Perawatan yang Tepat untuk Mencegah Alergi Kewanitaan

Perawatan yang Tepat untuk Mencegah Alergi Kewanitaan,- Selain pada tangan atua badan, reaksi alergi juga bisa timbul di daerah kewanitaan. Terdapat banyak faktor yang bisa menyebabkan timbulnya reaksi alergi di daerah kewanitaan, seperti diantaranya hubungan seksual, kebersihan organ intim, atau produk-produk tertentu yang mengandung zat penyebab alergi.

Sama halnya dengan kulit bagian tubuh lainnya, kulit di sekitar vagina juga bisa mengalami alergi. Alergi akan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap zat-zat tertentu (alergen). Alergi ini bisa menyebabkan vulvitis, vagina gatal, kemerahan, iritasi, dan timbul rasa perih di sekitar organ kewanitaan.

Perawatan yang Tepat untuk Mencegah Alergi Kewanitaan

Menjaga kebersihan daerah kewanitaan dan perawatan organ intim wanita yang tepat merupakan salah satu langkah jitu untuk menjaga kesehatan dan kebersihan vagina serta mencegah timbulnya berbagai masalah pada organ kewanitaan.

Merawat dan menjaga kebersihan serta kesehatan organ intim wanita harus dilakukan dengan rutin dan harus didukung dengan penerapan pola hidup sehat. Selain itu, berikut ini merupakan beberapa cara perawatan yang tepat untuk mencegah alergi kewanitaan yang bisa dilakukan :

  • Menghindari faktor penyebab alergi dan iritasi

Untuk mencegah timbulnya alergi di daerah kewanitaan, hindari zat-zat yang bisa menyebabkan alergi, seperti tidak menggunakan tisu toilet atau sabun pembersih dengan wewangian. Selain itu, hindari juga menggunakan pakaian yang terlalu ketat dan gunakan pakaian dalam yang terbuat dari bahan katun agar dapat menyerap keringat dan nyaman digunakan.

  • Produk hipoalergenik

Terdapat berbagai jenis produk pembersih kewanitaan yang beredar di pasaran, namun sebagian diantaranya mengandung bahan kimia yang memicu alergi. Untuk meminimalkan reaksi alergi ini, pilihlah sabun atau produk kewanitaan yang berlabel hipoalergenik.

Produk hipoalergenik baik digunakan untuk kulit sensitif dan kulit normal, karena diklaim dapat membantu mengurangi risiko alergi dibandingkan dengan produk biasa. Penggunaan produk hipoalergenik bukan berarti 100% bebas dari risiko alergi, tetapi reaksi yang terjadi pada kulit yang sangat sensitif terhadap bahan tertentu dapat dibatasi hingga sangat minimal.

Agar lebih aman digunakan, sebelum digunakan, disarankan untuk melakukan pengujian produk. Caranya yaitu dengan mengaplikasikannya di kulit lengan dan perhatikan apakah terjadi reaksi alergi atau tidak. Jika timbul reaksi alergi, maka jangan gunakan produk tersebut.

  • Produk dengan kandungan kolagen

Salah satu manfaat kolagen yang paling populer adalah menjaga elastisitas kulit, menjaga kulit agar tetap sehat, serta mencegah keriput dan kekeringan pada kulit.

  • Sabun pembersih tanpa wewangian dan antiseptik

Jika Anda ingin menggunakan sabun pembersih kewanitaan, gunakanlah produk yang lembut, ringan, dan tanpa wewangian. Hal ini disebabkan karena penggunaan sabun yang menggunakan pewangi dan antiseptik dapat menyebabkan iritasi serta memngaruhi keseimbangan pH dan membunuh bakteri baik di dalam vagina. Ketika hal ini terjadi, maka vagina akan rentan mengalami infeksi.

  • Produk dengan Lactobacillus

Produk kewanitaan dengan formula yang mengandung Lactobacillus juga bisa digunakan. Lactobacillus merupakan bakteri baik yang hidup di vagina, yang menjaga keseimbangan pH vagina dan mencegah timbulnya bakteri penyebab vaginosis bakterialis, infeksi jamur, dan keputihan yang tidak normal.

  • Mengandung bahan alami

Salah satu bahan alami yang sering digunakan adalah lidah buaya atau aloe vera. Tanaman ini dikenal memiliki khasiat untuk kesehatan kulit dan kaya akan kandungan enzim, asam amino, mineral, vitamin, polisakarida, serta zat lain yang sangat bermanfaat bagi kesehatan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aloe vera baik untuk menjaga kelembapan kulit, juga dapat mengatasi berbagai masalah kulit, seperti psoriasis, dermatitis seboroik, luka bakar ringan, dan lecet pada kulit.

 

Baca juga :

6 Hal yang Menjadi Pemicu Alergi Seks
Obat Gatal Akibat Alergi Pembalut
Gejala Alergi Kondom

Benarkah Anak dengan Autisme Lebih Rentan Terkena Alergi?

Benarkah Anak dengan Autisme Lebih Rentan Terkena Alergi?,- pengobatanalergi.com – Autisme merupakan gangguan yang timbul pada perkembanan anak dibawah 3 tahun. Gangguan ini mengakibatkan anak tidak mampu membentuk hubungan sosial dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara normal.

Anak autis menjadi terisolasi dari kontak dengan orang lain dan tenggelam pada dunianya sendiri yang diekspresikan dalam minat dan perilaku yang berulang-ulang.

Baru-baru ini sebuah studi yang dimuat dalam Jurnal American Medical Association, Jama Network Open, menyebutkan bahwa anak-anak yang didiagnosis dengan autisme berisiko tinggi mengalami alergi.

