Mitos dan Fakta Tentang Alergi Makanan

Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang anak yang meninggal akibat alergi kacang. Apakah benar alergi bisa menyebabkan kematian ? Lalu, bagaimana dengan informasi bahwa ASI dapat membantu menurunkan resiko alergi pada anak ?

Untuk mengetahui fakta dan mitos yang lengkap mengenai alergi, khusunya mengenai alergi makanan, simak informas lengkapnya berikut ini :

mitos dan fakta tentang alergi

Kasus alergi makanan banyak ditemukan, banyak orang yang mengalaminya

Ketika orang mengalami gangguan setelah mengnonsumsi makanan tertentu, salah satu yang menjadi penyebab utama alergi. Rasanya, tidak jarang mendengar seseorang yang menyatakan bahwa dirinya memiliki alergi terhadap makanan tertentu. Data memang menunjukkan bahwa sekitar 25% orang merasa bahwa dirinya memiliki alergi terhadap suatu makanan tertentu. Tapi, faktanya, penelitian menunjukkan bahwa alergi makanan sesungguhnya hanya dialami oleh 8% anak-anak dan 2% orang dewasa.

Jika Anda mengalami gangguan setelah mengonsumsi makanan tertentu, maka sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebab dari ganggua yang sebenarnya dan cara penanganan yang tepat. Dugaan alergi terhadap suatu makanan biasanya membuat seseorang menghindari makanan tersebut. Menghindari suatu makanan secara tidak tepat berarti kehilangan kesempatan untuk mendapatkan berbagai macam nutrisi yang terkandung didalam makanan tersebut.

Orangtua alergi terhadap kacang, berarti ankanya juga pasti alergi pada kacang, karena alergi menurun

Sebagian dar pernyataan tersebut memang benar, yaitu alergi itu menurun. Pada ahli memang sudah menemukan beberapa genn yang diduga berkaitan dengan alergi. Data juga menunjukkan bahwa risiko alergi meningkat sekitar 2-4 kali lipat pada mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan alergi. Risiko alergi diketahui lebih tinggi jika ibu atau kedua orangtua memiliki riwayat alergi.

Namun, belum tentu alergi antara orangtua dan anak akan sama. Yang diturunkan hanyalah risiko/kemungkinan alergi, dan bukan jenis alergi yang dialaminya. Artinya, jika orangtua memiliki memiliki alergi, anak memiliki kemungkinan alergi yang lebih tinggi tapi jenis alergi yang dimiliki dapat berbeda antara anak dan orangtua.

Satu gigitan saja masih aman meskipun memiliki alergi makanan

Hal tersebut tentu salah besar. Reaksi alergi makana sudah dapat timbul hanya dengan mengonsumsi sangat sedikit makanan yang menjadi penyebab alergi. Tidak ada kaitan yang pasti antara jumlah makanan yang dikonsumsi dengan tingkat keparahan reaksi alergi, sehingga pad abeberapa orang, jumlah sangat sedikit saja sudah bisa menyebabkan alergi yang parah. Maka dari itu, penting bagi penderita alergi makanan untuk rutin membaca label makanan dan menghindari bahan penyebab alergi.

Baca Juga : Obat Alergi Alami

Untuk mengurangi risiko alergi pada anak, salah satunya adalah dengan pemberian ASI

Dari sekian banyak manfaat ASI yang bisa didapatkan, menurukan risiko alergi pada anak merupakan salah satunya. Sebuah penelitian di Swedia menunjukkan bahwa anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif selama 4 bulan atau lebih ternyata memiliki risiko alergi dan asma pada usia 2 tahun yang lebih rendah. Beberapa penelitian lain menunjukkan hasil yang serupa, dimana pemberian ASI dapat membantu memberikan efek perlindungan dan alergi di usia dini, termasuk alergi yang berkaitan dengan gangguan kulit dan masalah pernafasan.

Anak yang dilahirkan dengan operasi caesar memiliki risiko alergi yang lebih tinggi

Pernyataan ini memang benar, seperti dibuktikan oleh beberapa penelitian. Salah satunya, para ahli dari Henry Ford Hospital menemukan bahwa anak yang dilahirkan dengan cara operasi caesar ternyata lebih beresiko memiliki alergi pada usia 2 tahun. Bahkan, risiko alergi ini dapat mencapai 5 kali lipat lebih besar pada mereka yang sering terpapar oleh senyawa penyebab alergi dari lingkungan sekitar (seperti hean dan tungau/kutu). Penelitian lain menunjukkan hasil serupa, yaitu bahwa anak-anak yang dilahirkan dengan cara operasi caesar ternyata memiliki risiko terkena asma, diare, dan alergi makanan yang lebih tinggi.

Penyebabnya ternyata anak-anak yang dilahirkan dengan cara operasi caesar memiliki komposisi mikroba diusus yang berbesa dengan anak-anak yang dilahirkan secara normal. Hal ini kemudian mempengaruhi sistem kekebalan tubuh mereka sehingga lebih sensitif terhadap senyawa penyebab alergi.

Alergi bisa menyebabkan kematian

Pernyataan tersebut benar. Data Amerika menunjukkan bahwa kasus kematian akibat alergi makanan mencapai 150-200 kasus pertahunnya. Maka dari itu, kasus alergi tidak dapat diremehkan. Kasus alergi dapat mengakibatkan kematian jika reaksi yang ditimbulkan cukup parah, seperti sesak napas, tekanan darah menurun, denyut jantung melemah, dan kehilangan kesadaran. Jika tidak segera ditangani, hal ini dapat berujung pada kematian. Beberapa jenis alergi yang dapat menimbulkan gejala yang parah adalah alergi terhadap kacang tanah, kacang pohon atau tree nuts, ikan, makanan laut, telur, susu, gigitan serangga, karet lateks, dan obat-obatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *