Benarkah Hidup Terlalu Higienis Bisa Picu Timbulnya Alergi?

Benarkah Hidup Terlalu Higienis Bisa Picu Timbulnya Alergi?,- pengobatanalergi.com – Menjaga kebersihan, baik tubuh ataupun lingkungan sekitar memang dianjurkan agar kita tetap sehat dan terhindar dari serangan berbagai jenis penyakit. Namun, apakah Anda tahu, jika hidup terlalu higienis ternyata justru bisa memicu timbulnya alergi. Benarkah demikian ?

Menurut beberapa ilmuwan, hidup terlalu higienis itu salah karena bisa mempercepat timbulnya gejala asma dan alergi. Sederhanaya, sistem imun tubuh kita terdiri dari sel-sel imun yang bertugas menghalau datangnya kuman. Ketika tubuh terpapar kuman, maka sel-sel imun sibuk atau sangat aktif mengangkap dan menjinakkan kumah tersebut agar tidak terjadi infeksi.

Jika tubuh tidak pernah terpapar kuman atau bakteri, karena selalu berada di lingkungan yang sangat bersih, maka sel-sel imun tubuh tidak terlatih. Sel imun yang memang didesain untuk selalu aktif ini kemudian menjadi bodoh dan bereaksi berlebihan ketika terdapat paparan benda asing. Padahal, benda asing tersebut tidak mengancam, seperti debu atau bulu binatang. Anda juga akan mengalami reaksi alergi.

hidup terlalu higienis picu alergi

Hipotesis Alergi dan Hidup Terlalu Higienis

Memiliki kebiasaan hidup higienis memang merupakan hal yang baik. Namun, apakah Anda pernah berpikir jika ternyata hidup terlalu bersih juga bisa menimbulkan dampak bagi kesehatan, salah satunya yaitu memicu timbulnya alergi.

Hal ini berhubungan dengan teori hipotesis higiene yang mengindikasikan angka kejadian alergi di negara maju lebih tinggi dibandingkan dengan negara berkembang. Ini sama halnya dengan angka alergi di kota yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan di desa.

Hipotesis higiene merupakan sebuah teori yang menyatakan jika peningkatan kebersihan akan meningkatkan angka kejadian alergi dan penyakit yang berhubungan dengan kekebalan.

Seperti yang dijelaskan oleh Prof Budi Setiabudiawan, Konsultan Alergi-Imunologi Anak RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung, jika kurang terpapar kotoran justru akan membuat sistem kekebalan tidak terlatih. Alasannya, alergi diperantarai oleh sel T helper2 atau Th2 yang tinggi. Anak-anak yang tidak bersih memiliki Th1 yang tinggi, sering terkena infeksi, sehingga hal ini justru menekan Th2 yang membuat mereka menjadi mudah terkena alergi.

Walaupun begitu, bukan berarti Anda tidak boleh hidup bersih. Tetapi alangkah baiknya Anda tidak terlalu berlebihan dalam menjaga kebersihan. Pasalnya tidak semua bakteri atau mikroba buruk.

Terdapat beberapa jenis bakteri yang memang bisa menyebabkan timbulnya penyakit, atau bahkan mematikan. Akan tetapi, lebih banyak lagi bakteri yang sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh dan juga lingkungan. Jadi, hidup terlalu higienis denan mematikan semua bakteri ternyata tidak selalu baik, karena hal ini memiliki dampak yang cukup mengerikan.

Semoga bermanfaat.

Mengenal Alergi Musiman Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Mengenal Alergi Musiman : Penyebab, Gejala, dan Pengobatan,- Bersin, batuk, pilek, dan hidung tersumbat merupakan beberapa gejala alergi yang mungkin dialami. Pilek biasanya bisa terjadi dalam waktu beberapa hari, namun berbeda jika anda mengalami alergi musiman yang bisa terjadi dalam waktu yang lebih lama.

Jika Anda mengalami batuk, bersin, atau umumnya merasa sesak ketika terjadi perubahan musim, maka itu bisa menjadi tanda bahwa Anda mengalami alergi musiman.

Apa itu alergi musiman ?

Alergi musiman adalah reaksi alergi yang bisa dialami seseorang karena perubahan musim, atau dikenal juga sebagai alergi rhinitis atau demam hay. Ada jutaan orang di seluruh dunia yang memiliki masalah ini, merasakan hidungnya berair, kongesti, mata gatal, dan reaksi alergi lainnya hingga alergi musim tertentu.

Alergi musiman ini menyebabkan reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh, sebagai respon dari alergen berbeda yang ada di udara. Alergen adalah zat yang bertanggung jawab terhadap reaksi alergi. Ada banyak alergen yang dapat menyebabkan kondisi ini, biasanya dihadapi oleh individu yang mengidap alergi saat perubahan musim, sepert sebuk sari, jamur, debu, atau bulu hewan peliharaan.

Umumnya alergi musiman timbul beberapa kali selama setahun, dengan penderita mengalami gejala pada masa tertentu dalam tahun tersebut. Sebagian orang tidak sadar bahwa mereka memiliki alergi musiman, dan menganggap gejala yang dirasakan adalah pilek dan virus lainnya.

Demam hay atau alergi musiman ini seringkali menyerang anak-anak, namun reaksi alergi ini dialami pasien dengan berbagai usia. Berlawanan dengan anggapan umum, demam hay tidak disebabkan oleh jerami, dan reaksi alerginya tidak menyebabkan demam. Pada dasarnya, ini adalah peradangan pada hidung yang menimbulkan gejala seperti pilek, yang dapat berkurang atau hilang setelah udara bersih dari alergen.

Penyebab alergi musiman

Sama halnya dengan alergi lainnya, alergi musiman juga disebabkan oleh paparan pada alergen tertentu yang membuat sistem kekebalan tubuh menjadi kacau. Serbuk sari merupakan yang paling umum, dan datang dari berbagai sumber, seperti bunga, pohon, gulma, rerumputan, dan tanaman. Alergi musiman yang disebabkan oleh serbuk sari hanya muncul pada waktu tertentu dalam satu tahun.

