Mengenali Gejala Alergi Pembalut yang Perlu Diwaspadai

Mengenali Gejala Alergi Pembalut yang Perlu Diwaspadai,- Penggunaan pembalut atau tampon sudah menjadi suatu keharusan saat haid. Kedua benda ini berfungsi untuk menyerap darah haid sekaligus menjaga kebersihkan daerah kewanitaan pada saat haid.

Namun, sayangnya tidak semua wanita bisa menggunakan pembalut. Terdapat beberapa wanita yang mengalami reaksi alergi setelah menggunakan pembalut. Alergi merupakan suatu gambaran perubahan reaksi tubuh seseorang terhadap lingkungan yang berhubungan dengan gangguan pada mekanisme sistem kekebalan tubuh (imunitas). Seorang penderita alergi memiliki bakat sensitif atau rentan terhadap zat-zat tertentu.

Pada dasarnya pembalut sudah dibuat seaman dan senyaman mungkin untuk digunakan. Sebelum dipasarkan, tentunya proses pembuatannya sendiri sudah melalui serangkaian penelitian dan uji coba yang panjang. Meskipun demikian, tetap saja terdapat beberapa zat yang ada didalam pembalut, seperti pewangi, pewarna, bahan perekat, pengawet, pelembut, dan sebagainya bisa menimbulkan efek negatif pada tubuh. Pasalnya tidak semua wanita bisa tahan terhadap zat-zat tersebut.

Bagi mereka yang memiliki alergi, pewangi pada pembalut bisa menjadi salah satu sumber alergi ataupun iritasi yang paling banyak ditemukan. Selain itu, perekat yang ada pada pembalut dan tampon, yang bersentuhan dengan kulit, juga bisa menimbulkan alergi. Beberapa gejala alergi pembalut yang bisa timbul diantaranya adalah :

  • Adanya kemerahan dan peradangan
  • Gatal di sekitar organ kewanitaan yang dapat menjalar hingga ke daerah sekeliling anus
  • Terasa nyeri yang terkadang disertai dengan perasaan terbakar atau tidak nyaman
  • Keluarnya cairan yang agak keruh dan berbau tidak sedap
  • Dapat disertai dengan gejala sistemik berupa pusing dan lemas

Setiap gejala yang ditimbulkan harus disertai dengan riwayat yang jelas. Hal ini disebabkan karena peradangan atau keluhan pada organ kewanitaan dapat juga ditimbulkan oleh adanya infeksi. Infeksi bsia terjadi jika organ kewanitaan tidak terjaga kebersihannya ketika menstruasi, atau juga dapat berkaitan dengan adanya penyakit lain yang dialaminya.

Alergi yang timbul akibat penggunaan pembalut dan tampon disebut sebagai dermatitis kontak, dimana reaksi alergi ini dapat hilang jika sudah dijauhkan dan dihindarkan dari pencetus alergi tersebut. Namun, selain itu Anda juga bisa mengobati alergi pembalut dengan mengonsumsi obat alergi pembalut yang telah direkomendasikan dan memiliki khasiat serta manfaat efektif dan juga aman.

Untuk menghindari alergi pembalut dan tampon, sebaiknya selalu cuci tangan dengan bersih jika akan menyentuh daerah kewanitaan, atau ketika akan menggunakan pembalut atau tampon.

3 Tanda Penting yang Harus Diwaspadai saat Terkena Alergi

3 Tanda Penting yang Harus Diwaspadai saat Terkena Alergi,- Alergi menjadi salah satu gangguan kesehatan yang umum dialami oleh hampir semua orang. Gejala alergi seringkali menyerupai penyakit lain, sehingga terkadang membuat kita tidak sadar untuk mencegah dan mengobati reaksi alergi dengan benar.

Setiap orang memiliki alergi yang berbeda-beda, bahkan reaksi yang tombul pun juga berbeda. Sangat penting untuk kita mengetahui tanda-tanda alergi, agar tepat waktu dalam mengobatinya. Untuk itu, berikut ini kami berikan informasi seputar 3 tanda penting yang harus diwaspadai saat terkena alergi, diantaranya :

Ruam pada kulit

Ruam menjadi salah satu gejala alergi yang sangat mudah untuk dikenali. Ruam ini biasanya berbentuk seperti bekas gigitan nyamuk. Perlu diingat, beberapa orang bisa merasa alergi akan gigitan nyamuk. Namun, ruam kulit ini juga bisa disebabkan karena alergi pada detergen yang Anda gunakan.