Menurut para peneliti, anak-anak dengana utisme lebih rentan mengiap alergi makanan, gangguan pernapasan, dan alergi kulit seperti eksmin dan demam. Studi yang dipimpin oleh peneliti kesehatan masyarakat dari Universitas Iowa di AS ini menduga bahwa autisme dan alergi berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh anak.

Dr Wei Bao, asisten profesor epidemiologi, menyebutkan bahwa gangguan imunologi ini kemungkinan berkembang sejak awal kehidupan dan memengaruhi perkembangan otak dan fungsi sosial. Hal inilah yang kemudian menimbulkan gangguan spektrum autisme.

Para ahli percaya bahwa faktor genetik dan lingkungan berperan dalam mengembangkan kondisi autisme dan alergi. Untuk membuktikan hal tersebut, Bao dan timnya melihat hasil survei kesehatan nasional AS sejak 1997 sampai 2016 dengan subjek 200.000 anak.

Survei kesehatan nasional ini tidak melibatkan riwayat kesehatan yang diberikan dokter. Data ini didapatkan dari informasi yang diberikan orangtua setelah mengamati anak-anak mereka selama setahun.

Beberapa informasi yang orangtua berikan berhubungan dengan autisme dan alergi. Misalnya, apakah anak-anak memiliki diagnosis autisme atau kondisi perkembangan serupa dan apakah anak mengalami alergi makanan, kulit, atau pernapasan dalam 12 bulan terakhir.

Dari data tersebut, Bao dan tim menemukan anak-anak dengan autisme sangat mungkin mengalami alergi makanan, bahkan risikonya sampai 129%. Sedangkan alergi kulit dan pernapasan masing-masing 50% dan 28%.

Para ahli mengingatkan, hasil ini rentan terhadap bias karena hanya berdasarkan ingatan orangtua saja. Walaupun begitu, temuan ini menunjukkan jika orangtua dari anak-anak dengan autisme cenderung lebih memperhatikan dan melaporkan alergi anak-anak mereka, dibandingkan dengan orangtua yang anaknya tidak didiagnosis dengan autisme.

Dr James Cusack, direktur untuk badan aman Autistica kepada The Independent, menjelaskan, ada kemungkinan orangtua yang melaporkan satu kondisi lebih mungkin melaporkan hal yang lain. Efek semacan ini menjelaskan peningkatan laporan alergi dalam penelitian ini.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa autisme dihubungkan dengan kesehatan fsik yang buruk, termasuk asma. Jadi, temuan ini bisa dibilang cukup masuk akal. Sebagai catatan, temuan ini tidak menjelaskan hubungan sebab akibat. Maka dari itu, masih diperlukan penelitian lain yang lebih mendalam untuk membuktikannya.

Waspada! Ternyata Pewarna Makanan Juga Bisa Picu Alergi

Waspada! Ternyata Pewarna Makanan Juga Bisa Picu Alergi,- Makanan yang memiliki beragam warna memang sangat menarik dan menggiurkan, terutama bagi anak-anak. Si kecil akan sangat menyukai makanan yang memiliki warna-warna yang cerah, karena dianggap lebih menggiurkan dan nikmat.

Namun, dibalik penampilannya yang cantik tersebut, ternyata pewarna dapat menimbulkan dampak negatif bagi sebagian orang. Beberapa orang tidak bisa mencerna pewarna makanan dan akhirnya mengalami alergi.

Mengapa seseorang bisa mengalami alergi pewarna makanan ?

Hampir semua zat aditif makanan pada dasarnya aman dikonsumsi. Namun, tidak semua orang bisa mencerna semua zat buatan dalam makanan, termasuk pewarna makanan. Meskipun jarang terjadi, namun bahan pewarna makanan tersebut diketahui dapat menimbulkan reaksi intoleransi.

Intoleransi makanan berarti tubuh tidak dapat memecah dan mencerna makanan dengan baik dan akhirnya menimbulkan dampak yang buruk. ntoleransi ini dapat berupa rasa gatal, hidung berair, dan asma. Sedangkan alergi adalah respon sistem kekebalan tubuh yang menganggap bahwa zat tertentu tersebut ebrbahaya, sehingga menimbulkan respon perlawanan.

Penelitian membuktikan 4 dari 9 pewarna makanan menyebabkan reaksi alergi. Meskipun terbilang jarang, namun dokter dari Universitas Michigan telah membuktikan bahwa alergi pewarna makanan bisa mengancam jiwa.

Sama halnya dengan gejala alergi lainnya, alergi pewarna makanan juga bisa menimbulkan gejala berupa, sakit kepala, diare, gatal-gatal, wajah atau bibir bengkak, sesak napas, mengi, pusing, detak jantung lebih cepat dari baisanya, tekanan darah rendah, pingsan, dan ruam kemerahan.

Lalu, pewarna makanan apa saja yang bisa memicu gejala alergi ?

Terdapat beberapa jenis pewarna makanan yang telah terbukti bisa memicu reaksi alergi, diantaranya yaitu :

*) Yellow 5

Yellow 5 atau disebut juga tartrazine adalah salah satu pewarna makanan kuning yang dapat menimbulkan reaksi alergi pada sebagian orang. Efek pewarna makanan tartrazine ini bisa menyebabkan gatal dan bengkak pada wajah serta dapat memicu asma pada anak.

Kelompok makanan yang biasanya menggunakan pewarna kuning ini adalah permen, sayuran kaleng, keju, minuman kemasan, es krim, dan saus tomat.

*) Carmine

Carmine atau disebut juga ekstrak cochineal atau dikenal sebagai natural red 4 telah digunakan sebagai pewarna makanan sejak abad ke-16. Namun, berbagai penelitian menemukan bukti bahwa pewarna tersebut bisa membuat berbagai reaksi alergi seperti pembengkakan pada wajah, ruam, hingga mengi.

