Hipersensitifitas Saluran Cerna Pada Bayi

Satu dari 3 manusia sehat cenderung mengalami  hipersensitifitas saluran cerna. Hal ini akan lebih sering  terjadi pada anak dibawah usia 5 tahun dengan  kemungkinan sekitar 30-40% anak mengalami  hipersensitifitas saluran cerna. Karena pada sebagian  besar anak terjadi imaturitas atau ketidak matangan  saluran cerna.

Hipersensitifitas Saluran Cerna pada Bayi

Hipersensitifitas saluran cerna biasanya hanya  merupakan gangguan fungsional dan selama ini  dianggap normal. Tapi, jika dicermati ternyata  gangguan ini sering menyebabkan berbagai hal yang  sangat mengganggu yang sering tidak disadari.  Gangguan tersebut bisa berupa gangguan  pertumbuhan berat badan, gangguan sulit makan,  gangguan perilaku, dan gangguan perkembangan  lainnya.

Berbagai tanda dan gejala gangguan hipersensitifitsd  saluran cern apada bayi sangat bervariasi, seperti  diantaranya :

  • Gastrooesepageal efluks, sering muntah/gumoh,  kembung, dan cegukan
  • Sering Hiccup atua cegukan
  • Buang angin keras dan sering
  • Sering rewel dan gelisah atau kolik menangis  berkepanjangan dan menangis keras mengking lebih  dari 15 menit. Biasanya terjadi karena perutnya  merasa tidak nyaman atau sakit. Keluhan ini timbul  terutama mulai dari sore hari hingga malam hari dan  puncaknya pada saat dini hari atau saat subuh. Nyeri  perut atau gelisah pada malan hari ini biasanya akan  berkurang setelah usia 3 bulan.
  • BAB lebih dari 3 kali sehari, feses cair, terdapat seperti  biji cabe, sering berak sedikit tapi sering
  • BAB tidak teratur atau tidak setiaphari, Feses  berwarna hitam, hijau, dan berbau, disertai dengan  ngeden
  • Sering ngeden. Biasanya disertai dengan  herniaumbilikalis (pusar), scrotalis, inguinalis atau  hidrokel.
    Air liur berlebihan
  • Mulut sensitif. Sering timbul putih di lidah dan kadang  sulit dibedakan dengan jamur (candidiasis) atau  memang kadang juga disertai dengan infeksi jamur.  Bibir tampak kering atau pada beberapa kasus  terkadang bibir bagian tengah berwarna lebih gelap  atau biru.
  • Produksi air liur meningkat, sehingga sering ngecers  dan biasanya disertai bayi sering menjulurkan lidah ke  luar atau menyembur-nyemburkan ludah dari mulut.

Penyebab Hipersensitifitas Saluran Cerna Pada Bayi

Genetik hipersensitifitas saluran cerna biasa terjadi  karena secara genetik atau bakat ilmiah. Biasanya  faktor keturunan sangan berperan. Faktor fenotipe  atua kesamaan wajaha, misalnya orang tua, aank atau  saudara yang memiliki wajah yang sama biasanya  akan mengalami gangguan hipersensitifitas saluran  cerna yang sama. Dianggap sebagai bagian terpisah  penderita hipersensitifitas saluran cerna biasanya tidak  hanya mengalami satu gejala saja, misalnya disertai  dengan gejala alergi lainnya, seperti asma, hidung  tersumbat, dan dermatitis (alergi kulit). Penderita  sensitif saluran cern abiasanya terganggu beberapa  organ tubuhnya khususnya saluran cerna secara  bersamaan meskipun dalam bentuk yang ringan.

Infeksi virus atau infeksi lain selama inu setiap  ganguan alergi atau sensitif saluran cerna pada bayi  sering divonis sebagai alergi susu sapi atau alergi  makanan. Padahal, seringkali justru infeksi virus dapat  memicu atau memperberat gangguan yang sudah ada  sebelumnya. Infeksi virus atau infeksi lain yang terjadi  diluar saluran cerna namun dapat menggaggu saluran  cerna.

Alergi Logam Pada Kulit

Istilah alergi merujuk pada suatu reaksi yang  berubah terhadap suatu bahan tertentu (alergen)  yang melibatkan sistem imun tubuh dan hanya  terjadi pada orang-orang tertentu.

Alergi Logam pada kulitBanyak orang yang mengalami alergi ketika  menggunakan aksesoris yang terbuat dari logam,  emas, perak, atau yang lainnya. Dan beberapa  penelitian mengungkapkan bahwa perempuan  lebih rentan mengalami alergi logam dibandingkan  dengan laki-laki , karena pengguaan perhiasan.  Logam yang beresiko menimbulkan alergi adalah  nikel yang umunya terdapat pada jam tangan,  penjepit rambut, perhiasan, gunting, dan  sebagainya. Selain aksesoris dan perhiasan,  perabotan rumah tangga juga menggunakan  bahan dari kobalt, nikel, kromium, dan sebagainya  yang dapat menyebabkan alergi pada seseorang  yang alergi logam, khususnya wanita.

Alergi pada logam akan terlihat ketika kulit  penderita bersentuhan dengan logam. Jika  perhiasan atau aksesoris dihilangkan maka gejala  akan hilang dalam beberapa hari. Alergi pada  logam ini akan semakin parah dengan adanya  keringat. Penderita akan mengalami rasa gatal  yangmuncul sekitar 12-20 menit setelah kulit  bersentuhan dengan pemicu alergi. Gejala pada  kulit tersebut dapat muncul dalam waktu satu jam.  Jika penderita tidak berkeringat maka perhiasan  atau aksesoris yang mengandung logam dapat  digunakan dalma waktu beberapa jam tanpa  timbul gejala apapun.

Berikut merupakan beberapa penyebab alergi  logam yang bisa terjadi pada kulit :

  • Air laut serta tanah yangmengadnungbeberapa  logam
  • Ketika mengalami kontak terus menerus dengan  logam
  • Perhiasan yang mengdung nikel
  • Pengguaanperalt gigi, pemantik rokok. pengeriting  bulu mata, ikat pinggang, dan sebagainya.

Bagi seseorang yang memiliki riwayat alergi  terhadap logam, namun ingin menggunakan  perhiasan atau aksesoris yang mengandung logam  disarankan untuk melapisi perhiasan tersebut  dengan cat kuku yang berwarna netral atau  menyemprotnya dengan bahan yang berisi  kortikosteroid dan mengharuskan untuk  menggunakannya dalam keadaan sekitar yang  sejuk untuk menghindari timbulnya keringat.

Intoleransi Laktosa

09. Isomil - TENTANG INTOLERANSI LAKTOSAIntoleransi laktosa adalah kondisi dimana laktase, sebuah enzim yang diperlukan untuk mencerna laktosa tidak diproduksi dalam masa dewasa. Laktosa merupakan gula alami yang terdalam susu atau produk susu, seperti keju, yoghurt, dan sebagainya. Intoleransi laktosa lebih sering terjadi pada orang dewasa dibandingkan anak-anak. Intoleransi laktosa bukanlah sesuatu yang menakutkan, namun dampak dari gangguan ini seringkali mengganggu penderitanya.

Tingkat intoleransi laktosa pada masing-masing orang berbeda tergantung banyaknya jumlah enzim laktase yang dapat diproduksi oleh tubuh. Oleh sebab itu, ada beberapa orang yang masih bisa mengonsumsi makanan dengan kandungan sedikit laktosa, tapi juga ada beberapa orang yang harus benar-benar menghindarinya.

Perbedaan Intoleransi Laktosa Dengan Alergi Susu

Intoleransi laktosa berbeda dengan alergi susu. Alergi susu atau alergi makanan terjadi karena masalah dengan sistem pertahanan tubuh, yang disebut dengan sistem kekebalan tubuh. Sebaliknya, intoleransi laktosa diakibatkan karena tidak memiliki laktase yang cukup. Gejala alergi susu dimulai tepat setelah mengonsumsi susu, namun gejala intoleransi laktosa memerlukan waktu lebih lama untuk menimbulkan gejala.

Perbedaan lain antara alergi susu dengan intoleransi laktosa adalah bahwa penderita alergi susu harus menghindari semua makanan atau minuman yang mengandung susu, karena konsumsi protein susu sedikit saja dapat memicu reaksi kekebalan tubuh yang berbahaya. Berbeda dengan penderita intoleransi laktosa yang masih dapat mengonsumsi susu dan produk olahan dengan kandungan laktosa yang lebih sedikit. Penderita alergi protein susu umumnya terjadi pada bayi dan anak-anak, sedangkan intoleransi laktosa lebih umum terjadi pada orang dewasa.

Secara garis besar, intoleransi laktosa disebabkan oleh ketidak mampuan sistem pencernaan manusia dalam membentuk laktase (enzim pada usus), yang berfungsi untuk mencerna laktosa yang masuk ke dalam tubuh. Beberapa penderita juga mengalami intoleransi karena berhentinya produktifitas usus kecil dalam menciptakan laktase setelah sakit, seperti flu atau setelah operasi.

Gejala Intoleransi Laktosa

Gejala intoleransi laktosa biasanya dimulai dalam waktu setengah hingga dua jam setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa. Gejala intoleransi laktosa meliputi :

  • Diare
  • Mual
  • Perut kram
  • Kembung
  • Sering buang gas

Meskipun kondisi tersebut menimbulkan ketidaknyamanan, tapi kondisi ini tidak menyebabkan masalah serius. Salah satu cara untuk menghindari gejala intoleransi laktosa adalah dengan mengurangi konsumsi makanan yang mengandung laktosa. Selain susu, terdapat beberapa jenis makanan yang juga mengandung laktosa, seperti es krim, cream, butter, beberapa jenis keju (termasuk keju cottage), yoghurt, dan sebagainya. Selain itu, laktosa juga sering ditambahkan pada beberapa jenis makanan olahan, diantaranya roti panggang, sereal, campuran untuk kue, cookies, pancake, dan biskuit, kentang instan dan sup, salad, dan margarin.