Gejala menyerupai pilek

Jika tiba-tiba Anda batuk secara terus-menerus, bisa jadi itu merupakan tanda dari alergi. Pada penyakit pilek, batuk yang dirasakan biasanya disertai dengan tenggorokan sakit dan bengkak. Jika Anda tidak merasakan tanda tersebut, maka bisa jadi batuk yang dialami termasuk salah satu gejala alergi.

Mata terasa gatal dan kelopak mata bengkak

Ini juga termasuk salah satu dari 3 tanda penting yang harus diwaspadai saat alergi. Gejala ini seringkali dijumpai dan biasanya mata akan terasa lebih berair dan gatal. Gejala ini timbul pada mereka yang alergi serbuk bunga atau bulu binatang.

Pembengkakan pada bagian tubuh tertentu, salah satunya kelopak mata juga menjadi tanda alergi. Biasanya gejala ini timbul karena alergi terhadap makanan tertentu.

Jika terus dibiarkan, gejala alergi ini tentu bisa berakibat fatal. Maka dari itu, jangan menganggap remeh gejala alergi, karena ini merupakan tanda bahwa tubuh mengalami reaksi gangguan kesehatan.

Jika Anda telah mengetahui zat yang menyebabkan timbulnya alergi, maka sebaiknya selalu hindari zat tersebut dan jangan lupa untuk selalu minum obat alergi (antihistamin) jika gejala timbul. Jika reaksi alergi terjadi lebih dari sekali dalam seminggu, bahkan tidak kunjung sembuh setelah minum obat antihistamin, maka Anda bisa langsung segera memeriksakan diri ke dokter.

Gejala yang Timbul pada Penderita Alergi Kondom

Gejala yang Timbul pada Penderita Alergi Kondom,- Selain untuk mengontrol kehamilan, penggunaan kondom juga merupakan salah satu cara terbaik untuk mengurangi risiko penularan penyakit menular seksual (PMS). Namun, sayangnya tidak semua orang bisa menggunakan kondom, pasalnya ada sebgian orang yang akan mengalami reaksi alergi jika bersentuhan dengan kondom.

Alergi kondom biasanya disebabkan oleh karet lateks, pelumas yang digunakan pada kondom, atau bahkan keduanya. Reaksi alergi ini dapat terjadi hanya dalam beberapa menit setelah kontak dengan kondom atau setelah beberapa jam kemudian.

Gejala yang ditimbulkan oleh alergi kondom bisa berbeda pada setiap orang, tergantung dengan sistem kekebalan tubuh yang dimilikinya. Namun, berikut ini merupakan beberapa gejala yang timbul pada penderita alergi kondom yang umum terjadi, diantaranya adalah :

Panas

Ketika mengalami alergi kondom, kulit bisa terasa panas yang menyiksa seperti terbakar. Ini merupakan reaksi alergi yang cukup parah dan memerlukan waktu untuk penyembuhannya. Terlebih lahi kulit di area vital biasanya sensitif dan mudah bereaksi terhadap alergen.

Gatal

Rasa gatal dapat terjadi setelah penggunaan alat kontrasepsi dari lateks tersebut, terkadang juga disertai dengan merah, dan ruam. Reaksi alergi tersebut memang tidak langsung timbul, namun bisa timbul setelah 5-10 menit setelah pemakaian.

Melepuh

Setelah mengalami gatal dan panas, kulit juga bisa melepuh sama seperti luka bakar. Jika hal tersebut terjadi, segera hubungi pihak medis untuk mendapatkan penanganan. Namun, kondisi ini juga bisa sembuh tanpa penanganan medis, asalka tidak banyak disentuh. Anda juga bisa menggunakan salep untuk mendinginkan dan menghilangkan reaksi alergi yang timbul.

