Tanda dan Gejala Alergi Gluten yang Perlu Diketahui

Tanda dan Gejala Alergi Gluten yang Perlu Diketahui,- www.pengobatanalergi.com – Akhir-akhir ini Anda mungkin sering melihat banyak produk yang berlabel bebas gluten. Makanan dengan kandungan gluten kini mulai dihindari oleh masyarakat yang dingin mulai hidup sehat. Gluten sering disebut sebagai silent killer karena bisa menyebabkan kerusakan kronis di seluruh tubuh secara diam-diam. Bahkan, terkadang penderita tidak menyadari jika mereka memiliki intoleransi gluten.

Lalu, apa itu gluten ?

Gluten adalah protein yang ditemukan pada endosperma gandum. Gluten memelihara embrio tanaman selama perkecambahan dan memengaruhi elastisitas bagian tanaman, yang akan memengaruhi kekenyalan produk gandum.

Gluten bisa mengancam mereka yang memiliki intoleransi gluten, atua kelainan pada respons imun saat memecah gluten dari makanan berbahan dasar gandum di pencernaan. Diperkirakan sekitar 99% orang dengan intoleransi gluten tidak terdeteksi, sedangkan kondsii ini bisa menimbulkan dampak negatif.

Gejala Alergi Gluten

Mengetahui Tanda dan Gejala Alergi Gluten

Para dokter memperkirakan sebanyak 15% populasi masyarakat mengalami alergi gluten. Sayangnya, masih banyak yang belum mengetahinya. Agar lebih waspada, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengenali kondisi tubuh yang mengalami alergi gluten.

Berikut merupakan tanda dan gejala alergi gluten yang perlu diketahui :

  • Pembengkakan

Pembengkakan atau sakit di jari-jari, lutut, atau paha merupakan salah satu hasil dari respons negatif tubuh terhadap makanan yang kaya akan kandungan gluten.

  • Kelelahan

Kelelahan atau kebingungan sesaat setelah mengonsumsi makanan gandum mengandung gluten merupakan salah satu gejala bahwa Anda sensitif terhadap gluten.

  • Masalah kulit

Kulit merupakan satu hal yang paling terkena dampaknya jika Anda memang alergi gluten. Berbagai bentuk dematitis pun bisa berkembang, seperti eksim dan ruam kulit. Jerawat juga bisa sebagai isu potensial lainnya dari alergi gluten.

  • Masalah pencernaan

Masalah pencernaan merupakan gejala alergi gluten yang paling umum dialami. Pemebntukan gas, disentri, konstipasi, dan perut kembung merupakan beberapa gejalanya. Konstipasi merupakan keluhan masalah pencernaan yang sering dirasakan oleh penderita alergi gluten.

  • Gejala saraf

Sakit kepala atau ketidakseimbangan tubuh merupakan masalah saraf yang menjadi indikasi adanya gluten dalam makanan dan gejala tubuh Anda memiliki alergi gluten.

Nah, itulah beberapa tanda dan gejala alergi gluten yang perlu diketahui dan diwaspadai. Segera kunjungi dokter jika Anda mengalami salah satu atau beberapa gejala yang telah disebutkan diatas untuk mencari tahu kemungkinan alergi gluten. Semoga bermanfaat.

Mengenal Alergi Musiman Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Mengenal Alergi Musiman : Penyebab, Gejala, dan Pengobatan,- Bersin, batuk, pilek, dan hidung tersumbat merupakan beberapa gejala alergi yang mungkin dialami. Pilek biasanya bisa terjadi dalam waktu beberapa hari, namun berbeda jika anda mengalami alergi musiman yang bisa terjadi dalam waktu yang lebih lama.

Jika Anda mengalami batuk, bersin, atau umumnya merasa sesak ketika terjadi perubahan musim, maka itu bisa menjadi tanda bahwa Anda mengalami alergi musiman.

Apa itu alergi musiman ?

Alergi musiman adalah reaksi alergi yang bisa dialami seseorang karena perubahan musim, atau dikenal juga sebagai alergi rhinitis atau demam hay. Ada jutaan orang di seluruh dunia yang memiliki masalah ini, merasakan hidungnya berair, kongesti, mata gatal, dan reaksi alergi lainnya hingga alergi musim tertentu.

Alergi musiman ini menyebabkan reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh, sebagai respon dari alergen berbeda yang ada di udara. Alergen adalah zat yang bertanggung jawab terhadap reaksi alergi. Ada banyak alergen yang dapat menyebabkan kondisi ini, biasanya dihadapi oleh individu yang mengidap alergi saat perubahan musim, sepert sebuk sari, jamur, debu, atau bulu hewan peliharaan.

Umumnya alergi musiman timbul beberapa kali selama setahun, dengan penderita mengalami gejala pada masa tertentu dalam tahun tersebut. Sebagian orang tidak sadar bahwa mereka memiliki alergi musiman, dan menganggap gejala yang dirasakan adalah pilek dan virus lainnya.

Demam hay atau alergi musiman ini seringkali menyerang anak-anak, namun reaksi alergi ini dialami pasien dengan berbagai usia. Berlawanan dengan anggapan umum, demam hay tidak disebabkan oleh jerami, dan reaksi alerginya tidak menyebabkan demam. Pada dasarnya, ini adalah peradangan pada hidung yang menimbulkan gejala seperti pilek, yang dapat berkurang atau hilang setelah udara bersih dari alergen.