Selain pada makanan, carmine juga banyak ditemukan dalam kosmetik. jika mengalami alergi pewarna makanan yang parah, maka bukan tidak mungkin akan timbul syok anafilaktik yang dapat mengancam jiwa.

Carmine biasanya ditemukan dalam berbagai bahan seperti sosis, permen, yoghurt buah, dan minuman kemasan.

*) Annato

Pewarna makanan annato berasal dari biji pohon achiote yang biasanya tumbuh di negara-negara tropis. Annato memberikan warna kuning oranye.

Beragai penelitian membuktikan jika pewarna kunnig ini bisa memicu reaksi alergi kulit ringan seperti gatal-gatal dan ruam. Selain itu, beberapa orang yang sensitif dengan pewarna makanan ini juga bisa menimbulkan syok anafilaktik.

Umumnya annato ditemukan dalam berbagai produk, seperti sereal, keju, minuman kemasan, dan makanan ringan.

Untuk menghindarinya, bacalah label kemasan sebelum membeli produk tertentu. Usahakan untuk membatasi atau menghindari produk yang mengandung pewarna buatan untuk meminimalisir risiko terjadi efek negatif pada tubuh.

Tips Mengatasi Alergi Wajah Karena Makeup dengan Makeup

Tips Mengatasi Alergi Wajah Karena Makeup dengan Makeup,- Wanita memang tidak bisa lepas dari makeup. Sebagian besar wanita mungkin Anda juga termasuk salah satunya tidak akan percaya diri keluar ruamh tanpa menggunakan makeup. Bahkan, kemanapun Anda pergi, kantung makeup pasti selalu ada di dalam tas.

Namun, bagi Anda yang memiliki kulit sensitif, makeup yang mengandung bahan-bahan tertentu mungkin bisa menyebabkan alergi. Setipa kulit wanita memiliki reaksi yang berbeda-beda terhadap produk perawatan kulit atau makeup tertentu.

Untuk beberapa wanita, beberapa makeup tertentu bisa memicu alergi dan efek samping berupa ruam-ruam, kulit kering, berjerawat, bahkan terasa terbakar untuk kulit sensitif. Beberapa wanita yang mengalami alergi pada kulit wajah mungkin akan segera memutuskan untuk pergi ke klinik kecantikan atau dokter kulit untuk mengobati kulit mereka. Namun, kenyataannya tidak semua wanita memiliki cukup biaya untuk mengobati alergi kulit mereka dengan obat dari klinik kecantikan atau dokter kulit, mengingat biayanya yang cukup besar.

Walaupun begitu, Anda sebaiknya tidak membiarkan alergi kulit karena makeup begitu saja. Selain dengan melakukan perawatan di klinik kecantikan atau dokter kulit, Anda juga bisa mengatasi alergi dengan cara menggunakan makeup. Bagaimana caranya ?

Berikut ini merupakan beberapa tips mengatasi alergi wajah karena makeup dengan makeup yang bisa dilakukan, yaitu diantaranya :

Kompres wajah sebelum menggunakan makeup

Sebelum menggunakan makeup, redakan bengkak dengan cara mengompres wajah dengan airhangat agar ruam kemerahan mereda dan wajah lebih baik. Jangan menggunakan makeup apapun agar tidak semakin parah. Anda bisa mengoleskan krim lidah buaya sebelum tidur dan cukup bilas wajah dengan air untuk mengurangi alergi kemerahan sebelum menggunakan makeup.

Gunakan waterproof eye makeup

Ketika mengalami alergi, biasanya kulit akan lebih sensitif, merah-merah dan terasa perih. Untuk mengatasinya, Anda bisa menggunakan waterproof eye makeup untuk tetap terlihat cantik namun tidak menyentuh bagian wajah lain. Hal ini dapat membantu makeup tak luntur meskipun terjadi reaksi alergi.

Gunakan color corrector

Jika alergi di wajah cukup parah, maak Anda bisa menutupinya sementara dengan menggunakan color corrector. Cara ini bisa membantu Anda untuk meminimalisasi tampilan alergi pada wajah. Rona kemerahan pada kulit akan disamarkan dan ditutup sehingga warna kulit tampak lebih rata.

Baca juga : Cara Mengobati Wajah Bengkak Karena Alergi Secara Alami

Cara Mengobati Wajah Bengkak Karena Alergi Secara Alami

Cara Mengobati Wajah Bengkak Karena Alergi Secara Alami,- Wajah Anda tiba-tiba membengkak dan terasa gatal ? Jangan panik, bengkak pada wajah terutama pada kelopak mata dan bibir bisa jadi merupakan salah satu gejala alergi. Biasanya gejala alergi langsung timbul saat terpapar langsung oleh alergen atau zat penyebab alergi.

Gigitan atau sengatan binatang, obat, komponen tanaman, kacang, bulu binatang, atau makanan laut, bisa menimbulkan reaksi alergi pada sebagian orang. Bahkan, komponen tersebut bisa menyebabkan reaksi alergi parah, atau disebut juga anafilaksis. Kondisi ini sangat serius dan memerlukan penanganan secepatnya.

Selain pada wajah, pembengkakan juga bisa terjadi pada tenggorokan dan mulut. Biasanya gejala alergi ini diikuti dengan gejala lainnya, seperti diantaranya sulit bernapas dan menelan, detak jantung lemah dan tidak beraturan, pusing, serta ruam.

Reaksi alergi juga biasanya menyebabkan angiodema, yaitu pembengkakan yang mirip dengan urtikaria (bilur berwarna merah dan putih yang terasa gatal), yang terbentuk di dalam lapisan kulit. Umumnya wajah akan bengkak di dekat mata dan mulut.

Untuk mengendalikan gejala tersebut, Anda bisa melakukan beberapa hal, seperti minum obat pereda gatal (antihistamin), menghindari faktor penyebab alergi dan jika perlu kompres hangat, hentikan penggunakan obat (jika ada), dan periksakan diri ke dokter jika kondisi berlanjut atau semakin memburuk.