Sesak napas

Jika alergi sampai masuk ke dalam aliran darah, maka Anda bisa saja mengalami sesak nafas. Racun lateks yang direspon negarif oleh tubuh akan menyebabkan pembengkakan di saluran pernapasan. Bahkan bisa menghalangi aliran darah dan mengganggu pasokan oksigen ke seluruh tubuh, teramsuk ke jantung.

Gejala alergi kondom terkadang hampir mirip dengan infeksi jamur yang menyerang kelamin, namun bedanya alergi kondom biasanya tidak menyebabakn keluarnya cairan dari vagina.

Artikel terkait :

Solusi Bagi Penderita Alergi Kondom Lateks
Cara Mengobati Alergi Lateks

Memahami Gejala dan Cara Mendiagnosa Alergi Lateks

Memahami Gejala dan Cara Mendiagnosa Alergi Lateks,- Tidak sedikit orang yang sering merasakan reaksi alergi, seperti gatal-gatal pada kulit setelah bersentuhan dengan benda-benda yang terbuat dari bahan dasar lateks. Lateks disini mengacu pada lateks karet alam, yaitu produk yang dibuat dari cairan getah yang berasal dari pohon karet, Hevea brasiliensis. Beberapa jenis karet sintetis juga disebut sebagai lateks, namun ia tidak melepaskan protein yang menimbulkan reaksi alergi.

Lateks alam sering digunakan sebagai bahan pembuat berbagai produk, seperti sarung tangan karet, karet gelang, dot, sol sepatu, balon, mainan karet, popok seklai pakai, pembalut, penghapus pensil, kondom, botol air, dan barang-barang lainnya yang bahkan sering kita gunakan sehari-hari.

Pada sebagian individu, lateks ini bisa menimbulkan beberapa gejala atau reaksi alergi yang disebut dengan alergi lateks. ALergi lateks sendiri merupakan reaksi terhadap protein tertentu dalam karet lateks. Jumlah paparan lateks yang diperlukan untuk menghasilkan sensitisasi atau reaksi alergi tidak diketahui. Meningkatkan paparan protein lateks juga dapat meningkatkan risiko mengalami gejala alergi.

Mengetahui dan memahami gejala dan cara mendiagnosa alergi lateks bisa membantu Anda untuk menghindari perkembangan alergi lateks agar tidak semakin parah. Untuk mengetahui informasi lengkapnya, silahkan simak penjelasan di bawah ini !

Memahami Gejala Alergi Lateks

Sensitivitas terhadap lateks bisa timbul baik disebabakn oleh kontak langsung ataupun dengan menghirup partikel lateks dari udara. Gejalanya pun bisa terjadi ringan hingga berat, tergantung pada jenis alergi yang terjadi.

Pada orang yang peka, biasanya gejala akan mulai timbul dalam beberapa menit setelah pemaparan, tetapi gejala juga dapat terjadi beberapa jam kemudian dan dapat cukup bervariasi. Gejala alergi lateks juga akan bervariasi pada setiap individu.

Reaksi ringan terhadap lateks bisa menimbulkan kulit kemerahan, ruam, gatal-gatal, atau bercak merah. Reaksi yang lebih parah mungkin melibatkan gejala pada pernafasan, seperti pilek, bersin, mata gatal, gatal tenggorokan, dan asma (sesak nafas, batuk, dan mengi). Shock juga dapat terjadi meskipun kasusnya jarang. Reaksi yangmenganam nyawa dapat menjadi tanda pertama dari alergi lateks, namun jarang.

Cara Mendiagnosa Alergi Lateks

Untuk mengetahui atau mendiagnosa alergi lateks sendiri, terdapat 2 tes yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan melakukan tes pada kulit dan yang lain adalah melalui tes darah. Tes darah merupakan salah satu pilihan, karena dapat lebih cermat untuk diketahui pada beberapa orang. Selain itu, alergi lateks juga bisa didiagnosa dengan bantuan tes patch, dan RAST atau Radio-Allergo-Sorbent-Test.

Mereka yang bekerja pada industri karet lebih rentan mengalami alegi lateks, hal ini disebabkan karena mereka akan sering terkena lateks dan produk-produknya dalam jangka waktu yang lama. Beberapa anak dengan myelomenongocele dan orang-orang yang telah menjalani prosedur bedah banyak juga rentan terhadap alergi ini.