Penyebab alergi musiman

Sama halnya dengan alergi lainnya, alergi musiman juga disebabkan oleh paparan pada alergen tertentu yang membuat sistem kekebalan tubuh menjadi kacau. Serbuk sari merupakan yang paling umum, dan datang dari berbagai sumber, seperti bunga, pohon, gulma, rerumputan, dan tanaman. Alergi musiman yang disebabkan oleh serbuk sari hanya muncul pada waktu tertentu dalam satu tahun.

Alergi serbuk sari tidak hanya timbul saat musim semi. Namun, saat musim panas, atau saat hari terasa panas, berangin, dan kering. banyak pusaran serbuk sari terbawa angin, dan dapat dihirup kapan saja. Saat hujan juga bisa menyebabkan alergi serbuk sari, hal ini disebabkan karena banyak bagian tumbuhan yang terbawa oleh hujan.

Sebagian orang juga alergi terhadap bulu hewan peliharaan seperti kucing dan anjing. Yang lain mengalami alergi musiman saat terpapar tungau, yang sering timbul pada cuaca kering dan berangin. Kecoa dan jamur juga merupakan pemicu alergi yang umum. Alergi ini biasanya ditemukan dalam ruangan, dan menyerang penderita sepanjang tahun.

Sebagian pasien menemui alergennya di tempat kerja. Serbuk kayu, binatang yang digunakan untuk penelitian di laboratorium, gandum dan sereal, zat kimia dan uap tertentu, dapat menyebabkan reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh.

Ketika seseorang dengan alergi musiman terpapar alergen, maka sisten kekebalan tubuh akan melepaskan berbagai jenis zat biokimia yang dapat menyebabkan peradangan pada membran mukus, dan lapisan dalam dari hidung. Ketika membran membengkak, akan menghasilkan lebih banyak lendir, sehingga hidung jadi berair.

Penelitian menunjukkan, alergi musiman bisa jadi merupakan kondisi turunan. Seseorang yang memiliki orangtua yang mengalami gejala serupa pada waktu tertentu dalam satu tahun, bisa jadi memiliki alergi rhinitis. Penelitian juga menemukan bahwa pasien dengan ibu yang memiliki alergi rhinitis, biasanya memiliki kondisi yang sama. Alergi rhinitis pada beberapa orang juga bisa disebabkan oleh makanan tertentu.

Gejala utama alergi musiman

Kebanyakan gejala alergi musiman hanya seputar sistem pernapasan, karena alergen ada di udara yang dihirup oleh individu. Namun, seringkali terjadi kesalahan dengan menganggap gejala alergi rhinitis dengan pilek, karena cukup sama.

Ketipa penderita terpapar alergen, biasanya akan mengalami kesulitan untuk mencium sesuatu, hidung berair, bersin-bersin, mata berair, hidung, mata, mulut, tenggorokan, dan kulit terasa gatal. Beberapa penderita juga mengalami hidung mampet, batuk, telinga tersumbat, mata bengkak dan timbul area gelap di sekitarnya, radang tenggorokan, sakit kepala, merasa lelah dan mudah tersinggung.

Pencegahan dan pengobatan yang tersedia

Gejala alergi musiman biasanya ringan dan tidak memerlukan kunjungan ke unit gawat darurat. Dokter keluarga atau dokter umum dapat memberikan resep obat alergi jika diperlukan atau tips hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi gejalanya.

Pengobatan terbaik untuk mengatasi alergi musiman yaitu membuat hidup bebas dari alergen. Pastinya, sulit untuk sepenuhnya menghindari alergen yang ada di udara, namun kewaspadaan dapat membantu. Mengurangi debu dan tungau di dalam rumah, juga jamur, tentunya dapat membantu. Membersihkan rumah secara teratur adalah langkay mudah yang dapat mengurangi timbulnya alergi musiman.

Memasan penyaring udara di dalam rumah, menggantu perabot dan kain pelapis, selimut, karpet, dan bahan tekstil lainnya yang dapat menyebabkan alergi, dan menggunakan alat untuk mengurangi kelembaban udara juga dapat membantu. Tetap di dalam ruangan saat musim sebuk sari juga dapat mengurangi timbulnya alergi.

Obat-obatan juga dapat bekerja untuk meredakan gejalanya. Antihistamine sering digunakan, dan dapat dibeli secara bebas. Antihistamine terdapat dalam bentuk cairan, kapsul, pil, namun dapat menyebabkan kantuk. Formula baru antihistamine tidak lagi menyebabkan kantuk, dan seharusnya dikonsumsi saat penderita perlu melakukan pekerjaan penting.

Waspadai 6 Hal yang Menjadi Pemicu Alergi Seks Berikut !

Waspadai 6 Hal yang Menjadi Pemicu Alergi Seks Berikut !,- Mungkin kita sering mendengar mengenai alergi makanan, alergi udara, alergi bulu binatang, dan lainnya. Namun, apakah Anda pernah mendengar mengenai alergi seks ?

Ya, selain alergi makanan, ternyata ada alergi seks juga. Sebenarnya yang paling tepat bukan aktivitas seksnya yang membuat alergi namun reaksi alergi timbul akibat kontak permukaan kulit dengan sperma, untuk mengatasi masalah ini perempuan yang mengidap alergi sperma harus menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks.

