenis alergi pada bayi yang ditandai dengan kulit kemerahan yang timbul segera setelah terpapar dengan suatu iritan atau pemicu alergi. Kulit bayi akan terlihat kering dan tampak bersisik. Konsultasikan dengan dokter jika Anda mencurigai gejala-gejala yang dialami oleh si kecil.

Urtikaria kronis

Urtikaria kronis merupakan reaksi alergi pada bayi yang tergolong berat. Urtikaria timbul dengan ditandai adanya ruam kemerahan yang lebar setelah kontak dengan alergen. Tiak seperti alergi kulit yang lainnya, urtikaria kronis tidak menyebabkan kulit menjadi kering. Gejala lain yang timbul antara lain sulit bernapas atau bengkak pada mulut dan wajah. Pada sebagian besar kasus, urtikaria kronis akan hilang dengan sendirinya selama terhindar dari paparan alergen.

Dermatitis atopik (eksem)

Diperkirakan sekitar 1 dari 10 bayi dilaporkan mengalami kondisi dermatitis atopik atau yang lebih sering dikenal dengan nama eksem. Dermatitis atopik merupakan kondisi peradangan kulit yang ditandai dengan kulit kemerahan dan terasa gatal.

Sebagian besar kondisi alergi ini dialami oleh bayi yang tidak mendapatkan ASI dan diberikan susu formula dengan bahan dasar susu sapi. Namun, seiring waktu, alergi susu ini bisa hilang mengingat pencernaan bayi yang sudah semakin sempurna.

Beberapa gejala yang bisa timbul jika bayi mengalami dermatitis atopik, seperti diantaranya :

*) Ruam merah yang tersebar pada tubuh akibat digaruk
*) Gatal-gatal, terutama di malam hari
*) Luka melepuh yang mengeluarkan cairan. Dalam beberapa kasus, luka ini akan menjadi luka terbuka jika digaruk
*) Kulit kering, pecah-pecah, dan bersisik

Alergi rhinitis

Apa ibu pernah menemukan si kecil yang bersih tanpa henti secara tiba-tiba ? Jika iya, mungkin anak ibu sedang mengalami alergi rhinitis. Gejala utama dari alergiini memang berupa bersin-bersin, beringus, hingga hidung tersumbat. Umumnya, alergi rhinitis disebabkan karena bayi terpapar debu, serbuk sari, atau bulu binatang. Dalam kondisi yang tergolong berat, gejala rhinitis yang dialami bisa meliputi serangan asma atau sesak napas.

 

Artikel terkait :

Mengobati Alergi pada Wajah Bayi
Cara Mengatasi Gejala Alergi Bayi
Cara Menghilangkan Bintin Merah pada Dada dan Perut Bayi

Kenalkan Makanan Ini Lebih Awal Hindarkan Anak dari Alergi

Kenalkan Makanan Ini Lebih Awal Hindarkan Anak dari Alergi,- Seringkali anak-anak menjadi alergi terhadap beberapa jenis makanan tertentu yang disebabkan oleh beberapa faktor. Sehingga banyak ibu yang khawatir dan lebih memilih untuk tidak memberikan beberapa jenis makanan dan minuman yang diduga dapat memicu alergi, seperti susu, telur dan lainnya hingga berusia satu tahun.

Padahal, menurut penelitian terbaru, hal tesebut justru akan menjadikan anak mengalami peningkatan kesempatan berkembangnya alergi pada makanan tersebut. Hasil sebuah penelitian yang dilakukan di Kanada menyebutkan bahwa bayi yang tidak diberi susu pada tahun pertama mereka hampir 4 kali lebih sensitif terhadap susu pada usia satu tahun. Risiko tersebut akan berlipat ganda untuk kasus telur dan kacang tanah.

Saat ini, sebuah badan kesehatan di Inggris menyarankan untuk menunda pengenalan produk telur dan kacang tanah seperti selai kacang hingga anak berusia 6 bulan, dengan tujuan untuk mencegah alergi. Namun, para ilmuwan yang menulis untuk Prediatric Allergy and Immunology mengatakan bahwa penundaan tersebut dapat menyebabkan peningkatan alergi pada anak.

Disebutkan bahwa sebaiknya anak-anak sudah dikenalkan dnegan kacang tanah, telur, dan susu sapi lebih awal antara usia 4 hingga 6 bulan. Menurut penulis studi, Maxwell Tran, ini merupakan pergeseran penting dalam berpikir jauh dari menghindari makanan yang berpotensi alergen, menuju pengenalan awal mereka untuk mengurangi risiko alergi makanan dikemudian hari.