Beberapa orang dengan intoleransi laktosa masih bisa mengonsumsi beberapa makanan yang mengandung laktosa, namun hanya dalam jumlah yang sedikit. Misalnya, mereka mungkin bisa makan keju yoghurt, seperti cheddar. Ada juga yang bisa mentolerir susu jika mereka meminumnya dalam jumlah kecil atau minum saat makan. Jika tidak bisa mentolerir sejumlah susu atau produk susu, Anda harus bisa menemukan cara lain untuk mendapatkan cukup kalsium. Kalsium diperlukan untuk kesehatan tulang dan gigi.

Orang dengan batas intoleransi laktosa dapat mengonsumsi produk-produk bebas laktosa, seperti susu kedelai, susu almond, dan susu beras. Semoga bermanfaat.

4 Macam Reaksi Hipersensitivitas

Reaksi hipersensitivitas merupakan reaksi berlebihan  atau reaksi yang tidak diinginkan, karena terlalu sensitifnya respon imun (merusak, menghasilkan ketidaknyamanan , dan terkadang berakibat fatal) yang dihasilkan oleh sistem kekebalan normal. Berdasarkan mekanisme dan waktu yang dibutuhkan untuk reaksi, hipersensitivitas terbagi menjadi empat tipe, yaitu tipe I, tipe II, tipe III, dan tipe IV.

4 Macam Reaksi Hipersensitivitas

Hipersensitivitas Tipe I

Hipersensitivitas tipe I atau disebut juga dengan reaksi cepat, reaksi alergi atau reaksi anafilaksis ini merupakan respon jaringan yang terjadi akibat adanya ikatan silang antara alergen dan IgE. Reaksi ini berhubungan dengan kulit, mata, nasofaring, jaringan bronkopulmonasi, dan saluran gastrointestinal. Reaksi ini dapat menimbulkan gejala yang beragam, mulai dari ketidaknyamanan kecil hingga kematian. Waktu reaksi berkisar antara 15-30 menit setelah terpapar antigen, namun terkadang juga dapat mengalami keterlambatan awal hingga 10-12 jam. Berikut mekanisme umum dari reaksi tersebut :

  • Alergen berkaitan silang dengan IgE
  • Sel mast dan basofil mengeluarkan amina vasoaktif dan mediator kimiawi lainnya
  • Timbul manifestasi

Manifestasi yang dapat ditimbulkan dari reaksi ini adalah berupa anafilaksis, urtikaria, asma bronchial, atau dermatitis. Uji diagnortik yang dapat digunakan untuk mendeteksi hipersensitivitas tipe I adalah tes kulit (tusukan atau intradermal) dan ELISA untuk mengukur IgE total dan antibodi IgE spesifik untuk melawan alergen (penyebab alergi) yang dicurigai.

Hipersensitivitas Tipe II

Hipersensitivitas tipe II disebabkan oleh antibodi yang berupa Imunoglobulin G (IgG) dan Imunoglobulin E (IgE) untuk melawan antigen pada permukaan sel dan matriks rkstraseluler. Reaksi ini dapat disebut juga sebagai reaksi sitotoksik atua reaksi sitolitik. Kerusakan yang ditimbulkan akan terbatas atau spesifik pada sel atauu jaringan yang secara langsung berhubungan dengan antigen tersebut. Pada umumnya, antibodi yang langsung berinteraksi dengan antigen permukaan sel akan bersifat patogenik dan menimbulkan kerusakan pada target sel. Hipersensitivitas dapat melibatkan reaksi komplemen atau reaksi silang yang berkaitan dengan antibodi sel, sehingga dapat pula menimbulkan kerusakan jaringan. Beberapa tipe dari hipersensitivitas tipe II yaitu sebagai berikut :

  • Pemfigus , IgG bereaksi dengan senyawa intraseluler diantara sel epidermal
  • Anemia Hemolitik Autoimun, dipicu oleh obat-obatan seperti pensilin yang dapat menempel pada permukaan sel darah merah dan berperan seperti hapten untuk produksi antibodi kemudian berkaitan dengan permukaan sel darah merah dan menyebabkan lisis sel darah merah
  • Sindrom Goodpasture, IgG bereaksi dengan membran permukaan glomerulus, sehingga menyebabkan kerusakan pada ginjal

Mekanisme singkat dari reaksi hipersensitivitas tipe II adalah sebagai berikut :

  • IgG dan IgM berikatan dengan antigen di permukaan sel
  • Fagositosis sel target atau lisis sel target oleh komplemen, ADCC dan atua antibodi
  • Pengeluaran mediator kimiawi
  • Timbul manifestasi (anemia hemolitik autoimun, eritoblastosis fetalis, sindrom Good Pasture atau pemvigus vulgaris)