Seorang seksolog klinis dan pembawa acara seri Sexpectation di YouTube, Lindsey Doe, menyebutkan ada beberapa gejala umum alergi seks, diantaranya sesak napas, kulit gatal, mata berair, hidung berair, pembengkakan vagina, sesak dada, muntah, diare, dan hilang kesadaran.

Dan berikut ini merupakan 6 hal yang menjadi pemicu alergi seks yang perlu diketahui, yaitu :

1. Rutinitas pra-seks

Jangan salah, apa yang diasup sebelum berhubungan pun bisa merusak hubungan seks. Anda mungkin tidak alergi terhadap seks, tetapi makanan yang dikonsumsi sebelum berhubungan seksual atau obat-obatan yang diminum sebelum tidur dan berhubungan dapat mengacaukan sistem kekebalan.

Beberapa hal bisa saja terjadi seperti reaksi tubuh karena menggunakan sabun yang mengiritasi kulit saat mandi. Bahan lain misalnya minyak pijat juga terkadang bisa memicu reaksi di kulit.

Jika memperhatikan reaksi alergi, pikirkan kembali apa yang telah dilakukan, kemudian coba hilangkan terlebih dahulu, jika reaksinya tidak timbul, maka besar kemungkinan memang itu penyebabnya.

2. Pelumas

Seperti kondom, pelumas mengadnung bahan yang dapat menyebabkan reaksi alergi. Gejala-gejalanya akan sangat mirip, seperti rasa terbakar, bengkak, dan ruam.

Doe menjelaskan, pelumas yang menawarkan rasa, sensasi dingin atau panas dapat memiliki sejumlah tambahan yang mungkin tidak disukai sistem tubuh.

Ia melanjutkan, gliserin merupakan salah satu bahan lain yang tidak hanya bisa menyebabkan reaksi alergi, juga memiliki potensi untuk mengubah menjadi gula dan memicu infeksi ragi dengan gejala yang mirip dengan alergi.

Bahan pengiritasi lain yang mungkin termasuk penghilang rasa sakit benzocaine dan lidocaine, L-Arginine untuk meningkatkan gairah, nitrosamine pengawet atau nonoxynol-9 untuk membunuh sperma.

Jika merasa memiliki alergi pelumas, disarankan berhenti menggunakannya untuk melihat apakah gejalanya hilang. Jika tidak, segera konsultasi ke dokter.

3. Lateks

Lateks merupakan salah satu bahan utama yang digunakan dalam kondom, tetapi sayangya banyak orang yang alergi terhadap bahan yang satu ini.

Lateks juga biasanya digunakan dalam beberapa mainan seks, sehingga memiliki alergi ini dapat menyebabkan sedikit masalah di ranjang. Jika Anda memiliki alergi lateks, maka kemungkinan akan mengalami iritasi vagina, gatal dan rasa seperti terbakar. Beberapa orang mungkin juga akan mengalami ruam.

Cara termudah untuk menentukan apakah kita memiliki alergi terhadap lateks atau tidak, yaitu jika timbul reaksi setiap kali berhubungan seks dengan menggunakan kondom atau produk lain yang mengandung lateks.

Selain itu, ada juga bahan lain dalam kondom dan alat kontrasepsi lain yang juga dapat menyebabkan reaksi buruk, yaitu kasein dan paraben. Reaksi ini biasanya hilang dalam beberapa hari.

Tidak ada peraturan untuk produk seks, sehingga produsen tidak perlu mencantumkan semua materi dalam produk mereka walau ada kemungkinan menyebabkan alergi. Untuknya, ada kondom non-lateks yang bisa dibeli, jadi Anda masih tetap bisa menikmati seks tanpa rasa khawatir.

4. Alat kontrasepsi

Beberapa perempuan mungkin mengalami respons alergi terhadap alat kontrasepsi, terutama jika baru mengubah metode kontrasepsi. Hal mudah yang bisa dilakukan adalah cari tahu apa yang terjadi setelahnya.

Apa gejalanya dan apa yang terjadi situ sama atau berbeda dari hari-hari tanpa ada reaksi alergi. Efek samping dari pil KB dapat termasuk sakit kepala, mual dan muntah, masalah perut dan diare, ruam, dan tekanan darah tinggi atau rendah.

Ini mirip dengan reaksi alergi, dan jika terus berlanjut, maka segera konsultasi dengan dokter untuk mencari opsi lain. Reaksi serupa dapat terjadi dengan kontrasepsi lain seperti implan, injeksi, dan NuvaRing.

Baca juga : Gejala yang Timbul pada Penerita Alergi Kondom

5. Orgasme

Meskipun sangat jarang, namun seseorang bisa saja mengalami alergi terhadap orgasme. Orang tersebut biasanya memiliki kondisi yang disebut dengan sindrom penyakit pasca-orgasme (POIS), atau sindrom penyakit pasca-ejakulasi.

Hal ini bisa membuat seseorang merasa lemah, demam, lelah, dan mudah tersinggung. Menurut Doe. Kondisi langka ini juga menyebabkan gejala mirip flu dimulai sesaat setelah ejakulasi.