Alergi serbuk sari tidak hanya timbul saat musim semi. Namun, saat musim panas, atau saat hari terasa panas, berangin, dan kering. banyak pusaran serbuk sari terbawa angin, dan dapat dihirup kapan saja. Saat hujan juga bisa menyebabkan alergi serbuk sari, hal ini disebabkan karena banyak bagian tumbuhan yang terbawa oleh hujan.

Sebagian orang juga alergi terhadap bulu hewan peliharaan seperti kucing dan anjing. Yang lain mengalami alergi musiman saat terpapar tungau, yang sering timbul pada cuaca kering dan berangin. Kecoa dan jamur juga merupakan pemicu alergi yang umum. Alergi ini biasanya ditemukan dalam ruangan, dan menyerang penderita sepanjang tahun.

Sebagian pasien menemui alergennya di tempat kerja. Serbuk kayu, binatang yang digunakan untuk penelitian di laboratorium, gandum dan sereal, zat kimia dan uap tertentu, dapat menyebabkan reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh.

Ketika seseorang dengan alergi musiman terpapar alergen, maka sisten kekebalan tubuh akan melepaskan berbagai jenis zat biokimia yang dapat menyebabkan peradangan pada membran mukus, dan lapisan dalam dari hidung. Ketika membran membengkak, akan menghasilkan lebih banyak lendir, sehingga hidung jadi berair.

Penelitian menunjukkan, alergi musiman bisa jadi merupakan kondisi turunan. Seseorang yang memiliki orangtua yang mengalami gejala serupa pada waktu tertentu dalam satu tahun, bisa jadi memiliki alergi rhinitis. Penelitian juga menemukan bahwa pasien dengan ibu yang memiliki alergi rhinitis, biasanya memiliki kondisi yang sama. Alergi rhinitis pada beberapa orang juga bisa disebabkan oleh makanan tertentu.

Gejala utama alergi musiman

Kebanyakan gejala alergi musiman hanya seputar sistem pernapasan, karena alergen ada di udara yang dihirup oleh individu. Namun, seringkali terjadi kesalahan dengan menganggap gejala alergi rhinitis dengan pilek, karena cukup sama.

Ketipa penderita terpapar alergen, biasanya akan mengalami kesulitan untuk mencium sesuatu, hidung berair, bersin-bersin, mata berair, hidung, mata, mulut, tenggorokan, dan kulit terasa gatal. Beberapa penderita juga mengalami hidung mampet, batuk, telinga tersumbat, mata bengkak dan timbul area gelap di sekitarnya, radang tenggorokan, sakit kepala, merasa lelah dan mudah tersinggung.

Pencegahan dan pengobatan yang tersedia

Gejala alergi musiman biasanya ringan dan tidak memerlukan kunjungan ke unit gawat darurat. Dokter keluarga atau dokter umum dapat memberikan resep obat alergi jika diperlukan atau tips hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi gejalanya.

Pengobatan terbaik untuk mengatasi alergi musiman yaitu membuat hidup bebas dari alergen. Pastinya, sulit untuk sepenuhnya menghindari alergen yang ada di udara, namun kewaspadaan dapat membantu. Mengurangi debu dan tungau di dalam rumah, juga jamur, tentunya dapat membantu. Membersihkan rumah secara teratur adalah langkay mudah yang dapat mengurangi timbulnya alergi musiman.

Memasan penyaring udara di dalam rumah, menggantu perabot dan kain pelapis, selimut, karpet, dan bahan tekstil lainnya yang dapat menyebabkan alergi, dan menggunakan alat untuk mengurangi kelembaban udara juga dapat membantu. Tetap di dalam ruangan saat musim sebuk sari juga dapat mengurangi timbulnya alergi.

Obat-obatan juga dapat bekerja untuk meredakan gejalanya. Antihistamine sering digunakan, dan dapat dibeli secara bebas. Antihistamine terdapat dalam bentuk cairan, kapsul, pil, namun dapat menyebabkan kantuk. Formula baru antihistamine tidak lagi menyebabkan kantuk, dan seharusnya dikonsumsi saat penderita perlu melakukan pekerjaan penting.

Waspada! Ternyata Pewarna Makanan Juga Bisa Picu Alergi

Waspada! Ternyata Pewarna Makanan Juga Bisa Picu Alergi,- Makanan yang memiliki beragam warna memang sangat menarik dan menggiurkan, terutama bagi anak-anak. Si kecil akan sangat menyukai makanan yang memiliki warna-warna yang cerah, karena dianggap lebih menggiurkan dan nikmat.

Namun, dibalik penampilannya yang cantik tersebut, ternyata pewarna dapat menimbulkan dampak negatif bagi sebagian orang. Beberapa orang tidak bisa mencerna pewarna makanan dan akhirnya mengalami alergi.

Mengapa seseorang bisa mengalami alergi pewarna makanan ?

Hampir semua zat aditif makanan pada dasarnya aman dikonsumsi. Namun, tidak semua orang bisa mencerna semua zat buatan dalam makanan, termasuk pewarna makanan. Meskipun jarang terjadi, namun bahan pewarna makanan tersebut diketahui dapat menimbulkan reaksi intoleransi.

Intoleransi makanan berarti tubuh tidak dapat memecah dan mencerna makanan dengan baik dan akhirnya menimbulkan dampak yang buruk. ntoleransi ini dapat berupa rasa gatal, hidung berair, dan asma. Sedangkan alergi adalah respon sistem kekebalan tubuh yang menganggap bahwa zat tertentu tersebut ebrbahaya, sehingga menimbulkan respon perlawanan.

Penelitian membuktikan 4 dari 9 pewarna makanan menyebabkan reaksi alergi. Meskipun terbilang jarang, namun dokter dari Universitas Michigan telah membuktikan bahwa alergi pewarna makanan bisa mengancam jiwa.