Hipersensitivitas Tipe III

Hipersensitivitas tipe II merupakan hipersensitivitsa kompleks imun. Hal ini disebabkan adanya pengendapan kompleks antigen-antibodi yang kecil dan terlarut dalam jaringan. Hal ini ditandai dengan timbulnya inflamasi atau peradangan. Pada kondisi normal, komleks antigen-anibodi yang diproduksi dalam jumlah besar dan seimbang akan dibersihkan dengan adanya dagosit. Namun terkadang kehadiran bakteri, virus, lingkungan anatu antigen seperti spora fungi, bahan sayuran, dan hewan yang persisten akan membuat tubuh secara otomatis memproduksi antibodi terhadap senyawa asing tersebut, sehingga terjadi pengendapan kompleks antigen-antibodi secara terus menerus. Pengendapan antigen-antibodi tersebut akan menyebar pada membran sekresi aktif dan didalam saluran kecil, sehingga dapat memengaruhi beberapa organ seperti kulit, ginjal, paru-paru, sendi, atau dalam bagian koroid pleksus otak. Secara umum, mekanisme reaksi tipe III ini adalah :

  • Terbentuknya kompleks antigen-antibodi yang sulit difagosit
  • Mengaktifkan komplemen
  • Menarik perhatian Neutrofil
  • Pelepasan enzim lisosom
  • Pengeluaran mediator kimiawi
  • Timbul manifestasi, seperti reaksi Arthus, serum sickness, LES, AR, Glomerulonefritis, dan penumonitis

Hipersensitivitas Tipe IV

Hipersensitivitas tipe IV dikenal sebagai hipersensitivitas yang diperantarai sel atau tipe lambat (delay-tipe). Reaksi ini terjadi karena aktivitas perusakan jaringan oleh sel T dan makrofag. Dalam reaksi ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk aktivasi dan diferensiasi sel T, sekresi sitokin dan kemokin, serta akumulasi makrofag dan leukosit lain pada daerah yang terkena paparan. Beberapa contoh umum dari hipersensitivitas tipe IV adalah hipersensitivitas pneumonitis, hipersensitivitas kontak (kontak dermatitis), dan reaksi hipersensitivitas tipe lambat kronis. Reaksi ini dibedakan menjadi beberapa reaksi, seperti Tuberkulin, reaksi inflamasi granulosa, dan reaksi penolakan transplant. Mekanisme reaksi ini secara umum adalah sebagai berikut :

  • Limfosit T tersensitasi
  • Pelepasan sitokin dan mediator lainnya atau sitotoksik yang diperantarai oleh sel T langsung
  • Timbul menifestasi (tuberkulosis, dermatitis kontak, dan reaksi penolakan transplant).

Larangan Bagi Penderita Alergi

Larangan Bagi Penderita AlergiAlergi bisa diartikan berlebihnya reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap lingkungan atau zat yang terkandung didalam makanan tertentu yang dikonsumsi. Penykait alergi merupakan suatu penyakit yang sering dijumpai, para penderita alergi dapat sangat peka terhadap suhu lingkungan yang dingin atau jenis makanna tertentu yang mengandung protein tinggi. Maka dari itu, penderita alergi harus bisa menjaga dan membatasi makanan yang dapat memicu terjadinya reaksi alergi. Karena, apabila para penderita alergi tidak memperhatikan asupan makanna yang dikonsumsinya, bisa jadi penyakit alergi yang dideritanya akan semakin parah.

Berikut beberapa jenis makanan yang dilarang bagi para penderita alergi, yaitu :

Telur
Telur merupakan salah satu jenis makanan yang mengandung banyak protein. mengonsumsi telur memang sangat baik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Namun, hal itu tidak berlaku bagi mereka yang menderita penyakit alergi. Bagi mereka, mengonsumsi telur dapat memicu terjadinya reaksi alergi, seperti merangsang jenis masalah kulit berupa kemerahan dan ruam pada kulit.

Kacang
Salah seorang ahli gizi mengatakan bahwa kacang dapat mengakibatkan reaksi alergi seperti gangguan pada masalah perut dan ruam pada kulit.

Ikan dan Daging
Pada sebagian orang, ikan dan daging dapat menimbulkan reaksi alergi, terutama dapat menyebabkan urtikaria (infeksi kulit dan rasa gatal), gangguan gastrointestinal, bahkan asma. Jadi, sebaiknya para penderita alergi harus lebih selektif dalam memilih menu makanan yang akan dikonsumsi.

Susu Sapi
Kandungan protein kadein dan beta-lactoglubin dikenal sebagai salah satu alergen utama yang dapat memicu terjadinya reaksi alergi. Ketika dikonsumsi, susu sapi juga dapat memicu reaksi alergi lain, termasuk sakit perut, gerakan longgar rasa mual, dan lain sebagainya.

Kacang Kedelai
Kandungan phytoedtron dan kandungan serat yang tinggi didalam kacang kedelai dapat menimbulkan masalah pencernaan seperti stomatitis, diare, kembung dan sakit perut.

Tepung Terigu
Gluten dalam gandum termasuk salah satu jenis alergen yang dapat mempercepat gejaa celiac. Celiac merupakan salah satu kondisi yang merusak lapisan usus kecil dan mencegah penyerapan nutrisi penting dalam makanan.