Mereka kesulitan berkonsentrasi dan berusaha melawan kepala tersumbat segera setelah ejakulasi. Ia melanjutkan, para peneliti yang mempelajari POIS tidak semuanya setuju, tetapi banyak dari mereka percaya bahwa penyebabnya adalah sperma, baik pada spermanya sendiri atau wanita yang tubuhnya mengeluarkan respon alergi pada sperma pasangannya.

Pada dasarnya, protein dalam cairan memicu reaksi alergi, biasanya rasa sakit dan terbakar. Kita juga mungkin mengalami gatal-gatal, bengkak, sesak dada, pusing, diare, dan kehilangan kesadaran.

Menurut penelitia Tulan University baru-baru ini, POIS pertama kali didokumentasikan pada tahun 2002 dan ada lebih dari 50 kasus yang tercatat di seluruh dunia, tetapi bisa lebih tinggi jika pria belum pernah mendengar kondisi sebelumnya.

6. Trauma

Beberapa perempuan dapat mengalami reaksi di ranjang jika memiliki hubungan buruk dengan seks.

“Sepengetahuan saya, tidak ada alergi nyata untuk hubungan seksual, tetapi ada sesuatu yang sangat dekat yang disebut dispareunia atau hubungan seks yang menyakitkan” kata Doe.

Pada dasarnya, katanya, sesuatu yang bersifat psikologis yang mengendapkan respons fisiologis. Misalnya kekerasan dalam hubungan, rasa malu, atau tabu terhadap seksualitas atau kurangnya kepercayaan pada pasangan.

Gejala dispeurania termasuk rasa sakit saat penetrasi, rasa sakit saat berhubungan seks, rasa seperti terbakar yang bisa berlangsung selama berjam-jam setelah berhubungan seks.

Hal tersebut bisa disebabkan oleh masalah fisik dan emosional. Jika mengalami hal tersebut, Anda harus segera konsultasi dengan dokter.

Jangan Salah! Inilah Cara Mengenali Gejala Alergi pada Anak

Jangan Salah! Inilah Cara Mengenali Gejala Alergi pada Anak,- Alergi yang menyerang anak bisa terjadi kapanpun. Hal ini bisa membuat anak rewel, merasa tidak nyaman, sampai-sampai kehilangan nafsu makan karena lemas.

Bagi para orangtua baru, tentu keluhan pada anak tersebut seringkali menimbulkan tanda tanya besar. Apakah gangguan tersebut merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau mungkin karena serangan alergi.

Sebagian besar kasus alergi terjadi karena faktor genetik. Namun, ada pula yang disebabkan karena faktor luar, seperti makanan atau lingkungan. Beberapa makanan yang sering menyebabkan alergi diantaranya seperti kacang, susu, telur, kerang, dan ikan.

Sedangkan alergi yang disebabkan oleh lingkungan biasanya terjadi saat anak menginjak usia 18 bulan. Beberapa hal yang menjadi penyebabnya antara lain serbuk sari, debu, tungau, bubu binatang, atau jamur.

Untuk mengetahui apakah anak memiliki alergi atau tidak, memang perlu dilakukan pemeriksaan medis dan berkonsultasi dengan dokter. Namun selain itu, alangkah lebih baik jika sebagai orangtua, Anda juga perlu mengetahui beberapa gejala alergi.

Agar tidak salah, inilah cara mengenali gejala alergi pada anak yang perlu diketahui, yaitu :

Alergi makanan

Alergi dan toleransi makanan biasanya terjadi secara bergantian. Alergi merupakan reaksi dari sistem kekebalan tubuh terhadap zat yang masuk karena dianggap membahayakan.

Reaksi yang timbul diantaranya gatal, bibir bengkak, muntah, diare, dan bantuk mengi atau berbunyi. Ketika seorang bayi memiliki alergi terhadap makanan, maka ia akan kehilangan enzim yang diperlukan untuk memecah protein menjadi bagian mudah dicerna.

Akibatnya, adanya gas yang berlebihan atau kram pada perut yang membuatnya rewel. Gejala dari keduanya dapat terjadi ketika si kecil mulai kenyang, termasuk juga saat diberi susu formula atau menyusui. Jika curiga anak mengalami hal ini, maka segera konsultasikan kondisinya dengan dokter spesialis alergi.

Baca juga : Tisu Basah Ternyata Bisa Picu Alergi pada Anak

Ruam

Ruam merupakan tanda yang biasanya timbul pertama. Beberapa bayi yang baru lahir memiliki jerawat kecil di wajah. Namun, berbeda lagi dengan eksim, yang merupakan ruam wajah yang menyebar secara luas, berwarna merah, bersisik, dan gatal. Setelah timbul di wajah, akan timbul pada bagian lengan, kaki, lipatan lutut, bahkan pada siku.

Untuk mengatasinya, mandikan bayi dengan sabun hypoallergenic dan gunakan pelembab tanpa aroma. Jika tak kunjung mereda, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Nantinya dokter akan memberikan obat topikal dan antihistamin untuk menyembuhkan dan mengontrol gatal.

Batuk berkepanjangan

Asma merupakan salah satu bentuk alergi yang menyebabkan peradangan di saluran napas. Ditandai dengan timbulnya batuk mengi atau berbunyi dan sesak napas. Bayi yang memiliki alergi eksim dan makanan lebih mungkin terkena asma.