Sama halnya dengan gejala alergi lainnya, alergi pewarna makanan juga bisa menimbulkan gejala berupa, sakit kepala, diare, gatal-gatal, wajah atau bibir bengkak, sesak napas, mengi, pusing, detak jantung lebih cepat dari baisanya, tekanan darah rendah, pingsan, dan ruam kemerahan.

Lalu, pewarna makanan apa saja yang bisa memicu gejala alergi ?

Terdapat beberapa jenis pewarna makanan yang telah terbukti bisa memicu reaksi alergi, diantaranya yaitu :

*) Yellow 5

Yellow 5 atau disebut juga tartrazine adalah salah satu pewarna makanan kuning yang dapat menimbulkan reaksi alergi pada sebagian orang. Efek pewarna makanan tartrazine ini bisa menyebabkan gatal dan bengkak pada wajah serta dapat memicu asma pada anak.

Kelompok makanan yang biasanya menggunakan pewarna kuning ini adalah permen, sayuran kaleng, keju, minuman kemasan, es krim, dan saus tomat.

*) Carmine

Carmine atau disebut juga ekstrak cochineal atau dikenal sebagai natural red 4 telah digunakan sebagai pewarna makanan sejak abad ke-16. Namun, berbagai penelitian menemukan bukti bahwa pewarna tersebut bisa membuat berbagai reaksi alergi seperti pembengkakan pada wajah, ruam, hingga mengi.

Selain pada makanan, carmine juga banyak ditemukan dalam kosmetik. jika mengalami alergi pewarna makanan yang parah, maka bukan tidak mungkin akan timbul syok anafilaktik yang dapat mengancam jiwa.

Carmine biasanya ditemukan dalam berbagai bahan seperti sosis, permen, yoghurt buah, dan minuman kemasan.

*) Annato

Pewarna makanan annato berasal dari biji pohon achiote yang biasanya tumbuh di negara-negara tropis. Annato memberikan warna kuning oranye.

Beragai penelitian membuktikan jika pewarna kunnig ini bisa memicu reaksi alergi kulit ringan seperti gatal-gatal dan ruam. Selain itu, beberapa orang yang sensitif dengan pewarna makanan ini juga bisa menimbulkan syok anafilaktik.

Umumnya annato ditemukan dalam berbagai produk, seperti sereal, keju, minuman kemasan, dan makanan ringan.

Untuk menghindarinya, bacalah label kemasan sebelum membeli produk tertentu. Usahakan untuk membatasi atau menghindari produk yang mengandung pewarna buatan untuk meminimalisir risiko terjadi efek negatif pada tubuh.

Waspadai 6 Hal yang Menjadi Pemicu Alergi Seks Berikut !

Waspadai 6 Hal yang Menjadi Pemicu Alergi Seks Berikut !,- Mungkin kita sering mendengar mengenai alergi makanan, alergi udara, alergi bulu binatang, dan lainnya. Namun, apakah Anda pernah mendengar mengenai alergi seks ?

Ya, selain alergi makanan, ternyata ada alergi seks juga. Sebenarnya yang paling tepat bukan aktivitas seksnya yang membuat alergi namun reaksi alergi timbul akibat kontak permukaan kulit dengan sperma, untuk mengatasi masalah ini perempuan yang mengidap alergi sperma harus menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks.

Seorang seksolog klinis dan pembawa acara seri Sexpectation di YouTube, Lindsey Doe, menyebutkan ada beberapa gejala umum alergi seks, diantaranya sesak napas, kulit gatal, mata berair, hidung berair, pembengkakan vagina, sesak dada, muntah, diare, dan hilang kesadaran.

Dan berikut ini merupakan 6 hal yang menjadi pemicu alergi seks yang perlu diketahui, yaitu :

1. Rutinitas pra-seks

Jangan salah, apa yang diasup sebelum berhubungan pun bisa merusak hubungan seks. Anda mungkin tidak alergi terhadap seks, tetapi makanan yang dikonsumsi sebelum berhubungan seksual atau obat-obatan yang diminum sebelum tidur dan berhubungan dapat mengacaukan sistem kekebalan.

Beberapa hal bisa saja terjadi seperti reaksi tubuh karena menggunakan sabun yang mengiritasi kulit saat mandi. Bahan lain misalnya minyak pijat juga terkadang bisa memicu reaksi di kulit.

Jika memperhatikan reaksi alergi, pikirkan kembali apa yang telah dilakukan, kemudian coba hilangkan terlebih dahulu, jika reaksinya tidak timbul, maka besar kemungkinan memang itu penyebabnya.

2. Pelumas

Seperti kondom, pelumas mengadnung bahan yang dapat menyebabkan reaksi alergi. Gejala-gejalanya akan sangat mirip, seperti rasa terbakar, bengkak, dan ruam.

Doe menjelaskan, pelumas yang menawarkan rasa, sensasi dingin atau panas dapat memiliki sejumlah tambahan yang mungkin tidak disukai sistem tubuh.

Ia melanjutkan, gliserin merupakan salah satu bahan lain yang tidak hanya bisa menyebabkan reaksi alergi, juga memiliki potensi untuk mengubah menjadi gula dan memicu infeksi ragi dengan gejala yang mirip dengan alergi.

Bahan pengiritasi lain yang mungkin termasuk penghilang rasa sakit benzocaine dan lidocaine, L-Arginine untuk meningkatkan gairah, nitrosamine pengawet atau nonoxynol-9 untuk membunuh sperma.

Jika merasa memiliki alergi pelumas, disarankan berhenti menggunakannya untuk melihat apakah gejalanya hilang. Jika tidak, segera konsultasi ke dokter.

3. Lateks

Lateks merupakan salah satu bahan utama yang digunakan dalam kondom, tetapi sayangya banyak orang yang alergi terhadap bahan yang satu ini.