Saran Jivesh Shetty
Sebagai salah seorang ahli gizi, beberapa jenis sayuran juga dapat memicu reaksi alergi, seperti ruam kulit, sakit kulit, dan masalah lambung. Beberapa sayuran tersebut seperti wortel, bayam, kubis, bawang, bawang putih, kembang kol, kentang manis dan labu.

Tindakan pengobatan dan pencegahan yang paling penti adalah dengan menghindari faktor pemicu reaksi alergi. Dan para penderita alergi juga harus tepat dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi dengan memperhatikan komposisi dari makanan tersebut. Karena sebagian besar makanan pemicu alergi merupakan makanan yang bergizi tinggi, maka penderita harus pintar memilih makanan pengganti yang juga memiliki gizi yang tinggi dan relatif aman, misalnya ayam dan telur diganti dengan daging, mentega diganti dengan margarin, dan sebagainya. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat keparahan akibat alergi adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan penambah daya tahan tubuh, seperti makanan yang banyak mengandung vitamin C, magnesium, beta-caronete dan quercetin.

 

Tanda Dan Gejala Alergi Obat Pada Anak

Alergi obat merupakan respon abnormal  seseorang terhadap bahan obat atau  metabolitnya melalui reaksi imunologi yang  dikenal sebagai reaksi imunologi yang  dikenal sebagai reaksi hipersensitivitas  yang terjadi selama atau setelah pemakaian  obat. Alergi obat seringkali sulit  dibedakan dengan reaksi jenis lain  terhadap obat seperti toksisitas, efek  samping, intoleransi, dan idiosinkrasi.

Reaksi alergi obat muncul ketika sistem  kekebalan tubuh diaktifkan dalam meres[on  obat. Alergi obat dapat terjadi dari obat  yang diminum, disuntikkan, atau dioleskan  pada kulit. Umumnya orang yang alergi  terhadap obat sebelumnya sudah perbah  terpapar obat tersebut atau sejenisnya.

Tanda dan Gejala Alergi Obat pada Anak
Alergi obat pada anak lebih jarang terjadi  dibandingkan pada orang dewasa. Namun,  sering menimbulkan masalah karena hampir  sama dengan gejala alergi yang disebabkan  oleh penyebab lain yang sering terjadi  pada anak, misalnya alergi makanan atau  alergi susu sapi.Angka kejadian alergi  obat pada bayi dan anak jauh lebih rendah  daripada pada dewasa, dan akan terus  meningkat seiring dengan bertambahnya  usia. Sebagian besar reaksi obat  disebabkan oleh efek non imunologi  (farmakologi) yang dapat diprediksi. Dan  sebanyak 20-25% disebabkan oleh efek yang  tidak dapat diprediksi, baik yang  diperantai atau tidak oleh imun. Reaksi  imun terjadi pada 5-10% reaksi obat dan  merupakan hipersensitivitas obat yang  sebenarnya, dengan diperantarai oleh IgE.

Gejala klinis alergi obat sangat  bervariasi dan tidak spesifik untuk obat  tertentu. Satu jenis obat dapat  mernimbulkan berbagai macam gejala pada  seorang anak dan gejala yang timbul dapat  berbeda dengan anak yang lain, dapat  berupa gejala yang ringan hingga gejala  yang berat. Gejala yang paling sering  timbul pada anak adalah :

 

  • Gejala dikulit, seperti gatal-gatal,  kemerahan pada kulit, dan biduran, namun  dapat juga terjadi gejala dikulit yangb  sangat berat berupa terkelupasnya kulitb  dalam jumlah yang luas.
  • Gejala lainnya dapat berupa kelainan pada  darah, reaksi di paru, kelainan hati,  ginjal, pembuluh darah, dan kelenjar getah  bening.
  • Demam juga dapat menjadi salah satu gejala  dari alergi obat. Demam biasanya timbul 7  hingga 10 hari setelah pemberian obat dab  menghilang dalam waktu 48 jam setelah  pemberian obat dihentikan.
  • Gejala alergi lain yang paling berat dan  patut diwaspadai adalah reaksi  anafilaksis. Pada reaksi anafilaksis  seorang anak akan menunjukka gejala  seperti sesak napas, bengkak pada bibir,  lidah danwajah, biduran yang luas  diseluruh tubuh, serta tekanan darah yang  rendah hingga syok. Apabila tidak segera  ditangani, reaksi anafilaksis ini dapat  mengakibatkan kemtian.
  • Gejala alergi dapat terjadi dalam hitungan  menit, jam, atau bahkan sampai beberapa  minggu setelah terpapar oleh obat. Gejala  alergi yang timbul pada kurang dari 30  menit setelah terpapar obat biasanya akan  menjadi gejala yang berat.

 

Alergi obat pada anak dapat terjadi kapan  saja ketika anak terapar oleh suatu jenis  obat. Semakin sering obat digunakan, maka  semakin besar pula resiko anak mengalami  alergi obat. Dan sebaliknya, semkain  sedikit obat yang diberikan kepada anak,  maka semakin kecil resiko yang terjadi  pada anak tersebut untuk mengalami alergi  obat. Jadi, berikanlah anak obat  jiakmemang sedang dibutuhkan. Dan berikan  obat sesuai dengan dosis yang  disarankanoleh dokter.