Biasanya gejalanya tidak disebabkan oleh pilek atau virus. Tetapi timbul batuk berbunyi terus menerus dan tak kunjung sembuh. Jangan tunda untuk memeriksakannya ke dokter.

Alergi Kian Memburuk di Malam Hari? Mungkin Ini Penyebabnya

Alergi Kian Memburuk di Malam Hari? Mungkin Ini Penyebabnya,- Alergi yang terus kambuh dan semakin memburuk di malam hari tentu akan sangat mengganggu penderitanya. Waktu tidur penderita pasti akan terganggu dengan timbulnya berbagai gejala alergi, seperti kulit kemerahan dan gatal, batuk, dan gejala alergi lainnya.

Layaknya sesuatu yang datang tiba-tiba, alergi juga bisa semakin menjadi pada waktu yang tak terduga, misalnya saat hendak tidur di malam hari. Berdasarkan penjelasan Purvi Parikh, ahli alergi dan imunologi dari Allergy & Asthma Network dan Allergy & Asthma Associates Murray Hill, New York, yang dilansir dari TIME, ada beberapa faktor-faktor penyebab alergi kian memburuk di malam hari, diantaranya adalah :

Faktor pikiran

Saat Anda sibuk di siang hari, Anda mungkin melupakan alergi dan merasa sedikit lebih baik. Namun, ketika Anda berbaring di tempat tidur dan sudah tidak memikirkan apa-apa, maka gejala alergi bisa saja muncul dan terasa semakin memburuk.

Maka dari itu, malam hari adalah saat yang tepat untuk mencoba obat alergi tanpa resep. Anda bisa menggunakan obat seperti antihistamin untuk meminimalisir efek buruk dari alergi.

Antihistamin akan bekerja lebih baik jika digunakan sebelum Anda merasakan gejala-gejala aelrgi. Jika digunakan secara teratur, maka antihistamin bisa membentuk perlindungan dalam darah untuk melawan alergen dan pelepasan histamin. Namun, Anda tetap perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsinya.

Berbaring tanpa menggunakan penyangga kepala

Ketika Anda berbaring, pada dasarnya segala sesuatu di hidung akan mulai mengalir ke tenggorokan. Mengingat anatomi hidung dan tenggorokan yang berdekatan, hal itu dapat menyebabkan batuk dan kesulitan bernapas karena hidung mampet.

Alergi bisa menjadi semakin parah jika hal tersebut terjadi. Oleh karena itu, gunakan beberapa bantal tambahan untuk membantu mengganjal kepala, dan mengurangi sesak napas karena saluran pernapasan tersumbat.

Kamar tidur kotor

Alergi bisa menjadi kian buruk di malam hari karena kondisi kebersihan kamar yang tak terjaga. Menurut Parikh, benda-benda seperti jamur, debu, hingga tungay dapat memicu alergi secara responsif. Selain itu, David Rosentreich, salah satu direktur dari Albert Einstein College of Medicine and Montefiore Medical Center di New York, memberikan fakta soal kamar yang tak pernah di duga sebelumnya.

Menurutnya, kamar tidur cenderung menjadi bagian yang paling sering menjadi alergen dibandingkan dengan bagian rumah lainnya. Alergi yang Anda hadapi di luar, ditambah dengan kondisi kamar yang kotor, bisa membuat gejala menjadi lebih buruk.

Perhatikan kebersihan sekitar seperti kasur, dinding dan lantai. Anda juga harus memeriksa kipas angin atau pendingin ruangan secara rutin, karena siapa tahu kondisinya kotor.

Jangan lupa juga untuk tidur dengan jendela tertutup untuk meminimalisir masuknya benda-benda seperti debu, serbuk sari, dan kuman-kuman dari jalanan yang nantinya bakal mengendap di kamar.

Gejala Alergi Selain Bercak Merah yang Perlu Diketahui

Gejala Alergi Selain Bercak Merah yang Perlu Diketahui,- Menghindari makanan tertentu merupakan salah satu cara yang banyak dilakukan banyak orang untuk mencegah timbulnya alergi. Namun, sebuah penelitian etrbaru mengungkapkan jika tanpa disadari hampir setengah dari orang-orang dengan alergi makanan terus mengembangkannya saat dewasa.

Buruknya lagi, reaksi alergi semakin umum atau mungkin dapat membawa risiko tak terduga dalam beberapa saat setelah mengonsumsi makanan tertentu.

Memang cukup sulit untuk mengetahui mengenai bagaimana dan mengapa alergi dapat berkembang ketika dewasa, bahkan Anda dapat alergi terhadap makanan yang sbelumnya tidak pernah Anda alami.

Selain kulit, reaksi alergi bisa memengaruhi beberapa bagian tubuh lainnya seperti sistem pernapasan, saluran pencernaan, dan bahkan jantung, tergantung dari mana tubuh melepaskan antibodi dan histamin yang melawan alergi.

Berikut ini merupakan gejala alergi selain bercak merah yang perlu diketahui dan diwaspadai, yaitu :

*) Denyut nadi melemah

Dalam beberapa kasus, alergi makanan tidak hanya menyerang kulit. Perubahan tekanan darah seperti penurunan denyut nadi atau menjadi lemah mendadak, juga bisa termasuk reaksi alergi.

*) Dada terasa kencang

Jika Anda mengalami kesulitan menelan makanan atau memiliki rasa sakit di dada, maka kemungkinan Anda mengalami esofagitis eosinofilik. Sederhananya, alergen (zat penyebab alaergi) yang berupa makanan dapat memicu respons kekebalan yang mengirimkan sejumlah besar sel darah putih ke kerongkongan dan membuatnya meradang, terasa kencang atau seperti ada makanan yang menyangkut di tengorokan.

*) Kulit menjadi aneh

Kulit terasa gatal dan disertai dengan kulit pecah-pecaha atu eksim yang parah sehingga menyebabkan bercak merah dan bengkak di kulit tangan, kaki atau persendia, bisa jadi termasuk gejala alergi. Selain itu, Anda juga paerlu memperhatikan makanan yang dikonsumsi jika terjadi bintik merah, bengkak, atau gatal terutama di sekitar mulut.

*) Masalah saat buang air besar

Jika makanan yang dikonsumsi memicu mual, sakit perut, atau keinginan buang air besar, maka jangan langsung menduganya sebagai keracunan makanan atau intoleransi laktosa, terlebih ketika mengonsumsi makanan tertentu. Karena ini bisa jadi dikarenakan alergi makanan.

Disini memang seringkali sulit untuk mengetahui apakah Anda mengalami intoleransi makanan atau masalah lainnya. Pasalnya tidak seperti alergi, intoleransi makanan bukanlah respon dan umumnya membawa gejala yang kurang serius.

*) Masalah di bagian mulut

Alergi juga bisa menyebabkan mulut terasa batal atau batuk kering ringan. Ini biasanya terjadi karena alergi buah-buahan atau sayuran, uang memiliki protein seperti serbuk sari. Rasa gatal biasanya terbatas pada mulut dan hilang beberapa menit setelah menelan makanan.

Baca juga :

Cara Alternatif Mengatasi Alergi dengan Pengobatan Mandiri
Solusi Obat Ruam di Wajah Karena Alergi

Bawang Putih Ternyata Bisa Sebabkan Alergi, Ini Penyebabnya

Bawang Putih Ternyata Bisa Sebabkan Alergi, Ini Penyebabnya,- Makanan merupakan salah satu penyebab alergi yang cukup sering. Tidak sedikit orang yang mengalami alergi setelah mengonsumsi beberapa jenis makanan tertentu, seperti telur, ikan, kacang, atau makanan lainnya. Namun, selain itu, ternyata ada pula yang mengalami alergi terhadap bawang putih.

Bawang putih biasanya digunakan sebagai salah satu bumbu masakan dan juga diketahui memiliki manfaat sebagai obat herbal yang efektif. Namun, siapa sangka ternyata bawang putih ini dapat memicu timbulnya alergi. Alergi bawang putih sendiri disebabkan oleh enzim khusus yang terkandung dalam bawang putih.

Alergi biasanya disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang bereaksi secara berlebihan terhadap zat yang dianggap berbahaya bagi tubuh. Alergi bawang putih diduga disebabkan oleh enzim alliin lyase yang ada didalam bawang putih. Pernyataan ini didukung oleh sebuah studi yang diterbitkan alam Journal of Allergy and Clinical Immunology pada tahun 2004.

Ketika sistem imun gagal pahan dan menduga bahwa enzim tersebut membahayakan nyawa si pemilik tubuh, kemudian imun akan mulai menyerang balik dengan memproduksi antibodi yang pada akhirnya menimbulkan serangkaian gejala alergi.

Dalam beberapa kasus yang dilaporkan, terdapat sebagian orang yang alergi terhadap bawang putih mentah namun tidak alergi terhadap bawnag putih yang sudah dimasak. Para ahlimenyimpulkan bahwa hal ini bisa saja mengindikasikan protein dalam bawang putih yang mentah ataupun matang dapat memicu timbulnya alergi dan rasa panas pada pencernaan tubuh.

Baca juga :

Obat Alergi Bibir Gatal dan Tebal
Penyakit Angiodema pada Kulit
Mitos dan Fakta Alergi Makanan

Gejala yang biasa timbul pada penderita alergi bawang putih diantaranya berupa kulit ruam kemerahan gatal bertekstur kering mengelupas, yang jika digaruk berlebihan akan meninggalkan bekas luka. Gejala alergi bawang putih juga bisa termasuk pilek, bersin, batuk, mengi, dan sesak napas.

Terkadang alergi juga menimbulkan rasa gatal yang disertai dengan kondisi bengkak. Bengkak yang timbul akibat alergi ini umumnya terjadi pada bagian wajah, bibir, mulut, lidah dan tenggorokan sebagai reaksi terhadap paparan bawang putih. Terkadang pembengkakan bisa sangat parah sehingga mempengaruhi kemampuan seseorang untuk bernapas. Hal ini bisa menyebabkan mengi, pusing, dan bahkan pingsan karena tubuh kekurangan oksigen.

Menurut Journal of American Medical Association, reaksi alergi terhadap bawnag putih juga bisa berdampak pada saluran pencernaan. Reaksinya bisa berupa muntah, sakit perut serta kram, hingga diare dan mual. Gejala ini biasanya terjadi dalam beberapa menit setelah mengonsumsi makanan yang mengandung bawang putih.