Lateks juga biasanya digunakan dalam beberapa mainan seks, sehingga memiliki alergi ini dapat menyebabkan sedikit masalah di ranjang. Jika Anda memiliki alergi lateks, maka kemungkinan akan mengalami iritasi vagina, gatal dan rasa seperti terbakar. Beberapa orang mungkin juga akan mengalami ruam.

Cara termudah untuk menentukan apakah kita memiliki alergi terhadap lateks atau tidak, yaitu jika timbul reaksi setiap kali berhubungan seks dengan menggunakan kondom atau produk lain yang mengandung lateks.

Selain itu, ada juga bahan lain dalam kondom dan alat kontrasepsi lain yang juga dapat menyebabkan reaksi buruk, yaitu kasein dan paraben. Reaksi ini biasanya hilang dalam beberapa hari.

Tidak ada peraturan untuk produk seks, sehingga produsen tidak perlu mencantumkan semua materi dalam produk mereka walau ada kemungkinan menyebabkan alergi. Untuknya, ada kondom non-lateks yang bisa dibeli, jadi Anda masih tetap bisa menikmati seks tanpa rasa khawatir.

4. Alat kontrasepsi

Beberapa perempuan mungkin mengalami respons alergi terhadap alat kontrasepsi, terutama jika baru mengubah metode kontrasepsi. Hal mudah yang bisa dilakukan adalah cari tahu apa yang terjadi setelahnya.

Apa gejalanya dan apa yang terjadi situ sama atau berbeda dari hari-hari tanpa ada reaksi alergi. Efek samping dari pil KB dapat termasuk sakit kepala, mual dan muntah, masalah perut dan diare, ruam, dan tekanan darah tinggi atau rendah.

Ini mirip dengan reaksi alergi, dan jika terus berlanjut, maka segera konsultasi dengan dokter untuk mencari opsi lain. Reaksi serupa dapat terjadi dengan kontrasepsi lain seperti implan, injeksi, dan NuvaRing.

Baca juga : Gejala yang Timbul pada Penerita Alergi Kondom

5. Orgasme

Meskipun sangat jarang, namun seseorang bisa saja mengalami alergi terhadap orgasme. Orang tersebut biasanya memiliki kondisi yang disebut dengan sindrom penyakit pasca-orgasme (POIS), atau sindrom penyakit pasca-ejakulasi.

Hal ini bisa membuat seseorang merasa lemah, demam, lelah, dan mudah tersinggung. Menurut Doe. Kondisi langka ini juga menyebabkan gejala mirip flu dimulai sesaat setelah ejakulasi.

Mereka kesulitan berkonsentrasi dan berusaha melawan kepala tersumbat segera setelah ejakulasi. Ia melanjutkan, para peneliti yang mempelajari POIS tidak semuanya setuju, tetapi banyak dari mereka percaya bahwa penyebabnya adalah sperma, baik pada spermanya sendiri atau wanita yang tubuhnya mengeluarkan respon alergi pada sperma pasangannya.

Pada dasarnya, protein dalam cairan memicu reaksi alergi, biasanya rasa sakit dan terbakar. Kita juga mungkin mengalami gatal-gatal, bengkak, sesak dada, pusing, diare, dan kehilangan kesadaran.

Menurut penelitia Tulan University baru-baru ini, POIS pertama kali didokumentasikan pada tahun 2002 dan ada lebih dari 50 kasus yang tercatat di seluruh dunia, tetapi bisa lebih tinggi jika pria belum pernah mendengar kondisi sebelumnya.

6. Trauma

Beberapa perempuan dapat mengalami reaksi di ranjang jika memiliki hubungan buruk dengan seks.

“Sepengetahuan saya, tidak ada alergi nyata untuk hubungan seksual, tetapi ada sesuatu yang sangat dekat yang disebut dispareunia atau hubungan seks yang menyakitkan” kata Doe.

Pada dasarnya, katanya, sesuatu yang bersifat psikologis yang mengendapkan respons fisiologis. Misalnya kekerasan dalam hubungan, rasa malu, atau tabu terhadap seksualitas atau kurangnya kepercayaan pada pasangan.

Gejala dispeurania termasuk rasa sakit saat penetrasi, rasa sakit saat berhubungan seks, rasa seperti terbakar yang bisa berlangsung selama berjam-jam setelah berhubungan seks.

Hal tersebut bisa disebabkan oleh masalah fisik dan emosional. Jika mengalami hal tersebut, Anda harus segera konsultasi dengan dokter.

Waspada! Faktor Pemicu Alergi Juga Ada di Dalam Rumah

Waspada! Faktor Pemicu Alergi Juga Ada di Dalam Rumah,- Alergi merupakan mekanisme perlindungan alami yang muncul saat sistem imun tubuh bekerja melawan balik partikel asing berpotensi bahaya yang masuk ke dalam tubuh. Ironisnya, banyak hal yang dianggap asing oleh sistem imun tubuh ini ternyata adalah hal-hal yang biasa kita temukan di sekitar kita.

Bagi sebagian orang, alergi menjadi suatu penyakit yang sangat mengganggu. Tidak hanya di luar rumah, tetapi juga di dalam rumah. Beberapa pemicu alergi juga terdapat di dalam rumah, sehingga dapat meningkatkan kemungkinan kambuhnya alergi.

Rumah adalah sebuah perangkat besar bagi alergen, yang membuat alergi semakin sulit untuka dihindari. Reaksi alergi bisa timbul sepanjang tahun, dipicu oleh alergen dalam ruangan. Dan berikut ini merupakan beberapa faktor pemicu alergi yang ada di dalam rumah yang perlu diwaspadai, yaitu :

Debu

Debu adalah kumpulan partikel sisa dari berbagai macam hal, mulai dari rerontokan daun kering, sel kulit mati, tanah, bangkai serangga, sisa makanan, serat, dan sampah lainnya.

Lumut

Lumut dan jamur akan tumbuh berkembang semakin baik di tempat gelap, basah, dan lembap, seperti kamar mandi, gudang, atau tempat-tempat dengan kebocoran.

di masa panennya, jamur dan lumut akan melepaskan spora mikrobik pemicu reaksi alergi. Sama halnya dengan gejala aelrgi serbuk sari bunga, asma bisa timbul akibat menghirup spora dalam jumlah yang besar.

Tungau

Tungau adalah penyebab utama dari alergi, dan debu yang terkumpul di sudut-sudut rumah menyediakan tempat tinggal yang nyaman bagi kutu mikroskopik ini. Tungau hidup dari sel-sel kulit mati yang dilepaskan setiap hari. Oleh karena itu, salah satu area favorit mereka adalah kasur, bersembunyi di seprai, sela-sela jahitan pinggir kasur, bantal, bahkan boneka koleksi anak.

Hewan peliharaan

Sebagai mekanisme adaptasi alami, anjing dan kucing jenis tertentu akan merontokkan bulu-bulunya. Bulu dan sel kulit mati yang rontok inilah yang menjadi penyebab timbulnya reaksi alergi, bukannya bulu yang masih menempel di badan dbinatang.

Selain itu, reaksi alergi juga bisa timbul akibat protein yang terkandung di dalam air liur dan/atau urin anjing, kucing, dan binatang-binatang pengerat (hamster, kelinci, tikus).

Partikel asing sisa binatang ini ringan, sehingga bisa beterbangan di udara, menempel di perabotan rumah dan bertahan sampai berbulan-bulan, hingga kemudian menjadi sarang tumbuhnya mutasi alergen yang mudah tersebar melalui udara.

Kecoa

Kecoa merupakan serangga penyebar bakteri dan penyakit. Yang lebih menyebalkan lagi, kecoa adalah salah stau binatang paling tahan banting dan sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar, terutama jika daerah tersebut memiliki banyak persediaan air dan makanan.

Apa yang menyebabkan alergi kecoa ? Hal ini disebabkan karena alergennya bisa ditemukan dalam enzim pencernaan, air liur, feses, dan tubuh kecoa. Bagi sebagian orang, alergi yang disebabkan oleh kecoa ini bis amenjadi faktor utama penyebab asma serius dan masalah pernapasan lainnya.

Insektisida pembasmi kecoa pun bisa menimbulkan reaksi alergi jika digunakan secara sembarangan, akibat racun yang terkandung dalam gas tersebut.

Namun, penderita bisa meminimalisir hadirnya pemicu alergi ini dengan menjauhkannya dari penderita alaergi. Menjaga rumah tetap bersih dan kering mungkin merupakan langkah paling penting untuk meminimalisir hadirnya pemicu alergi di dalam rumah.

Membersihkan rumah secara total adalah langkah awal untuk menjaga rumah bebas alergen. Air purifier atau pemurni udara juga memiliki peran penting untuk menjaga suhu ruangan tetap netral.

Langkah lain yang bisa dilakukan adalah menjauhkan hewan lpeliharaan agar tidak tidur di ranjang. Selain itu, sterilisasi kasur dari ngengat dan kutu busuk tidak kalah penting, jika perlu Anda juga bisa meminta bantuan dari profesional.

Langkah pencegah alergi lain adalah mencegah karpet dan plafon menjadi lembab akibat tumpahan atau kebocoran air. Jika hal ini terjadi, segera keringkat untuk mencegah kelembaban penyebab timbulnya jamur.

Terakhir, pilihlah perabot dan dekorasi rumah yang tepat untuk menciptakan rumah sehat bebas alergi.

 

Artikel terkait :

Cara Jadikan Rumah Anti Alergi
5 Langkah Efektif Bebaskan Rumah dari Debu
Meningkatkan Kualitas Udara di Rumah Bantu Cegah Alergi

Waspada! Inilah Jenis Alergi yang Bisa Bikin Wajah Gatal

Waspada! Inilah Jenis Alergi yang Bisa Bikin Wajah Gatal,- Alergi merupakan salah satu bentuk respon tubuh terhadap benda atau kondisi tertentu yang dianggap berbahaya. Biasanya alergi terdeteksi dengan berbagai tanda seperti gatal-gatal, pusing, mual, dan sebagainya.

Sampai sekarang penyebab pasti dari alergi masih belum diketahui. Alergi juga sampai saat ini masih belum bisa diobati. Namun, pengobatan alergi bertujuan untuk meredakan gejala alergi yang timbul.

Alergi biasanya diturunkan dalam keluarga. Namun, bukan berarti sudah pasti Anda terkena alergi jika orangtua memiliki alergi tertentu. Hanya saja, kemungkinan Anda terkena alergi akan lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki riwayat alergi dalam keluarga.

Alergi bisa terjadi ketika suatu benda asing terpapar pada tubuh dan menyebabkan sel imunitas tubuh bereaksi terlalu berlebihan, sehingga timbul gejala alergi. Paparan benda asing tersebut bisa dikonsumsi, inhalasi, bahkan sentuhan.

Berbagai gejala alergi bisa timbul seperti gangguan pada kulit (gatal, biduran, dan eksim), gangguan pada mata (mata berair dan gatal), gangguan pada hidung (hidung berair), gangguan pada saluran napas (asma), dan gangguan pada saluran pencernaan (diare).

Diantara beberapa gejala tersebut, wajah gatal merupakan salah satu gejala alergi yang sering terjadi. Ada beberapa jenis alergi yang bisa bikin wajah gatal, diantaranya adalah :

*) Makanan

Alergi makanan tertentu sering menyebabkan wajah gatal. Tingkat keparahan dari alaergi makanan bervariasi. Mulai dari wajah gatal, gangguan pencernaan, wajah bengkak, hingga sesak napas. Jika sudah menyebabkan bengkak pada wajah, lidah, dan tenggorokan, berarti alergi yang dialami sudah sangat parah dan dapat menyebabkan reaksi anafilaksis. Jika hal ini terjadi, maka sebaiknya segera ke unit gawat darurat untuk segera dilakukan tindakan medis.