Penyakit Alergi Deterjen

Mencuci baju adalah sebuah rutinitas yang sering kita lakukan, terutama para ibu rumah tangga yang mungkin setiap harinya selalu berhadapat dengan cucian, detergen, sabun, dll. Namun, kandungan tertentu yang terdapat didalam detergen dapat memicu terjadinya reaksi alergi. Alergi pada detergen dapat terjadi secara tiba-tiba setelah penggunaannya yang sering. Sistem kekebalan tubuh menganggap detergen sebagai salah satu komponen yang berbahaya, sehingga memicu tubuh untuk melepaskan antibodi seperti histamin. Alergi tidak hanya muncul ketika kontak langsung dengan detergen, namun ketika memakai pakaian yang dicuci menggunakan detergen juga dapat memicu terjadinya alergi.

Penyakit Alergi Detergen

Penyebab utama dari alergi detergen ini yaitu bahan kimia yang terkandung didalam detergen yang bertindak sebagai iritan pada kulit. Padaumunya jenis bahan kimia yang bertanggung jawab memicu alergi diantaranya adalah pewarna, pewangi, dan agen pemutih. Residu bahan kimia tersebut akan tetap ada pada pakaian setelah dicuci dan menyebabkan timbulnya reaksi alergi.

Terkadang sulit untuk mendiagnosis alergi jenis ini, karena penderita bisa saja menderita alergi pada banyak jenis bahan dalam produk pembersih seperti kontak dengan perfum, sabun, atau komponen pembersih lainnya. Gejala yang timbul akibat dari kontak langsung dengan detergen adalah kulit terasa gatal, atau mengalami gatal pada bagian tubuh yang mengalami kontak langsung dengan pakaian. Apabila alergi yang timbul parah, maka akan timbul respon inflamasi dengan mengirimkan histamin ke dalam aliran darah, sehingga timbul reaksi alergi seperti bengkak, terasa panas, kemerahan, dan muncul ruam pada kulit. Peradangan yang hebat dapat menyebar hingga ke daerah lain, namun penderita sering tidak menyadari hal itu karena mereka biasanya sulit untuk menentukan kapan dirinya terkena alergi karena residu detergen yang menempel pada pakaian.

Kulit mungkin akna mengalami iritasi dan sesaat setelah beberapa waktu dapat menjadi kering dan bersisik. Kulit yang terus terpapar alergen akan mengalami peradangan berupa warna kemerahan dan ruam. Larutan deterjen yang masuk ke dalam mata akan mengiritasi selaput lendir yang dapat menyebabkan mata merah dan gatal. Dalam beberapa kasus, sistem pernafasan mungkin akan terpengaruh oleh uap detergen sehingga dapat menyebabkan hidung menjadi tersumbat, pilek, dan mengi.

 

Tips Mengatasi Alergi Detergen

  • Cuci tangan denga air setelah bersentuhan dengan detergen. Anda dapat mengoleskan krim setelah mencuci.
  • Karena alergi tersebut sulit untuk dideteksi,  Anda harus mencari tahu detergen alergen dengan mengamati kebiasaan Anda sendiri.
  • Jika kulit sangat sensitif, dapat memicu terjadinya reaksi alergi. Gunakan detergen dalam jumlah yang kurang dari biasanya serta pastikan bahwa pakaian dicuci dengan menggunakan elstra bilas.
  • Tidak semua merk detergen dapat menimbulkan alergi. Seseorang mungkin mengalami alergi ketika menggunakan detergen merk tertentu, namun gejala alergi tidak muncul pada menggunakan merk lain. Ganti merk detergen Anda segera setelah mengalami reaksi alergi.
  • Selalu gunakan sarung tangan untuk menghindari kontak langsung dengan detergen.
  • Penggunaan mesin cuci otomatis dapat mengurangi kontak langsung dengan detergen, dengan demikian dapat mengurangi resiko terjadinya reaksi alergi.
  • Anda dapat membuat sendiri detergen untuk menghindari bahan-bahan yang dapat menyebabkan alergi.
  • Lakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat terhadap kulit yang terkena iritasi.

Setelah Anda mengetahui mengenai penyakit alergi detergen, kini tentu Anda dapat lebih berhati-hati dalam memilih detergen yang tidak dapat menimbulkan reaksi alergi. melakukan pencegahan lebih baik untuk menghindari dan mengurangi resiko terjadinya reaksi alergi.
Semoga bermanfaat.