Selain itu, ada juga cara lain yang bisa dilakukan untuk membantu mengurangi dan mengendalikan gejala alergi pada wajah tersebut, salah satunya dengan memanfaatkan bahan-bahan herbal sebagai langkah pengobatan alergi yang efektif dan aman.

Cara Mengobati Wajah Bengkak Karena Alergi Secara Alami

Ada banyak bahan-bahan herbal yang bisa dimanfaatkan untuk membantu mengobati wakah bengkak karena alergi secara alami, salah satunya yaitu teripang emas. Teripang merupakan salah satu biota laut yang kaya akan kandungan nutrisi sehingga banyak dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional. Bahkan, teripang emas ini telah digunakan oleh nenek moyang sejak dulu.

Untuk membantu mengatasi gejala alergi sendiri, teripang emas ini memiliki kandungan asam amino yang dapat membantu menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh. Kandungan antiseptik yang dimilikinya juga dapat berfungsi sebagai antibakteri, antijamur, serta dapat mencegah timbulnya infeksi. Tidak hanya itu, mengonsumsi teripang atau ekstrak teripang emas secara rutin juga dapat membantu mengurangi rasa sakit dan gatal pada permukaan kulit.

Karena kandungan serta manfaat yang dimilikinya, maka teripang emas ini cukup banyak dicari masyarakat untuk dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Bahkan, kini telah banyak produsen herbal yang menjadikan teripang emas sebagai bahan utamanya.

Diantara banyaknya produk ekstrak teripang emas, QnC Jelly Gamat hadir dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya. Mengapa harus memilih QnC Jelly Gamat untuk membantu mengobati wajah bengkak karena alergi ?

QnC Jelly Gamat merupakan salah satu produk herbal yang dibuat dengan memanfaatkan ekstrak teripang emas sebagai komposisi utamanya dan dikombinasikan dengan bahan alami lainnya, sehingga kandungan dan khasiatnya lebih banyak.

QnC Jelly Gamat diproses secara tradisional dengan dukungan teknologi higienis tanpa campuran bahan kimia obat (BKO) serta tanpa pengawet dan pemanis buatan, sehingga benar-benar aman untuk dikonsumsi, bahkan oleh semua kalangan usia, termasuk ibu hamil dan menyusui.

Disamping itu, QnC Jelly Gamat juga telah teregistrasi Badan POM TR 173301471 dan terdaftar di DEPKES P-IRT No. 109321601291-1229. Juga QnC Jelly Gamat ini telah memiliki lisensi HALAL dari MUI, sehingga 100% aman dan berkualitas.

Itulah beberapa kandungan serta khasiat yang dimiliki oleh QnC Jelly Gamat sebagai salah satu solusi cara mengobati wajah bengkak karena alergi secara alami yang tepat dan aman.

*Disclaimer : Reaksi dan efektifitas produk mungkin berbeda pada setiap individu. Hal ini tergantung pda stadium penyakit, kondisi tubuh, serta dosis dan keteraturan minum. Selain itu, bagi penderita alergi seafood, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu sebelum mengonsumsi QnC Jelly Gamat.

Keterangan produk :

Nama produk : QnC Jelly Gamat
Komposisi :
Ekstrak Teripang Emas, Sweetener Stevia, Air RO, Pengemulsi Nabati, Essen Natural, Ekstrak Buah dan Sayur
Harga : Rp. 155.000,-/botol
Isi : 300 ml
Cara konsumsi : 2 kali 2 sendok makan sehari
*Harga belum termasuk ongkos kirim

Semoga informasi yang kami sampaikan bermanfaat dan bisa membantu menjadi solusi terbai untuk mengatasi masalah kesehatan yang Anda alami.

Bagi Anda yang berminat untuk merasakan khasiatnya secara langsung, silahkan klik tautan di bawah ini untuk informasi lengkap cara pemesanan dan daftar harga.

=> Cara Pemesanan QnC Jelly Gamat

Semoga lekas sembuh.

Waspadai 6 Hal yang Menjadi Pemicu Alergi Seks Berikut !

Waspadai 6 Hal yang Menjadi Pemicu Alergi Seks Berikut !,- Mungkin kita sering mendengar mengenai alergi makanan, alergi udara, alergi bulu binatang, dan lainnya. Namun, apakah Anda pernah mendengar mengenai alergi seks ?

Ya, selain alergi makanan, ternyata ada alergi seks juga. Sebenarnya yang paling tepat bukan aktivitas seksnya yang membuat alergi namun reaksi alergi timbul akibat kontak permukaan kulit dengan sperma, untuk mengatasi masalah ini perempuan yang mengidap alergi sperma harus menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks.

Seorang seksolog klinis dan pembawa acara seri Sexpectation di YouTube, Lindsey Doe, menyebutkan ada beberapa gejala umum alergi seks, diantaranya sesak napas, kulit gatal, mata berair, hidung berair, pembengkakan vagina, sesak dada, muntah, diare, dan hilang kesadaran.

Dan berikut ini merupakan 6 hal yang menjadi pemicu alergi seks yang perlu diketahui, yaitu :

1. Rutinitas pra-seks

Jangan salah, apa yang diasup sebelum berhubungan pun bisa merusak hubungan seks. Anda mungkin tidak alergi terhadap seks, tetapi makanan yang dikonsumsi sebelum berhubungan seksual atau obat-obatan yang diminum sebelum tidur dan berhubungan dapat mengacaukan sistem kekebalan.

Beberapa hal bisa saja terjadi seperti reaksi tubuh karena menggunakan sabun yang mengiritasi kulit saat mandi. Bahan lain misalnya minyak pijat juga terkadang bisa memicu reaksi di kulit.