*) Binatang

Berbagai jenis binatang juga bisa menjadi penyebab wajah gatal. Penyebabnya bukan hanya bulu dari binatang tersebut, tetapi juga karena air liur dan sel kulit matinya. Gejala lain alergi binatang selain wajah gatal adalah berupa bersin hingga sesak napas.

*) Obat-obatan

Obat-obatan selain yang dikonsumsi dan dioleskan pada wajah juga bisa menyebabkan wajah gatal. Untuk obat minum, biasanya juga menyebabkan gatal pada area tubuh lain seperti tangan, perut, dan kaki. Alergi obat yang parah juga bisa menyebabkan reaksi anafilaksis.

*) Dermatitis kontak

Zat alergen lainnya juga bisa menyebabkan wajah gatal. Namun, zat alergen tersebut belum tentu menyebabkan alergi ke orang lain. Zat alergen tersebut dapat berupa sabun, sampo, deterjen, dan lain-lain. Biasanya, zat alergen ini akan menyebabkan alergi di bagian kulit manapun yang terjadi kontak, tak hanya pada wajah.

*) Eksim

Eksim juga bisa menyebabkan wajah gatal. Selain itu, gejalanya juga bisa berupa bercak merah dan bersisik. Penyebab pasti dari eksim atau dermatitis atopik ini masih belum diketahui secara pasti. Penderita asma dan alergi musim lebih berisiko mengalami eksim.

*) Alergi musim

Wajah gatal bisa disebabkan oleh alergi musim atau sering disebut dengan hay fever. Biasanya alergi musim terjadi saat musim menjelang berangin dan dingin. Gejalanya dapat berupa wajah gatal, mata merah, berair, gatal, hingga bengkak. Bahkan alergi juga bisa menjadi konjungtivitas atau peradangan konjungtiva mata jika sudah cukup parah.

 

Baca juga :

Solusi Herbal untuk Atasi Ruam di Wajah karena Alergi
Mengobati Alergi pada Wajah Bayi
Penyakit Alergi Kosmetik pada Kulit Wajah

Mengejutkan! Tisu Basah Ternyata Bisa Picu Alergi pada Anak

Mengejutkan! Tisu Basah Ternyata Bisa Picu Alergi pada Anak,- Tisu basah merupakan salah satu keperluan yang selalu tersedia dalam tas bayi, terutama saat melakukan perjalanan jauh. Saat si kecil buang air besar atau buang air kecil, orantua akan mengandalkan tisu basah untuk membersihkan area yang kotor tersebut.

Selain itu, jika tangan dan kaki anak kotor dan tidak ada air, maka tinggal di lap saja. Tisu basah memang memiliki peranan yang cukup besar di kehidupan sehari-hari. Namun, ternyata penggunaan tisu basah secara terus menerus memiliki dampak negatif.

Sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology mengungkapkan bahwa kebiasaan orangtua menggunakan tisu basah untuk membersihkan kulit anak dapat meningkatkan risiko alergi.

Hal ini disebabkan karena kandungan sabun pada tisu basah dapat menghilangkan lipid atau minyak alami yang berfungsi untuk melindungi kulit. Jika sisa sabun ini tidak segera dibilas, maka bayi akan menyerap lebih banyak zat kimia yang dapat memicu reaksi alergi.

Inilah mengapa, jumlah kasus alergi di Amerika Serikat meningkat sebanyak 20% selama 20 tahun terakhir. Para penelitin secara khusus memperinagtkan para orangtua yang anaknya secara genetis berpotensi memiliki alergi dengan kondisi dermatitis atopik.

Perlu diketahui, dermatitis atau eksim atopik adalah kondisi kronis yang menyebabkan gatal-gatal. Kondisi ini disebabkan oleh mutasi genetik yang mengganggu protein kulit yang berfungsi menciptakan perlindungan.

Penulit utama studi dan profesor alergi-imunologi di Northwestern University, Joan Cook-MIlls, mendapati bahwa dermatitis atopik tidak serta merta terjadi hanya karena paparan terhadap alergen, seperti kacang.

Ia mendapatkan ide mengenai pengaruh tisu basah setelah membaca beberapa studi yang menunjukkan bahwa obat-obatan untuk dermatitis atopik diberikan kepada kulit yang baru disabun untuk memecah perlindungannya.

Untuk membuktikan hipotesisnya, Mills bersama dengan koleganya kemudian melakukan pengujian terhadap bayi tikus yang memiliki mutasi dermatitis atopik.

Mereka mengaplikasikan natrium laurel sulfat, bahan sabun yang biasa ditemukan pada tisu basah, ke kulit tikus. Setelah itu, selama 2 minggu, bayi tikus diberi 3 sampai 4 kali paparan terhadap alergen dengan durasi 40 menit dan diberi makan kacang atau telur.

Meskipun seharunya tikus tidak menunjukkan reaksi gatal-gatal dan kulit kering sampai berusia beberapa bulan yang setara dengan usia manusia dewasa muda, bayi tikus dalam studi langsung mengalami iritasi pada usus dan area kulit yang terpapar. Bayi tikus juga menunjukkan anafilaksis atau reaksi alergi berat di seluruh tubuh.

Ia menyebutkan, bayi mungkin tidak memakan alergen ketika baru lahir, namun mereka mendapatkannya dari kontak kulit. Misalnya saat saudara dengan selai kacang diwajahnya mencium bayi, atau orangtua yang mempersiapkan makanan dengan kacang tiba-tiba menggendong bayi.

Dibandingkan dengan menggunakan tisu basah, Cook-Mills lebih menyarankan untuk mencuci tangan bayi karena efek sabun akan terbilas, Selain itu, jangan lupa untuk selalu mencuci tangan sebelum memegang bayi untuk mengurangi paparan terhadap alergen.