Walaupun obat alergi lateks bisa meringankan gejala, namun belum ada obat atau metode pengobatan yang bisa menyembuhkan alergi lateks sepenuhnya. Satu-satunya cara terbaik untuk menghindari timbulnya alergi lateks adalah dengan menjauhi atau menghindari penyebab alergi lateks itu sendiri, seperti produk yang mengandung lateks.

Orang yang mengalami alergi lateks berisiko mengalami alergi pula terhadap buah-buahan tertentu, seperti pisang, stroberi, nanas, buah kiwi, markisa, dan alpukat. Hal tersebut disebabkan karena buah-buahan tersebut mengadnung alergen yang sama seperti yang ditemukan pada lateks.

Kenalkan Makanan Ini Lebih Awal Hindarkan Anak dari Alergi

Kenalkan Makanan Ini Lebih Awal Hindarkan Anak dari Alergi,- Seringkali anak-anak menjadi alergi terhadap beberapa jenis makanan tertentu yang disebabkan oleh beberapa faktor. Sehingga banyak ibu yang khawatir dan lebih memilih untuk tidak memberikan beberapa jenis makanan dan minuman yang diduga dapat memicu alergi, seperti susu, telur dan lainnya hingga berusia satu tahun.

Padahal, menurut penelitian terbaru, hal tesebut justru akan menjadikan anak mengalami peningkatan kesempatan berkembangnya alergi pada makanan tersebut. Hasil sebuah penelitian yang dilakukan di Kanada menyebutkan bahwa bayi yang tidak diberi susu pada tahun pertama mereka hampir 4 kali lebih sensitif terhadap susu pada usia satu tahun. Risiko tersebut akan berlipat ganda untuk kasus telur dan kacang tanah.

Saat ini, sebuah badan kesehatan di Inggris menyarankan untuk menunda pengenalan produk telur dan kacang tanah seperti selai kacang hingga anak berusia 6 bulan, dengan tujuan untuk mencegah alergi. Namun, para ilmuwan yang menulis untuk Prediatric Allergy and Immunology mengatakan bahwa penundaan tersebut dapat menyebabkan peningkatan alergi pada anak.

Disebutkan bahwa sebaiknya anak-anak sudah dikenalkan dnegan kacang tanah, telur, dan susu sapi lebih awal antara usia 4 hingga 6 bulan. Menurut penulis studi, Maxwell Tran, ini merupakan pergeseran penting dalam berpikir jauh dari menghindari makanan yang berpotensi alergen, menuju pengenalan awal mereka untuk mengurangi risiko alergi makanan dikemudian hari.

Menghindari makanan ini sebelum bayi menginjak usia 12 bulan dapat meningkatkan risiko asma, eksim, dan rhinitis di masa kanak-kanak mereka nanti.

Tim peneliti yang bekerja pada CHILD Study, dipimpin oleh McMaster University, melihat data lebih dari 2.100 anak-anak Kanada. Mereka menemukan bayi yang tidak diberi makanan alergik sebelumnya memiliki kesempatan untuk mendapatkan sensitivitas makanan yang lebih tinggi.

Penelitian ini juga menemukan bahwa sebagian besar orangtua benar-benar menunda untuk mengenalkan mereka pada makanan, terutama telur dan kacang tanah karena takut akan reaksi yang timbul akan merugikan si kecil.

Hanya 3% orangtua yang memperkenalkan telur sebelum usia 6 bulan, sedangakn hanya 1% yang memperkenalkan kacang tanah sebelum usia 6 bulan. Dan 63% orangtua lebih memilih untuk menghindari memberi makan kacang sepenuhnya selama tahun pertama anak.

Padahal, awal pengenalan telur sebelum usia satu tahun nampaknya sangat bermanfaat, karena secara signifikan dapat mengurangi kemungkinan pengembangan sensitisasi terhadap salah satu dari tiga alergen makanan tersebut.

Nah, jadi bunda, kini tidak perlu ragu lagi untuk memberikan telur dan kacang tanah kepada si kecil. Karena seperti yang telah dijelaskan diatas, ini akan memberikan manfaat bagi si kecil untuk mengurangi risiko alergi pada anak.