Cara Mengatasi Alergi Di Muka Akibat Kosmetik

biang-keringat-di-wajah-530x335pengobatanalegi.com,- Kulit wajah merupakan  salah satu bagian yang sensitif dan mudah  mengalami iritasi terhadap beberapa faktor,  seperti faktor cuaca, alergi terhadap makanan  tertentu, dan berbagai bahan kimia yang  terdapat dalam produk kosmetik. Hal tersebut  dapat menimbulkan berbagai maca reaksi,  seperti ruam merah, bentol-bentol, binitk-bintik  kecil, jerawat, wajah menghitam, dan  sebagainya. Kulit yang terserang alergi  sebenarnya merupakan hal yang biasa terjadi.  Tapi jika tidak terbiasa dengan kondisi seperti  itu, justru penderita malah panik dan khawatir  sehingga reaksi alergi tersebut dapat bertambah  parah, sulit untuk diobati dan berlangsung  dalam waktu yang lama. Reaksi alergi yang  muncul dapat menunjukkan reaksi tubuh yang  berlebihan terhadap suatu zat atau benda yang  dianggap asing yang masuk kedalam tubuh.

Alergi pada wajah yang trjadi akibat alergi dapat  disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya  kesalahan dalam memilih cream kosmetik,  pemakaian kosmetik yang telah kadaluarsa atau  kosmetik yang mdigunakan mengandung  bahan yang tidak cocok dengan tipe kulit  penderita. Atau juga dapat disebabkan karena  pemakaian kosmetik yang mengandung bahan  kimia yang berbahaya. Sebelum memilih  kosmetik sebaiknya kita harus mengetahui  terlebih dahulu bahan-bahan apa saja yang  dapat reaksi alergi, sehingga dapat  menghindarinya. Selain itu juga kita harus  mengetahui jenis dari kulit kita agar bisa  memilih kosmetik yang sesuia dengan jenis kulit  kita.

Beberapa gejala yang timbul ketika terjadi reaksi  alergi pada wajah ialah wajah menjadi  memerah, bentol-bentol, dan terkadang muncul  rasa gatal yang cukup hebat. Reaksi alergi pada  muka biasanya terjadi secara cepat setelah  beberapa jam terpapar  oleh pencetus alergi atau  bahkan kurang dari itu.

Menurut Ahli penata rias, Amri Mukhi  mengatakan bahwa alergi pada wajah dapat  diatasi dengan menggunakan es batu yang  bertujuan untuk mendinginkan kulit, dan  kemudian hindari kosmetik untuk sementara.  Selain dengan menggunakan es batu, cara  mengatasi alergi dimuka akibat kosmetik juga  dapat dilakukan dengan beberapa tips berikut :

  • Tetap tenang dan tidak panik
  • Lihat dan baca aturan penggunaan kosmetik  yang Anda pakai
  • Minum obat antialergi yang biasa dikonsumsi
  • Hentikan pemakaian kosmetik sementara waktu
  • Konsumsi banyak makanan yang mengandung  banyak vitamin E untuk menyegarkan kembali  kulit sekaligus sebagai antioksidan. Beberapa  makanan yang mengandung banyak vitamin E  diantaranya almond, walnut, kacang, zaitun,  dan sebagainya.
  • Perbanyak konsumsi air putih minimal 8 gelas  per hari atau air mineral lainny ayang berfungsi  untuk menetralisir racun yang ada didalam  tubuh.
  • Jaga kebersiha kulit wajah dengan mencuci  wajah setiap hari dengan cara menggunakan  kain lembut yang telah direndam dengan air  hangat (cara kompres).
  • Hindari paparan sinar matahari dan debu yang  dapat memperburuk iritasi pada kulit wajah.
  • Gunakan masker pepaya dengan cara  menghaluskan daging buah pepaya yang masih  mengkal, kemudian diamkan selama 15 sampai  20 menit lalu bilas.

Selain dengan menerapkan tips diatas, Anda  juga dianjurkan untuk berkonsultasi dengan  dokter spesialis mengenai reaksi alergi yang  terjadi untuk mendapatkan penanganan yang  tepat serta konsultasikan juga mengenai  kosmetik yang cocok untuk Anda gunakan agar  dapat terhindar dari alergi . Atau Anda juga bisa memanfaatkan QnC Jelly Gamat untuk mengatasi alergi dimuka akibat kosmetik secara alami dan juga efektif.

Itulah beberapa tips yang dapat Anda lakukan  sebagai salah satu cara mengatasi alergi di muka  akibat kosmetik. Semoga dapat memberikan  manfaat yang menjadikan kita lebih berhati- hati dalam memilih produk kosmetik sebagai  upaya untuk mencegah terjadinya alergi yang  mungkin akan timbul.

Aquagenic Urticaria Penyakit Langka Alergi Air

airsedunia1024476620X310pengobatanalergi.com,- Alergi  merupakan suatu penyakit yang sering  ditemui. Pada umunya alergi  disebabkan oleh makanan, debu,  udara, serbuk sari, dan sebagainya.  Namun, terdapat beberapa macam  alergi yang bisa disebut aneh dan  langka terjadi, salah satunya adalah  alergi air.

Dalam kehidupan sehari-hari makhluk  hidup membutuhkan air untuk dapat  mempertahankan hidupnya, seperti  untuk keperluan mandi, memasak,  mencuci, dan sebagainya. Bahkan  tubuh manusia sendiri dapat  menghasilkan air seperti keringat, air  mata, urin, dan liur. Tapi siapa yang  menyangka kalau air juga dapat  memicu terjadinya reaksi alergi pada  sebagian orang. Kondisi inilah yang  dialami oleh beberapa orang didunia.