 

Artikel terkait :

Cara Menghindarkan Anak dari Alergi
Obat Alergi Anak 1 Tahun
Obat Alergi Anak Tradisional

Mengetahui Keterkaitan Antibiotik dengan Peningkatan Alergi

Mengetahui Keterkaitan Antibiotik dengan Peningkatan Alergi,- Para ilmuwan telah memperinagtakn untuk pengembangan bakteri yang resisten terhadap obat, sehingga lebih sulit untuk melawan penyakit menular. The Centers for Disease Control and Prevention memperkirakan bahwa bakteri yang resisten terhadap obat menyebabkan 23 ribu kematian, dan 2 juta penyakit setiap tahunnya.

Namun, ketika memikirkan tentang antibiotik yang berlebihan, umumnya tidak ada yang mengaitkannya alergi. Penelitian mulai menunjukkan bahwa mungkin setiap orang harus melakukannya.

Antibiotik sebabkan alergi semakin sering terjadi

Dalam 2 sampai 3 dekade terakhir, ahli imunologi dan ahli alergi telah mencatat peningkatan prevalensi alaergi yang dramatis. American Academy of Asma, Allergy, and Immunology, melaporkan bahwa sekitar 40-50% anak sekolah di seluruh dunia peka terhadap satu atau lebih alergen.

Yang paling umum adalah alergi kulit seperti eksim (10%-17%), alergi pernapasan seperti asma dan rinitis (-10%), dan alergi makanan seperti pada kacang (-8%). Ini tidak hanya terjadi di AS, tetapi negara industri lain juga mengalami peningkatan.

Kenaikan ini telah menggambarkan peningkatan penggunaan antibiotik, terutama pada anak-anak untuk infeksi virus yang umum seperti pilek, dan sakit tenggorokan. Studi terbaru menunjukkan bahwa mereka mungkin terhubung.

Antibiotik bisa mengganggu mikrobioma usus

Sementara antibiotik melawan infeksi, mereka juga mengurangi bakteri normal dalam sistem pencernaan, yang disebut mikrobiom usus. Hal ini disebabkan karena interaksi antara bakteri usus dan ekuilibrium normal sel sistem kekebalan tubuh, mikrobiom usus berperan penting dalam pematangan respon imun.

Apakah lebih banyak mikroba berarti lebih sedikit alergi ?

Penelitian yang dilakukan di Eropa telah menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh di peternakan memiliki keragaman mikroba yang lebih luas di usus, dan memiliki sampai 70% penurunan prevalensi alergi dan asma dibandingkan dengan anak-anka yang tidak tumbuh di peternakan.

Hal ini disebabkan karena paparan berbagai mikroba semacam itu kemungkinan sistem kekebalan tubuh mengalami pematangan yang seimbang, sehingga memberikan perlindungan terjadap respons kekebalan yang tidak tepat.

Dalam usaha untuk mencegah infeksi, mungkin saat ini juga sedang mempersiapkan anak-anak untuk mengembangkan alergi, dan asma yang mengancam jiwa. Misalnya, sebuah penelitian dari 2005 menemukan bahwa bayi yang terpapar antibiotik dalam 4-6 bulan pertama memiliki risiko 1,3 sampai 5 kali lipat lebih tinggi untuk mengembangkan alergi.

Mengenal Penyebab dan Jenis Alergi yang Sering Dialami Bayi

Mengenal Penyebab dan Jenis Alergi yang Sering Dialami Bayi,- Alergi merupakan bentuk reaksi imun tubuh secara berlebihan pada benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Hampir setiap orang pasti pernah mengalami reaksi alergi, baik itu karena debu, makanan yang dikonsumsi, paparan zat kimia, atau yang lainnya. Kondisi alergi ternyata juga bisa dialami oleh bayi. Bahkan, bayi merupakan sumjek yang paling rentan mengalami alergi, mengingat sistem imunitas tubuhnya belum terbentuk dengan sempurna.

Meksipun alergi merupakan reaksi normal dari tubuh, namun alergi pada bayi tidak boleh disepelekan begitu saja. Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan bayi mengalami alergi. Namun, faktor genetiklah yang paling sering memainkan peran penting dalam terjadinya alergi pada bayi. Selain itu, faktor lain yang sering menjadi penyebab alergi pada bayi adalah makanan dan lingkungan.

Hampir sekitar 6 juta anak memiliki alergi terhadap makanan. Alergi ini juga biasanya lebih banyak dialami oleh anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan. Jenis makanan yang paling sering membuat anak mengalami alergi diantaranya adalah kacang, susu sapi, telur, sea food, kedelai, dan tepung terigu.

Sedangkan alergi yang disebabkan oleh faktor lingkungan biasanya terjadi karena paparan dari benda-benda yang ada di dalam ataupun di luar ruangan, seperti serbuk sari, debu tungau, bulu binatang, jamur, atau kecoak.

Selain 3 faktor tersebut, ada juga beberapa faktor lain yang bisa menyebabkan bayi mengalami alergi. Seperti gigitan serangga yang menyebabkan kulit bengkak, gatal, dan memerah. Atau efek obat-obatan dan bahan kimia tertentu, misalnya detergen yang bisa menyebabkan alergi pada kulit bayi.

Mengenal Jenis Alergi yang Sering Dialami Bayi

Ada 4 jenis alergi yang sering dialami bayi yang perlu diketahui dan diwaspadai, diantaranya adalah :

Dermatitis kontak

Dermatitis kontak adalah jenis alergi pada bayi yang ditandai dengan kulit kemerahan yang timbul segera setelah terpapar dengan suatu iritan atau pemicu alergi. Kulit bayi akan terlihat kering dan tampak bersisik. Konsultasikan dengan dokter jika Anda mencurigai gejala-gejala yang dialami oleh si kecil.

Urtikaria kronis

Urtikaria kronis merupakan reaksi alergi pada bayi yang tergolong berat. Urtikaria timbul dengan ditandai adanya ruam kemerahan yang lebar setelah kontak dengan alergen. Tiak seperti alergi kulit yang lainnya, urtikaria kronis tidak menyebabkan kulit menjadi kering. Gejala lain yang timbul antara lain sulit bernapas atau bengkak pada mulut dan wajah. Pada sebagian besar kasus, urtikaria kronis akan hilang dengan sendirinya selama terhindar dari paparan alergen.