Pada kasus yang langka, alergi ini bisa menimbulkan syok anafilaktik yang mengancam nyawa. Gejala anafilaktik ini termasuk penurunan tekanan darah, sulit bernapas karena penyempitan saluran udara, peningkatan denyut nadi, pusing, dan kehilangan kesadaran.

Mengenali Gejala Alergi Pembalut yang Perlu Diwaspadai

Mengenali Gejala Alergi Pembalut yang Perlu Diwaspadai,- Penggunaan pembalut atau tampon sudah menjadi suatu keharusan saat haid. Kedua benda ini berfungsi untuk menyerap darah haid sekaligus menjaga kebersihkan daerah kewanitaan pada saat haid.

Namun, sayangnya tidak semua wanita bisa menggunakan pembalut. Terdapat beberapa wanita yang mengalami reaksi alergi setelah menggunakan pembalut. Alergi merupakan suatu gambaran perubahan reaksi tubuh seseorang terhadap lingkungan yang berhubungan dengan gangguan pada mekanisme sistem kekebalan tubuh (imunitas). Seorang penderita alergi memiliki bakat sensitif atau rentan terhadap zat-zat tertentu.

Pada dasarnya pembalut sudah dibuat seaman dan senyaman mungkin untuk digunakan. Sebelum dipasarkan, tentunya proses pembuatannya sendiri sudah melalui serangkaian penelitian dan uji coba yang panjang. Meskipun demikian, tetap saja terdapat beberapa zat yang ada didalam pembalut, seperti pewangi, pewarna, bahan perekat, pengawet, pelembut, dan sebagainya bisa menimbulkan efek negatif pada tubuh. Pasalnya tidak semua wanita bisa tahan terhadap zat-zat tersebut.

Bagi mereka yang memiliki alergi, pewangi pada pembalut bisa menjadi salah satu sumber alergi ataupun iritasi yang paling banyak ditemukan. Selain itu, perekat yang ada pada pembalut dan tampon, yang bersentuhan dengan kulit, juga bisa menimbulkan alergi. Beberapa gejala alergi pembalut yang bisa timbul diantaranya adalah :

  • Adanya kemerahan dan peradangan
  • Gatal di sekitar organ kewanitaan yang dapat menjalar hingga ke daerah sekeliling anus
  • Terasa nyeri yang terkadang disertai dengan perasaan terbakar atau tidak nyaman
  • Keluarnya cairan yang agak keruh dan berbau tidak sedap
  • Dapat disertai dengan gejala sistemik berupa pusing dan lemas

Setiap gejala yang ditimbulkan harus disertai dengan riwayat yang jelas. Hal ini disebabkan karena peradangan atau keluhan pada organ kewanitaan dapat juga ditimbulkan oleh adanya infeksi. Infeksi bsia terjadi jika organ kewanitaan tidak terjaga kebersihannya ketika menstruasi, atau juga dapat berkaitan dengan adanya penyakit lain yang dialaminya.

Alergi yang timbul akibat penggunaan pembalut dan tampon disebut sebagai dermatitis kontak, dimana reaksi alergi ini dapat hilang jika sudah dijauhkan dan dihindarkan dari pencetus alergi tersebut. Namun, selain itu Anda juga bisa mengobati alergi pembalut dengan mengonsumsi obat alergi pembalut yang telah direkomendasikan dan memiliki khasiat serta manfaat efektif dan juga aman.

Untuk menghindari alergi pembalut dan tampon, sebaiknya selalu cuci tangan dengan bersih jika akan menyentuh daerah kewanitaan, atau ketika akan menggunakan pembalut atau tampon.

Gejala yang Timbul pada Penderita Alergi Kondom

Gejala yang Timbul pada Penderita Alergi Kondom,- Selain untuk mengontrol kehamilan, penggunaan kondom juga merupakan salah satu cara terbaik untuk mengurangi risiko penularan penyakit menular seksual (PMS). Namun, sayangnya tidak semua orang bisa menggunakan kondom, pasalnya ada sebgian orang yang akan mengalami reaksi alergi jika bersentuhan dengan kondom.

Alergi kondom biasanya disebabkan oleh karet lateks, pelumas yang digunakan pada kondom, atau bahkan keduanya. Reaksi alergi ini dapat terjadi hanya dalam beberapa menit setelah kontak dengan kondom atau setelah beberapa jam kemudian.

Gejala yang ditimbulkan oleh alergi kondom bisa berbeda pada setiap orang, tergantung dengan sistem kekebalan tubuh yang dimilikinya. Namun, berikut ini merupakan beberapa gejala yang timbul pada penderita alergi kondom yang umum terjadi, diantaranya adalah :

Panas

Ketika mengalami alergi kondom, kulit bisa terasa panas yang menyiksa seperti terbakar. Ini merupakan reaksi alergi yang cukup parah dan memerlukan waktu untuk penyembuhannya. Terlebih lahi kulit di area vital biasanya sensitif dan mudah bereaksi terhadap alergen.

Gatal

Rasa gatal dapat terjadi setelah penggunaan alat kontrasepsi dari lateks tersebut, terkadang juga disertai dengan merah, dan ruam. Reaksi alergi tersebut memang tidak langsung timbul, namun bisa timbul setelah 5-10 menit setelah pemakaian.