Jika memperhatikan reaksi alergi, pikirkan kembali apa yang telah dilakukan, kemudian coba hilangkan terlebih dahulu, jika reaksinya tidak timbul, maka besar kemungkinan memang itu penyebabnya.

2. Pelumas

Seperti kondom, pelumas mengadnung bahan yang dapat menyebabkan reaksi alergi. Gejala-gejalanya akan sangat mirip, seperti rasa terbakar, bengkak, dan ruam.

Doe menjelaskan, pelumas yang menawarkan rasa, sensasi dingin atau panas dapat memiliki sejumlah tambahan yang mungkin tidak disukai sistem tubuh.

Ia melanjutkan, gliserin merupakan salah satu bahan lain yang tidak hanya bisa menyebabkan reaksi alergi, juga memiliki potensi untuk mengubah menjadi gula dan memicu infeksi ragi dengan gejala yang mirip dengan alergi.

Bahan pengiritasi lain yang mungkin termasuk penghilang rasa sakit benzocaine dan lidocaine, L-Arginine untuk meningkatkan gairah, nitrosamine pengawet atau nonoxynol-9 untuk membunuh sperma.

Jika merasa memiliki alergi pelumas, disarankan berhenti menggunakannya untuk melihat apakah gejalanya hilang. Jika tidak, segera konsultasi ke dokter.

3. Lateks

Lateks merupakan salah satu bahan utama yang digunakan dalam kondom, tetapi sayangya banyak orang yang alergi terhadap bahan yang satu ini.

Lateks juga biasanya digunakan dalam beberapa mainan seks, sehingga memiliki alergi ini dapat menyebabkan sedikit masalah di ranjang. Jika Anda memiliki alergi lateks, maka kemungkinan akan mengalami iritasi vagina, gatal dan rasa seperti terbakar. Beberapa orang mungkin juga akan mengalami ruam.

Cara termudah untuk menentukan apakah kita memiliki alergi terhadap lateks atau tidak, yaitu jika timbul reaksi setiap kali berhubungan seks dengan menggunakan kondom atau produk lain yang mengandung lateks.

Selain itu, ada juga bahan lain dalam kondom dan alat kontrasepsi lain yang juga dapat menyebabkan reaksi buruk, yaitu kasein dan paraben. Reaksi ini biasanya hilang dalam beberapa hari.

Tidak ada peraturan untuk produk seks, sehingga produsen tidak perlu mencantumkan semua materi dalam produk mereka walau ada kemungkinan menyebabkan alergi. Untuknya, ada kondom non-lateks yang bisa dibeli, jadi Anda masih tetap bisa menikmati seks tanpa rasa khawatir.

4. Alat kontrasepsi

Beberapa perempuan mungkin mengalami respons alergi terhadap alat kontrasepsi, terutama jika baru mengubah metode kontrasepsi. Hal mudah yang bisa dilakukan adalah cari tahu apa yang terjadi setelahnya.

Apa gejalanya dan apa yang terjadi situ sama atau berbeda dari hari-hari tanpa ada reaksi alergi. Efek samping dari pil KB dapat termasuk sakit kepala, mual dan muntah, masalah perut dan diare, ruam, dan tekanan darah tinggi atau rendah.

Ini mirip dengan reaksi alergi, dan jika terus berlanjut, maka segera konsultasi dengan dokter untuk mencari opsi lain. Reaksi serupa dapat terjadi dengan kontrasepsi lain seperti implan, injeksi, dan NuvaRing.

Baca juga : Gejala yang Timbul pada Penerita Alergi Kondom

5. Orgasme

Meskipun sangat jarang, namun seseorang bisa saja mengalami alergi terhadap orgasme. Orang tersebut biasanya memiliki kondisi yang disebut dengan sindrom penyakit pasca-orgasme (POIS), atau sindrom penyakit pasca-ejakulasi.

Hal ini bisa membuat seseorang merasa lemah, demam, lelah, dan mudah tersinggung. Menurut Doe. Kondisi langka ini juga menyebabkan gejala mirip flu dimulai sesaat setelah ejakulasi.

Mereka kesulitan berkonsentrasi dan berusaha melawan kepala tersumbat segera setelah ejakulasi. Ia melanjutkan, para peneliti yang mempelajari POIS tidak semuanya setuju, tetapi banyak dari mereka percaya bahwa penyebabnya adalah sperma, baik pada spermanya sendiri atau wanita yang tubuhnya mengeluarkan respon alergi pada sperma pasangannya.

Pada dasarnya, protein dalam cairan memicu reaksi alergi, biasanya rasa sakit dan terbakar. Kita juga mungkin mengalami gatal-gatal, bengkak, sesak dada, pusing, diare, dan kehilangan kesadaran.

Menurut penelitia Tulan University baru-baru ini, POIS pertama kali didokumentasikan pada tahun 2002 dan ada lebih dari 50 kasus yang tercatat di seluruh dunia, tetapi bisa lebih tinggi jika pria belum pernah mendengar kondisi sebelumnya.

6. Trauma

Beberapa perempuan dapat mengalami reaksi di ranjang jika memiliki hubungan buruk dengan seks.

“Sepengetahuan saya, tidak ada alergi nyata untuk hubungan seksual, tetapi ada sesuatu yang sangat dekat yang disebut dispareunia atau hubungan seks yang menyakitkan” kata Doe.

Pada dasarnya, katanya, sesuatu yang bersifat psikologis yang mengendapkan respons fisiologis. Misalnya kekerasan dalam hubungan, rasa malu, atau tabu terhadap seksualitas atau kurangnya kepercayaan pada pasangan.

Gejala dispeurania termasuk rasa sakit saat penetrasi, rasa sakit saat berhubungan seks, rasa seperti terbakar yang bisa berlangsung selama berjam-jam setelah berhubungan seks.