Manfaat Susu Unta untuk Meringankan Gejala Alergi

Manfaat Susu Unta untuk Meringankan Gejala Alergi,- Mengalami gejala aergi memang dapat mengganggu penderitanya, terlbih lagi ketika berada diluar rumah. Antihistamin atau obat alergi merupakan salah satu solusi efektif yang banyak dipilih untuk mengatasi gejala alergi yang timbul.

Namun, selain itu, ternyata ada cara yang nikmat untuk membantu mengurangi gejala alergi selain dengan obat, yaitu dengan mengonsumsi susu unta.

Susu unta memiliki kandungan vitamin, mineral, dan imunoglobin yang tinggi. Namun, seperti hewan penghasil susu lainnya, komposisi susu unta bergantung pada spesies unta dan makananya.

Karena memiliki kandungan nutrisi yang cukup baik, susu unta juga diketahui memiliki khasiat yang baik pula bagi kesehatan tubuh. Mengonsumsi susu unta secara rutin dapat meningkatkan sistem imunitas tubuh.

Senyawa organik dan protein yang terkandung dalam susu unta memiliki kemampuan antimikroba yang kuat. Jika dikonsumsi secara rutin, hal ini mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan membuat kita tetap sehat.

Disamping itu, mengonsumsi susu unta secara teratur juga dapat mengurangi reaksi alergi. Susu unta tidak menyebabkan jenis yang sama pada reaksi intoleransi laktosa seperti susu sapi, karena kandungan komponen yang dimilikinya berbeda.

Susu unta memiliki kandungan laktosa 4,46 gram per 100 gram. Jumlah ini lebih rendah jika dibandingkan dengan susu sapi yang memiliki kandungan laktosa sebanyak 5,26 gram dalam setiap 100 gramnya. Maka dari itu, susu unta sering kali dimanfaatkan sebagai obat alternatif untuk membantu mengurangi gejala alergi.

Selain itu, kandungan berbagai mineral seperti kalium, magnesium, besi, tembaga, mangan, natrium, dan seng pada susu unta lebih tinggi dibandingkan pada susu sapi. Kandungan lemak dan proteinnya juga dinilai lebih tinggi dibandingkan dengan susu sapi.

Artikel terkait :

Pengobatan Alergi Susu Sapi pada Bayi
Mengobati Sesak Napas karena Alergi Susu Sapi
Perbedaan Intoleransi Laktosa dan Alergi Susu

Tips dan Trik Mengatasi Alergi Debu saat Berpuasa

Tips dan Trik Mengatasi Alergi Debu saat Berpuasa,- Pada saat berpuasa, tubuh mengistirahatkan diri dan tidak ada apapun yang masuk ke dalam badan. Walaupun begitu, terkadang beberapa kondisi menyebabkan seseorang harus mengonsumsi obat untuk mengatasinya, seperti salah satunya alergi. Terdapat beberapa jenis alergi yang bisa dialami, termasuk salah satunya adalah alergi debu.

Penyakit ini terbilang sangat sensitif. Sedikit saja terpapar oleh faktor penyebab alergi, maka tubuh akan langsung memberikan respon. Obat alergi menjadi salah satu cara yang ampuh untuk mengembalikan kondisi tubuh penderita alergi. Namun, ketika puasa, mengonsumsi obat tidak diperbolehkan. Selain itu, mengonsumsi obat secara terus menerus juga dapat menimbulkan dampak negatif pada tubuh.

Lalu, bagaimana tips mengatasi alergi debu saat berpuasa tanpa harus mengonsumsi obat ?

Anda tidak perlu khawatir. Meskipu tanpa obat, alergi debu tetap bisa diatasi dengan melakukan beberapa tips berikut :

Masker alergi

Salah satu alternatif yang bisa dilakukan untuk membantu mengatasi alergi yaitu menggunakna masker dengan filter HEPS built-in. Penggunaannya juga tidak berkepanjangan. Anda hanya perlu menggunaannya ketika Anda ingin memotong rumput, menyapu, atau aktivitas lain yang berhubungan langsung dengan debu dan udara.

Nasal Gel

Mengoleskan nasal gel bisa membantu mengurangi alergi. Cara ini cocok bagi mereka yang alergi terhadap debu. Dengan kandungan Galfimia Glauca, itu cukup baik untuk mengembalikan pernafasan yang segar dan sehat.