Melepuh

Setelah mengalami gatal dan panas, kulit juga bisa melepuh sama seperti luka bakar. Jika hal tersebut terjadi, segera hubungi pihak medis untuk mendapatkan penanganan. Namun, kondisi ini juga bisa sembuh tanpa penanganan medis, asalka tidak banyak disentuh. Anda juga bisa menggunakan salep untuk mendinginkan dan menghilangkan reaksi alergi yang timbul.

Sesak napas

Jika alergi sampai masuk ke dalam aliran darah, maka Anda bisa saja mengalami sesak nafas. Racun lateks yang direspon negarif oleh tubuh akan menyebabkan pembengkakan di saluran pernapasan. Bahkan bisa menghalangi aliran darah dan mengganggu pasokan oksigen ke seluruh tubuh, teramsuk ke jantung.

Gejala alergi kondom terkadang hampir mirip dengan infeksi jamur yang menyerang kelamin, namun bedanya alergi kondom biasanya tidak menyebabakn keluarnya cairan dari vagina.

Artikel terkait :

Solusi Bagi Penderita Alergi Kondom Lateks
Cara Mengobati Alergi Lateks

Memahami Gejala dan Cara Mendiagnosa Alergi Lateks

Memahami Gejala dan Cara Mendiagnosa Alergi Lateks,- Tidak sedikit orang yang sering merasakan reaksi alergi, seperti gatal-gatal pada kulit setelah bersentuhan dengan benda-benda yang terbuat dari bahan dasar lateks. Lateks disini mengacu pada lateks karet alam, yaitu produk yang dibuat dari cairan getah yang berasal dari pohon karet, Hevea brasiliensis. Beberapa jenis karet sintetis juga disebut sebagai lateks, namun ia tidak melepaskan protein yang menimbulkan reaksi alergi.

Lateks alam sering digunakan sebagai bahan pembuat berbagai produk, seperti sarung tangan karet, karet gelang, dot, sol sepatu, balon, mainan karet, popok seklai pakai, pembalut, penghapus pensil, kondom, botol air, dan barang-barang lainnya yang bahkan sering kita gunakan sehari-hari.

Pada sebagian individu, lateks ini bisa menimbulkan beberapa gejala atau reaksi alergi yang disebut dengan alergi lateks. ALergi lateks sendiri merupakan reaksi terhadap protein tertentu dalam karet lateks. Jumlah paparan lateks yang diperlukan untuk menghasilkan sensitisasi atau reaksi alergi tidak diketahui. Meningkatkan paparan protein lateks juga dapat meningkatkan risiko mengalami gejala alergi.

Mengetahui dan memahami gejala dan cara mendiagnosa alergi lateks bisa membantu Anda untuk menghindari perkembangan alergi lateks agar tidak semakin parah. Untuk mengetahui informasi lengkapnya, silahkan simak penjelasan di bawah ini !

Memahami Gejala Alergi Lateks

Sensitivitas terhadap lateks bisa timbul baik disebabakn oleh kontak langsung ataupun dengan menghirup partikel lateks dari udara. Gejalanya pun bisa terjadi ringan hingga berat, tergantung pada jenis alergi yang terjadi.

Pada orang yang peka, biasanya gejala akan mulai timbul dalam beberapa menit setelah pemaparan, tetapi gejala juga dapat terjadi beberapa jam kemudian dan dapat cukup bervariasi. Gejala alergi lateks juga akan bervariasi pada setiap individu.

Reaksi ringan terhadap lateks bisa menimbulkan kulit kemerahan, ruam, gatal-gatal, atau bercak merah. Reaksi yang lebih parah mungkin melibatkan gejala pada pernafasan, seperti pilek, bersin, mata gatal, gatal tenggorokan, dan asma (sesak nafas, batuk, dan mengi). Shock juga dapat terjadi meskipun kasusnya jarang. Reaksi yangmenganam nyawa dapat menjadi tanda pertama dari alergi lateks, namun jarang.

Cara Mendiagnosa Alergi Lateks

Untuk mengetahui atau mendiagnosa alergi lateks sendiri, terdapat 2 tes yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan melakukan tes pada kulit dan yang lain adalah melalui tes darah. Tes darah merupakan salah satu pilihan, karena dapat lebih cermat untuk diketahui pada beberapa orang. Selain itu, alergi lateks juga bisa didiagnosa dengan bantuan tes patch, dan RAST atau Radio-Allergo-Sorbent-Test.

Mereka yang bekerja pada industri karet lebih rentan mengalami alegi lateks, hal ini disebabkan karena mereka akan sering terkena lateks dan produk-produknya dalam jangka waktu yang lama. Beberapa anak dengan myelomenongocele dan orang-orang yang telah menjalani prosedur bedah banyak juga rentan terhadap alergi ini.

Walaupun obat alergi lateks bisa meringankan gejala, namun belum ada obat atau metode pengobatan yang bisa menyembuhkan alergi lateks sepenuhnya. Satu-satunya cara terbaik untuk menghindari timbulnya alergi lateks adalah dengan menjauhi atau menghindari penyebab alergi lateks itu sendiri, seperti produk yang mengandung lateks.

Orang yang mengalami alergi lateks berisiko mengalami alergi pula terhadap buah-buahan tertentu, seperti pisang, stroberi, nanas, buah kiwi, markisa, dan alpukat. Hal tersebut disebabkan karena buah-buahan tersebut mengadnung alergen yang sama seperti yang ditemukan pada lateks.