Hal tersebut bisa disebabkan oleh masalah fisik dan emosional. Jika mengalami hal tersebut, Anda harus segera konsultasi dengan dokter.

Waspada! Faktor Pemicu Alergi Juga Ada di Dalam Rumah

Waspada! Faktor Pemicu Alergi Juga Ada di Dalam Rumah,- Alergi merupakan mekanisme perlindungan alami yang muncul saat sistem imun tubuh bekerja melawan balik partikel asing berpotensi bahaya yang masuk ke dalam tubuh. Ironisnya, banyak hal yang dianggap asing oleh sistem imun tubuh ini ternyata adalah hal-hal yang biasa kita temukan di sekitar kita.

Bagi sebagian orang, alergi menjadi suatu penyakit yang sangat mengganggu. Tidak hanya di luar rumah, tetapi juga di dalam rumah. Beberapa pemicu alergi juga terdapat di dalam rumah, sehingga dapat meningkatkan kemungkinan kambuhnya alergi.

Rumah adalah sebuah perangkat besar bagi alergen, yang membuat alergi semakin sulit untuka dihindari. Reaksi alergi bisa timbul sepanjang tahun, dipicu oleh alergen dalam ruangan. Dan berikut ini merupakan beberapa faktor pemicu alergi yang ada di dalam rumah yang perlu diwaspadai, yaitu :

Debu

Debu adalah kumpulan partikel sisa dari berbagai macam hal, mulai dari rerontokan daun kering, sel kulit mati, tanah, bangkai serangga, sisa makanan, serat, dan sampah lainnya.

Lumut

Lumut dan jamur akan tumbuh berkembang semakin baik di tempat gelap, basah, dan lembap, seperti kamar mandi, gudang, atau tempat-tempat dengan kebocoran.

di masa panennya, jamur dan lumut akan melepaskan spora mikrobik pemicu reaksi alergi. Sama halnya dengan gejala aelrgi serbuk sari bunga, asma bisa timbul akibat menghirup spora dalam jumlah yang besar.

Tungau

Tungau adalah penyebab utama dari alergi, dan debu yang terkumpul di sudut-sudut rumah menyediakan tempat tinggal yang nyaman bagi kutu mikroskopik ini. Tungau hidup dari sel-sel kulit mati yang dilepaskan setiap hari. Oleh karena itu, salah satu area favorit mereka adalah kasur, bersembunyi di seprai, sela-sela jahitan pinggir kasur, bantal, bahkan boneka koleksi anak.

Hewan peliharaan

Sebagai mekanisme adaptasi alami, anjing dan kucing jenis tertentu akan merontokkan bulu-bulunya. Bulu dan sel kulit mati yang rontok inilah yang menjadi penyebab timbulnya reaksi alergi, bukannya bulu yang masih menempel di badan dbinatang.

Selain itu, reaksi alergi juga bisa timbul akibat protein yang terkandung di dalam air liur dan/atau urin anjing, kucing, dan binatang-binatang pengerat (hamster, kelinci, tikus).

Partikel asing sisa binatang ini ringan, sehingga bisa beterbangan di udara, menempel di perabotan rumah dan bertahan sampai berbulan-bulan, hingga kemudian menjadi sarang tumbuhnya mutasi alergen yang mudah tersebar melalui udara.

Kecoa

Kecoa merupakan serangga penyebar bakteri dan penyakit. Yang lebih menyebalkan lagi, kecoa adalah salah stau binatang paling tahan banting dan sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar, terutama jika daerah tersebut memiliki banyak persediaan air dan makanan.

Apa yang menyebabkan alergi kecoa ? Hal ini disebabkan karena alergennya bisa ditemukan dalam enzim pencernaan, air liur, feses, dan tubuh kecoa. Bagi sebagian orang, alergi yang disebabkan oleh kecoa ini bis amenjadi faktor utama penyebab asma serius dan masalah pernapasan lainnya.

Insektisida pembasmi kecoa pun bisa menimbulkan reaksi alergi jika digunakan secara sembarangan, akibat racun yang terkandung dalam gas tersebut.

Namun, penderita bisa meminimalisir hadirnya pemicu alergi ini dengan menjauhkannya dari penderita alaergi. Menjaga rumah tetap bersih dan kering mungkin merupakan langkah paling penting untuk meminimalisir hadirnya pemicu alergi di dalam rumah.

Membersihkan rumah secara total adalah langkah awal untuk menjaga rumah bebas alergen. Air purifier atau pemurni udara juga memiliki peran penting untuk menjaga suhu ruangan tetap netral.

Langkah lain yang bisa dilakukan adalah menjauhkan hewan lpeliharaan agar tidak tidur di ranjang. Selain itu, sterilisasi kasur dari ngengat dan kutu busuk tidak kalah penting, jika perlu Anda juga bisa meminta bantuan dari profesional.

Langkah pencegah alergi lain adalah mencegah karpet dan plafon menjadi lembab akibat tumpahan atau kebocoran air. Jika hal ini terjadi, segera keringkat untuk mencegah kelembaban penyebab timbulnya jamur.

Terakhir, pilihlah perabot dan dekorasi rumah yang tepat untuk menciptakan rumah sehat bebas alergi.

 

Artikel terkait :

Cara Jadikan Rumah Anti Alergi
5 Langkah Efektif Bebaskan Rumah dari Debu
Meningkatkan Kualitas Udara di Rumah Bantu Cegah Alergi

Waspada! Inilah Jenis Alergi yang Bisa Bikin Wajah Gatal

Waspada! Inilah Jenis Alergi yang Bisa Bikin Wajah Gatal,- Alergi merupakan salah satu bentuk respon tubuh terhadap benda atau kondisi tertentu yang dianggap berbahaya. Biasanya alergi terdeteksi dengan berbagai tanda seperti gatal-gatal, pusing, mual, dan sebagainya.