Tutup jendela dan nyalakan AC

Tips mengatasi alergi debu saat berpuasa ini mungkin cukup sederhana dan mudah untuk dilakukan. Pasalnya, jika Anda berada di dalam rumah, Anda hanya perlu menutup semua jendela dan menyalakan AC. Jangan biarkan ada debu yangmasuk. Udara yang diciptakan pendingin ruangan biasanya mampu meminimalisir kuman bakteri yang memicu alergi.

Pergi ke wilayah berair

Tips dan trik mengatasi alergi debu saat berpuasa yang terakhir adalah dengan pergi ke tempat atau daerah yang berair. Pantai bisa menjadi pilihan yang tepat. Pantai memiliki serbuk sari dan jamur yang sedikit, sehingga dapat meminimalisir alergi debu dan kotoran yang dirasakan. Panasnya matahari juga dapat membantu memulihkan suhu tubuh yang tidak stabil.

Artikel terkait alergi debu :

Obat Alami Alergi Debu
Pengobatan Alergi Debu Anak dan Dewasa

Dampak Jalani Diet Bebas Gluten Bagi Penderita Alergi

Dampak Jalani Diet Bebas Gluten Bagi Penderita Alergi,- Diet bebas gluten merupakan salah satu jenis diet yang populer di negara-negara barat dan kini tidak sedikit masyarakat Indonesia yang juga mengikuti program diet tersebut.

Gluten merupakan sejenis protein pada tepung dan juga sereal. Saat ini diet bebas gluten dianggap sebagai pola makan yang sehat. Produk-produk bebas gluten pun semakin banyak membajiri pasaran, mulai dari roti, cake, tepung, hingga es krim.

Meskipun banyak yang meyakini bahwa diet bebas gluten baik bagi kesehatan, namun studi terbaru menyebutkan bahwa diet ini justru lebih berbahaya, terutama bagi mereka yang menderita masalah celiac.

Bagi penderita celiac atau alergi makanan yang menjalani diet bebas gluten berisiko mengalami gangguan pencernaan. Gejalanya antara lain perut kembung, diare, sakit perut, dan gangguan pada kulit.

Para periset meneliti orang sehat yang mengonsumsi makanan bebas gluten. Hal ini bertujuan untuk mencegah timbulnya penyakit jantung. Para peneliti menganalisis data lebih dari 100.000 orang tanpa riwayat penyakit jantung koroner. Merka menyelesaikan kuesioner makanan rinci setiap beberpa tahun dari 1986 hingga 2010.

Setelah menyesuaikan hasilnya, periset menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara asupan gluten yang diperkirakan dan risiko penyakit jantung. Temuan ini menggarisbawahi potensi bahwa orang-orang yang sagat membatasi asupan gluten secara signifikan membatasi asupan biji-bijian. Sebenarnya terkait dengan risiko penyakit kardiovaskular yang merigukan.

“Promosi diet bebas gluten untuk tujuan pencegahan penyakit jantung koroner di antara orang-orang dengan penyakit celiac tidak direkomendasikan,” tambahnya.

Gejala alergi yang timbul bisa ringan atau parah. Termasuk mereka mengalami masalah usus, rambut rontok, dan sebagainya.

Baca Juga : 2 Jenis Kecoa yang Berpotensi Sebabkan Alergi

Dua Jenis Kecoa yang Berpotensi Sebabkan Alergi

Dua Jenis Kecoa yang Berpotensi Sebabkan Alergi,- Siapa yang tidak kenal dengan kecoa. Salah satu jenis serangga yang bisa dengan mudah ditemukan disekitar rumah ini dikenal sebagai serangga yang menjijikan. Selain dapat menularkan bakteri, ternyata kecoa juga diketahui dapat memicu atau memperburuk kondisi alergi.

Kecoa menghasilkan air liur, kulit kering, kotoran, telur, dll yang berpotensi menjadi penyebab alergi. Sisa kecoa mati yang berubah menjadi serpihan juga bisa beterbangan dan tercampur dengan udara disekitar rumah. Protein yang terkandung didalam kecoalah yang bertanggung jawab dengan timbulnya reaksi alergi.