Menghindari makanan ini sebelum bayi menginjak usia 12 bulan dapat meningkatkan risiko asma, eksim, dan rhinitis di masa kanak-kanak mereka nanti.

Tim peneliti yang bekerja pada CHILD Study, dipimpin oleh McMaster University, melihat data lebih dari 2.100 anak-anak Kanada. Mereka menemukan bayi yang tidak diberi makanan alergik sebelumnya memiliki kesempatan untuk mendapatkan sensitivitas makanan yang lebih tinggi.

Penelitian ini juga menemukan bahwa sebagian besar orangtua benar-benar menunda untuk mengenalkan mereka pada makanan, terutama telur dan kacang tanah karena takut akan reaksi yang timbul akan merugikan si kecil.

Hanya 3% orangtua yang memperkenalkan telur sebelum usia 6 bulan, sedangakn hanya 1% yang memperkenalkan kacang tanah sebelum usia 6 bulan. Dan 63% orangtua lebih memilih untuk menghindari memberi makan kacang sepenuhnya selama tahun pertama anak.

Padahal, awal pengenalan telur sebelum usia satu tahun nampaknya sangat bermanfaat, karena secara signifikan dapat mengurangi kemungkinan pengembangan sensitisasi terhadap salah satu dari tiga alergen makanan tersebut.

Nah, jadi bunda, kini tidak perlu ragu lagi untuk memberikan telur dan kacang tanah kepada si kecil. Karena seperti yang telah dijelaskan diatas, ini akan memberikan manfaat bagi si kecil untuk mengurangi risiko alergi pada anak.

Trik Agar Alergi Anak Tidak Menetap Hingga Dewasa

Pengobatan Alergi,- Alergi pada anak merupakan reaksi tubuh yang menyimpang atau berubah dari normal yang dapat menimbulkan gejala yang merugikan tubuh, mulai dari gangguan pernapasan, kulit, hingga mata. Anda jangan mengangkap enteng alergi yang terjadi pada anak, pasalnya hal tersebut dapat berisiko terhadap tumbuh kembang sang anak, bahkan jika tidak ditangani dengan baik alergi pada anak dapat berlanjut hingga dewasa.

Namun, walaupun begitu, Anda tentu bisa memperkecil risiko tersebut. Berikut ini beberapa trik agar alergi anak tidak menetap hingga dewasa yang bisa dilakukan, diantaranya adalah :

Ketahui dan hindari pemicunya

Jika si kecil sudah terdiagnosis alergi, maka yang harus dilakukan selanjutnya adalah mencegahnya dengan menghindari pemicunya. Perhatikan kapan dan dimana biasanya reaksi alergi timbul. Jika masik belum diketahui secara pasti pencetusnya, maka Anda bisa melakukan tes alergi atau skin prick test.

Beberapa faktor yang sering memicu timbulnya reaksia lergi diantaranya adalah debu, tungau, serbuk sari, susu dan produk olahannya, kosmetik (seperti bedak bayi), dan obat-obatan (misalnya antibiotik).

Jauhi asap rokok

Selain menghindari faktor pemicu alergi, Anda juga harus menjauhkan si kecil dari asap rokok. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa paparan asap rokok dapat mengiritasi saluran napas. Asap rokok juga berkontribusi terhadap perkembangan alergi ataupun asma pada anak.

Berikan ASI eksklusif

Memberikan anak ASI secara eksklusif hingga usia 6 bulan merupakan trik agar alergi anak tidak menetap hingga dewasa selanjutnya. Setelah memberiakn ASI secara eksklusif, berikan pula anak makanan pendamping ASI (MPASI). Dengan demikan, maka daya tahan tubuh akan akan meningkat, dan risiko alergi bisa berkurang.

MPASI

Menginjak usia 6 bulan ke atas, kenalkan anak dengan makanan yang sering menimbulkan alergi (alergik), seperti susu formula, kacang, keju, telur matang, dan lainnya. Jika tidak ada reaksi alergi yang timbul setelah mengonsumsi beberapa jenis makanan tersebut, maka tambah jumlahnya dan lanjutkan tanpa mengubah menu selama 3-5 hari.

Namun sebaliknya, jika reaksi alergi timbul setelah mengonsumsi makanan tersebut, segera eliminasi makanan tersebut dari menu harian si kecil.

Konsultasikan pada dokter anak

Trik agar alergi anak tidak menetap hingga dewasa yang terakhir adalah berkonsultasi dengan dokter anak. Dokter akan membantu mencari tahu penyebab alergi anak dan cara untuk mencegahnya. Jika yang dialami anak adalah asma atau rhinitis alergi, maka dokter biasanya akan menyertakan obat alergi anak untuk dikonsumsi secara rutin untuk mencegah kekambuhan.