Sampai sekarang penyebab pasti dari alergi masih belum diketahui. Alergi juga sampai saat ini masih belum bisa diobati. Namun, pengobatan alergi bertujuan untuk meredakan gejala alergi yang timbul.

Alergi biasanya diturunkan dalam keluarga. Namun, bukan berarti sudah pasti Anda terkena alergi jika orangtua memiliki alergi tertentu. Hanya saja, kemungkinan Anda terkena alergi akan lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki riwayat alergi dalam keluarga.

Alergi bisa terjadi ketika suatu benda asing terpapar pada tubuh dan menyebabkan sel imunitas tubuh bereaksi terlalu berlebihan, sehingga timbul gejala alergi. Paparan benda asing tersebut bisa dikonsumsi, inhalasi, bahkan sentuhan.

Berbagai gejala alergi bisa timbul seperti gangguan pada kulit (gatal, biduran, dan eksim), gangguan pada mata (mata berair dan gatal), gangguan pada hidung (hidung berair), gangguan pada saluran napas (asma), dan gangguan pada saluran pencernaan (diare).

Diantara beberapa gejala tersebut, wajah gatal merupakan salah satu gejala alergi yang sering terjadi. Ada beberapa jenis alergi yang bisa bikin wajah gatal, diantaranya adalah :

*) Makanan

Alergi makanan tertentu sering menyebabkan wajah gatal. Tingkat keparahan dari alaergi makanan bervariasi. Mulai dari wajah gatal, gangguan pencernaan, wajah bengkak, hingga sesak napas. Jika sudah menyebabkan bengkak pada wajah, lidah, dan tenggorokan, berarti alergi yang dialami sudah sangat parah dan dapat menyebabkan reaksi anafilaksis. Jika hal ini terjadi, maka sebaiknya segera ke unit gawat darurat untuk segera dilakukan tindakan medis.

*) Binatang

Berbagai jenis binatang juga bisa menjadi penyebab wajah gatal. Penyebabnya bukan hanya bulu dari binatang tersebut, tetapi juga karena air liur dan sel kulit matinya. Gejala lain alergi binatang selain wajah gatal adalah berupa bersin hingga sesak napas.

*) Obat-obatan

Obat-obatan selain yang dikonsumsi dan dioleskan pada wajah juga bisa menyebabkan wajah gatal. Untuk obat minum, biasanya juga menyebabkan gatal pada area tubuh lain seperti tangan, perut, dan kaki. Alergi obat yang parah juga bisa menyebabkan reaksi anafilaksis.

*) Dermatitis kontak

Zat alergen lainnya juga bisa menyebabkan wajah gatal. Namun, zat alergen tersebut belum tentu menyebabkan alergi ke orang lain. Zat alergen tersebut dapat berupa sabun, sampo, deterjen, dan lain-lain. Biasanya, zat alergen ini akan menyebabkan alergi di bagian kulit manapun yang terjadi kontak, tak hanya pada wajah.

*) Eksim

Eksim juga bisa menyebabkan wajah gatal. Selain itu, gejalanya juga bisa berupa bercak merah dan bersisik. Penyebab pasti dari eksim atau dermatitis atopik ini masih belum diketahui secara pasti. Penderita asma dan alergi musim lebih berisiko mengalami eksim.

*) Alergi musim

Wajah gatal bisa disebabkan oleh alergi musim atau sering disebut dengan hay fever. Biasanya alergi musim terjadi saat musim menjelang berangin dan dingin. Gejalanya dapat berupa wajah gatal, mata merah, berair, gatal, hingga bengkak. Bahkan alergi juga bisa menjadi konjungtivitas atau peradangan konjungtiva mata jika sudah cukup parah.

 

Baca juga :

Solusi Herbal untuk Atasi Ruam di Wajah karena Alergi
Mengobati Alergi pada Wajah Bayi
Penyakit Alergi Kosmetik pada Kulit Wajah

Jangan Salah! Inilah Cara Mengenali Gejala Alergi pada Anak

Jangan Salah! Inilah Cara Mengenali Gejala Alergi pada Anak,- Alergi yang menyerang anak bisa terjadi kapanpun. Hal ini bisa membuat anak rewel, merasa tidak nyaman, sampai-sampai kehilangan nafsu makan karena lemas.

Bagi para orangtua baru, tentu keluhan pada anak tersebut seringkali menimbulkan tanda tanya besar. Apakah gangguan tersebut merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau mungkin karena serangan alergi.

Sebagian besar kasus alergi terjadi karena faktor genetik. Namun, ada pula yang disebabkan karena faktor luar, seperti makanan atau lingkungan. Beberapa makanan yang sering menyebabkan alergi diantaranya seperti kacang, susu, telur, kerang, dan ikan.

Sedangkan alergi yang disebabkan oleh lingkungan biasanya terjadi saat anak menginjak usia 18 bulan. Beberapa hal yang menjadi penyebabnya antara lain serbuk sari, debu, tungau, bubu binatang, atau jamur.

Untuk mengetahui apakah anak memiliki alergi atau tidak, memang perlu dilakukan pemeriksaan medis dan berkonsultasi dengan dokter. Namun selain itu, alangkah lebih baik jika sebagai orangtua, Anda juga perlu mengetahui beberapa gejala alergi.

Agar tidak salah, inilah cara mengenali gejala alergi pada anak yang perlu diketahui, yaitu :

Alergi makanan

Alergi dan toleransi makanan biasanya terjadi secara bergantian. Alergi merupakan reaksi dari sistem kekebalan tubuh terhadap zat yang masuk karena dianggap membahayakan.