Alergi air atau disebut juga Aquagenic  urticaria sangat jarang terjadi,  penderitanya hanya 1 berbanding 230  juta orang dan jumlahnya hanya ada  sekitar 40 orang didunia. Biasanya  penderita akan mengalami gatal-gatal,  bintik-bintik merah, perih, rasa  terbakar, serta luka sesaat setelah  terpapar air dan dapat bertahan selama  15 menit sampai dua jam atau lebih.  Sesak napas atau bengkak pada  tenggorokan juga dapat terjadi ketika  penderita mengonsumsi air atau  minuman lainnya. Selain itu, keringat  dan air mata juga dapat memicu  terjadinya reaksi alergi.

Mekanisme penyakit alergi air ini  belum diketahui. Meskipun penyebab  yang sebenarnya masih menjadi  misteri, namun pera ahli percaya  bahwa pemicunya adalah histamin.  Namun mereka kembali menguji  hipotesis tersebut, karena obat  antihistamin terbukti tidak menjadi  solusi bagi penderita. Dermatologist  menyarankan penderita sebisa  mungkin utnuk menghindari,  membersihkan badan secepat  mungkin, dan menghindari hujan  untuk meringankan gejala-gejalanya.

Itulah sedikit informasi mengenai  aquagenic urticaria penyakit langka  alergi air. Semoga dapat bermanfaat.

Penyakit Alergi Hewan Peliharaan

alergi binatang peliharaanpengobatanaalergi.com,- Hewan  peliharaan memang sering kali menjadi  teman sekaligus penghibur bagi Anda  setelah lelah menjalankan eutinitas  sehari-hari. Namun, tidak semua orang  dapat mengalami hal tersebut. Terdapat  sebagian orang yang mengalami alergi  terhadap hewan peliharaan. Beberapa  penderita alergi memang ada yang  mengalami alergi terhadap bulu hewan  peliharaan. Selain hewan peliharaan,  hewan pertanian, laboratorium atau  hewan yang ada di kebun binatang juga  dapat menimbulkan alergi pada sebagian  orang.

Penyakit alergi hewan peliharaan merupakan  reaksi alergi terhadap protein yang  terdapat pada sel  kulit, bulu, air liur atua  air seni hewan. Protein yang berasal dari  air liur, rambut atau air seni hewan  dapat menimbulkan reaksi alergi yang  menyerang pada mata dan saluran  pernapasan, misalnya demam, dan bisa  juga menyebabkan gejala asma. hal  tersebut dapat juga mengakibatkan  dermatitis atopik atau ruam kemerahan.  Setelah tubuh mengembangkan antibodi  penyebab alergi atau bahan alergen  berupa sebuah protein hewani, maka  tubuh akan bereaksi. Ketika menghirup  atau mengalami kontak langsung  dengan alergen, sistem kekbalan tubuh  merespon dan menghasilkan tanda dan  gejala peradangan terutama pada  saluran pernapasan. Setiap hewan  dengan bulu dapat menjadi sumber  alergi hewan peliharaan, namun yang  paling sering dikaitkan yaitu anjing,  burung,kucing,hamster, kelinci, tikius,  gerbil, dan kelinci percobaan.

Hewan peliharaan dapat menimbulkan  alergi dengan beberapa cara, baik melaui  bulu, serpihan kulit, air liur, dan urin.  Protein yang terdapat pada bulu,  serpihan kulit, air liur dan urin dapat  menyebabkan reaksi alergi atau  memperburuk gejala asma pada  sebagian orang.

Gejala Alergi Hewan Peliharaan

Gejala yang mungkin timbul sesaat  setelah melakukan kontak dengan  hewan peliharaan, benda yang  mengandung alergen dari hewan  peliharaan, atau menghirup alergen  hewan peliharaan yaitu :

  • Bersin atau hidung buntu
  • Batuk, mengi atua asma
  • Gatal dan ruam kemerahan
  • Mata gatal dan berair
  • Hay fever (rinitis alergi musiman)

Jika Anda mempunyai gejala alergi  terhadap hewan peliharaan, sebaiknya  hindari hal-hal yang dapat memicu  munculnya reaksi alergi, diantaranya :

  • Hindari hewan peliharaan yang dapat  menimbulkan gejala alergi. Jangan  biarkan hewan peliharaan berkeliaran  bebas didalam rumah.
  • Bersihkan lingkungan baik didalam  maupun disekitar rumah secara teratur.
  • Jaga kebersihan hewan peliharaan,  misalnya dengan memandikannya  secara teratur.
  • Vaksinasi hewan peliharaan.
  • Cuci tangan setelah melakukan kontak  langsung dengan hewan peliharaan.
  • Konsumsi obat antihistamin untuk  meringankan gejala yang timbul.  Namun, obat ini tidak baik jika  digunakan dalam jangka panjang.

Itulah beberapa informasi mengenai  penyakit alergi hewan peliharaan.  Semoga bermanfaat.