Gejala yang timbul akibat alergi kecoa hampir sama seperti reaksi alergi lainnya, diantaranya seperti hidung gatal dan berair, tenggorokan gatal, hidung tersumbat, batuk, bersin, ruam, rhinoconjunctivitis, iritasu mata dan mata berair, serta timbulnya asma.

Namun, dari sekian banyak kecoa yang berkeliaran, hanya ada dua jenis kecoa yang berpotensi sebabkan alergi atau memperparah kondisi alergi, yaitu kecoa Jerman (Blatella Germanica) dan kecoa Amerika (Periplaneta Americana).

Kecoa Amerika ialah sumber alergen yang terdapat didalam ruangan. Ada lebih dari 20 komponen pengikat IgE yang diidentifikasi. Namun, hanya 9 alergen yang harus diwaspadai.

Kecoa mengandung protein yang merupakan salah satu faktor penyebab alergi, zat yang bisa menyebabkan reaksi alergi, bagi sebagian besar orang. Seluruh bagian tubuh kecoa, termasuk air liur dan kutu kecoa merupakan alergen. Bahkan, kecoa yangs sudah mati pun bisa memicu reaksi alergi.

Baca Juga : Pengobatan Alergi Saluran Pernapasan

Timbulnya alergi ini hampir sama dengan tungau debu yang bisa masuk ke selaput lendir mata, hidung, dan paru yang memicu terjadinya reaksi alergi. Biasanya, alergen ditemukan saat Anda sedang membersihkan rumah.

Maka dari itu, hindarilah paparan kecoa dan kotorannya. Anda bisa mencegah alergi kecoa dengan rajin membersihkan rumah. Hal ini disebabkan karena hama yang satu ini memerlukan makanan, air, dan tempat berlindung untuk bertahan hidup.

Teknik pembersihan yang tepat dapat membantu mencegah perkembangbiakan kecoa, sehingga mengurangi kandungan alergen didalam rumah.

Mengatasi Alergi Kepiting dan Udang dengan Minyak Jarak

Mengatasi Alergi Kepiting dan Udang dengan Minyak Jarak,- Kepiting dan udang merupakan salah satu jenis seafood yang cukup banyak diminati karena memiliki rasa yang nikmat dan juga kaya akan khasiat. Meskipun begitu, pada beberapa orang kepiting dan udang dapat memicu timbulnya reaksi alergi.

Menurut pakar kesehatan, timbulnya alergi ketika mengonsumsi udang dan kepiting ini disebabkan oleh kadar protein yang ada didalam makanan tersebut. Bagi sebagian orang, konsumsi proteien dalam jumlah yang tinggi memang bisa menyebabkan gejala alergi.

Alergi akibat udah dan kepiting biasanya ditandai dengan gatal-gatal dikulit tubuh, bentol-bentol atau sembab, atau kulit berwarna merah-merah. Jika Anda mengalami alergi setelah mengonsumsi udang atau kepiting, tidak perlukhawatir. Dalam hitungan hari alergi tersebut akan sembuh dengan sendirinya.

Akan tetapi, penderita alergi biasanya akan mengonsumsi obat alergi agar reaksi alergi cepat hilang. Namun, selain mengonsumsi obat, And ajuga bisa memanfaatkan minyak jarak sebagai salah satu alternatif untuk menghilangkan gejala alergi.

Untuk mendapatkan manfaat dari minyak jarak ini cukup mudah, Anda hanya tinggal mengoleskannya secara merata pada kulit yang mengalami alergi. Anda juga bisa minum 1 gelas air hangat yang telah diberi 2-3 tetes minyak jarak.

Meskipun udang dan kepiting kaya akan kandungan nutrisi, khususnya omega 3, namun alangkah baiknya penderita alergi menghindarinya untuk mencegah timbulnya reaksi alergi. Selain itu, perhatikan pula makanan yang akan Anda konsumsi, pastikan jika makanan tersebut tidak mengandung bahan yang berasal dari kepiting atau udang.

Artikel Terkait :

Mengatasi Alergi Udang
Alasan Makanan Laut Bisa Menyebabkan Alergi
Masalah Alergi Makanan Laut
Cara Menghindari Alergi saat Makan Seafood