Reaksi yang timbul diantaranya gatal, bibir bengkak, muntah, diare, dan bantuk mengi atau berbunyi. Ketika seorang bayi memiliki alergi terhadap makanan, maka ia akan kehilangan enzim yang diperlukan untuk memecah protein menjadi bagian mudah dicerna.

Akibatnya, adanya gas yang berlebihan atau kram pada perut yang membuatnya rewel. Gejala dari keduanya dapat terjadi ketika si kecil mulai kenyang, termasuk juga saat diberi susu formula atau menyusui. Jika curiga anak mengalami hal ini, maka segera konsultasikan kondisinya dengan dokter spesialis alergi.

Baca juga : Tisu Basah Ternyata Bisa Picu Alergi pada Anak

Ruam

Ruam merupakan tanda yang biasanya timbul pertama. Beberapa bayi yang baru lahir memiliki jerawat kecil di wajah. Namun, berbeda lagi dengan eksim, yang merupakan ruam wajah yang menyebar secara luas, berwarna merah, bersisik, dan gatal. Setelah timbul di wajah, akan timbul pada bagian lengan, kaki, lipatan lutut, bahkan pada siku.

Untuk mengatasinya, mandikan bayi dengan sabun hypoallergenic dan gunakan pelembab tanpa aroma. Jika tak kunjung mereda, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Nantinya dokter akan memberikan obat topikal dan antihistamin untuk menyembuhkan dan mengontrol gatal.

Batuk berkepanjangan

Asma merupakan salah satu bentuk alergi yang menyebabkan peradangan di saluran napas. Ditandai dengan timbulnya batuk mengi atau berbunyi dan sesak napas. Bayi yang memiliki alergi eksim dan makanan lebih mungkin terkena asma.

Biasanya gejalanya tidak disebabkan oleh pilek atau virus. Tetapi timbul batuk berbunyi terus menerus dan tak kunjung sembuh. Jangan tunda untuk memeriksakannya ke dokter.

Mengejutkan! Tisu Basah Ternyata Bisa Picu Alergi pada Anak

Mengejutkan! Tisu Basah Ternyata Bisa Picu Alergi pada Anak,- Tisu basah merupakan salah satu keperluan yang selalu tersedia dalam tas bayi, terutama saat melakukan perjalanan jauh. Saat si kecil buang air besar atau buang air kecil, orantua akan mengandalkan tisu basah untuk membersihkan area yang kotor tersebut.

Selain itu, jika tangan dan kaki anak kotor dan tidak ada air, maka tinggal di lap saja. Tisu basah memang memiliki peranan yang cukup besar di kehidupan sehari-hari. Namun, ternyata penggunaan tisu basah secara terus menerus memiliki dampak negatif.

Sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology mengungkapkan bahwa kebiasaan orangtua menggunakan tisu basah untuk membersihkan kulit anak dapat meningkatkan risiko alergi.

Hal ini disebabkan karena kandungan sabun pada tisu basah dapat menghilangkan lipid atau minyak alami yang berfungsi untuk melindungi kulit. Jika sisa sabun ini tidak segera dibilas, maka bayi akan menyerap lebih banyak zat kimia yang dapat memicu reaksi alergi.

Inilah mengapa, jumlah kasus alergi di Amerika Serikat meningkat sebanyak 20% selama 20 tahun terakhir. Para penelitin secara khusus memperinagtkan para orangtua yang anaknya secara genetis berpotensi memiliki alergi dengan kondisi dermatitis atopik.

Perlu diketahui, dermatitis atau eksim atopik adalah kondisi kronis yang menyebabkan gatal-gatal. Kondisi ini disebabkan oleh mutasi genetik yang mengganggu protein kulit yang berfungsi menciptakan perlindungan.

Penulit utama studi dan profesor alergi-imunologi di Northwestern University, Joan Cook-MIlls, mendapati bahwa dermatitis atopik tidak serta merta terjadi hanya karena paparan terhadap alergen, seperti kacang.

Ia mendapatkan ide mengenai pengaruh tisu basah setelah membaca beberapa studi yang menunjukkan bahwa obat-obatan untuk dermatitis atopik diberikan kepada kulit yang baru disabun untuk memecah perlindungannya.

Untuk membuktikan hipotesisnya, Mills bersama dengan koleganya kemudian melakukan pengujian terhadap bayi tikus yang memiliki mutasi dermatitis atopik.

Mereka mengaplikasikan natrium laurel sulfat, bahan sabun yang biasa ditemukan pada tisu basah, ke kulit tikus. Setelah itu, selama 2 minggu, bayi tikus diberi 3 sampai 4 kali paparan terhadap alergen dengan durasi 40 menit dan diberi makan kacang atau telur.

Meskipun seharunya tikus tidak menunjukkan reaksi gatal-gatal dan kulit kering sampai berusia beberapa bulan yang setara dengan usia manusia dewasa muda, bayi tikus dalam studi langsung mengalami iritasi pada usus dan area kulit yang terpapar. Bayi tikus juga menunjukkan anafilaksis atau reaksi alergi berat di seluruh tubuh.

Ia menyebutkan, bayi mungkin tidak memakan alergen ketika baru lahir, namun mereka mendapatkannya dari kontak kulit. Misalnya saat saudara dengan selai kacang diwajahnya mencium bayi, atau orangtua yang mempersiapkan makanan dengan kacang tiba-tiba menggendong bayi.

Dibandingkan dengan menggunakan tisu basah, Cook-Mills lebih menyarankan untuk mencuci tangan bayi karena efek sabun akan terbilas, Selain itu, jangan lupa untuk selalu mencuci tangan sebelum memegang bayi untuk mengurangi paparan terhadap alergen.

 

Artikel terkait :

Cara Menghindarkan Anak dari Alergi
Obat Alergi Anak 1 Tahun
Obat Alergi Anak Tradisional