Dermatitis atopik (eksem)

Diperkirakan sekitar 1 dari 10 bayi dilaporkan mengalami kondisi dermatitis atopik atau yang lebih sering dikenal dengan nama eksem. Dermatitis atopik merupakan kondisi peradangan kulit yang ditandai dengan kulit kemerahan dan terasa gatal.

Sebagian besar kondisi alergi ini dialami oleh bayi yang tidak mendapatkan ASI dan diberikan susu formula dengan bahan dasar susu sapi. Namun, seiring waktu, alergi susu ini bisa hilang mengingat pencernaan bayi yang sudah semakin sempurna.

Beberapa gejala yang bisa timbul jika bayi mengalami dermatitis atopik, seperti diantaranya :

*) Ruam merah yang tersebar pada tubuh akibat digaruk
*) Gatal-gatal, terutama di malam hari
*) Luka melepuh yang mengeluarkan cairan. Dalam beberapa kasus, luka ini akan menjadi luka terbuka jika digaruk
*) Kulit kering, pecah-pecah, dan bersisik

Alergi rhinitis

Apa ibu pernah menemukan si kecil yang bersih tanpa henti secara tiba-tiba ? Jika iya, mungkin anak ibu sedang mengalami alergi rhinitis. Gejala utama dari alergiini memang berupa bersin-bersin, beringus, hingga hidung tersumbat. Umumnya, alergi rhinitis disebabkan karena bayi terpapar debu, serbuk sari, atau bulu binatang. Dalam kondisi yang tergolong berat, gejala rhinitis yang dialami bisa meliputi serangan asma atau sesak napas.

 

Artikel terkait :

Mengobati Alergi pada Wajah Bayi
Cara Mengatasi Gejala Alergi Bayi
Cara Menghilangkan Bintin Merah pada Dada dan Perut Bayi

Perbedaan Alergi Kafein dengan Sensitivitas Terhadap Kafein

Perbedaan Alergi Kafein dengan Sensitivitas Terhadap Kafein,– Minum teh atau kopi sudah menjadi kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan oleh sebagian besar orang. Namun, sayangnya tidak semua orang bisa mengonsumsiminuman ini. Bukan dikarenakan tidak suka, tetapi karena alergi terhadap kandungan kafein yang ada didalamnya.

Alergi merupakan penyakit autoimun, sebuah kondisi yang disebabkan oleh kerja sistem imun yang keliru mengira zat jinak yang sebenarnya aman dan bermanfaat bagi tubuh sebagai sebuah zat asing yang mengancam.

Pada mereka yang memiliki alergi kafein, tubuhnya menganggap asupan kafein sebagai suatu bahaya dengan memproduksi antibodi yang disebut dengan immunoglobin E. Antibodi ini kemudian memicu sertiap sel tubuh untuk melawan balik kafein yang menyerang tubuh. Pertempuran ini akhirnya menyebabkan reaksi peradangan pada tubuh seperti kuilt gatal-gatal, ruam, dan bengkak.

Pada umumnya makanan penyebab alergi adalah protein khusus yang terkandung dalam telur, susu, kacang, dan seafood. Namun, penyebab alergi kafein belum sepenuhnya dapat diketahui.

Mungkin ada yang mengira jika alergi kafein sama dengan sensitivitas terhadap kafein, padahal keduanya merupakan hal yang berbeda dan bertolak belakang. Sensitivitas terhadap kafein mengacu pada masalah pencernaan, karena lambung yang memang tidak cocok dan tidak dapat mencerna kafein dengan baik.

Baca juga : Gejala Alergi Kopi

Beberapa tanda dan gejala yang dapat timbul jika mengalami sensitivitas terhadap kafein dianataranya seperti :

  • Letih
  • Gugup
  • Gelisah
  • Susah tidur
  • Sakit kepala
  • Perut kembung
  • Jantung berdebar
  • Asam lambung naik
  • Sakit perut/perut perih
  • Sensasi panas di ulu hati (heathburn)

Sedangkan alergi kafein pada dasarnya masih termasuk ke dalam alergi makanan. Alergi makanan disebabkan oleh sistem imun yang bereaksi secara abnormal terhadap sesuatu yang dikonsumsi, karena tubuh menganggapnya sebagai ancaman.

Reaksi alergi makanan dapat memengaruhi kulit, saluran pencernaan, hingga sistem pernapasan atau kardiovaskular. Gejala alergi kafein ini bisa timbul dalam waktu 1 jam setelah mengonsumsi kafein. Beberapa gejala yang bisa timbul diantaranya adalah :

  • Diare
  • Kram perut
  • Pembengkakan di bibir dan lidah
  • Mulut, bibir, dan lidah terasa gatal
  • Kulit mengalami ruam dan benolan merah yang terasa gatal

Jika gejala yang timbul termasuk ruam kulit dan masalah pernapasan, maka kemungkinan besar dokter dapat memastikan jika keluhan yang Anda alami adalah tanda alergi.

Namun, seperti kebanyakan alergi lainnya, dokter akan melakukan tes kulit untuk mendiagnosis alergi. Dokter akan menaruh sedikit alergen pada lengan Anda dan melihat apakah ada reaksi yang ditimbulkan setidaknya dalam waktu 24 jam.

Cara Pengobatan Alergi Kafein

Berbeda dengan sensitivitas kafein yang tidak memerlukan pengobatan khusus, alergi dapat diobati dengan obat alergi antihistamin untuk mengurangi gatal serta pembengkakan yang terjadi. Pada kasus yang sangat jarang, seseorang yang alergi kadein parah dan rentan mengalami syok anafilaktik dapat diberikan suntik epinephirine (adrenalin).

Jika Anda, keluarga, aatu teman mengalami tanda-tanda syok anafilaktik, mak segera kunjungi rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis darurat.